Rupiah diprediksi tembus Rp13.000 di tahun politik
Minggu, 15 Desember 2013 - 10:21 WIB
Rupiah diprediksi tembus Rp13.000 di tahun politik
A
A
A
Sindonews.com - Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, nilai mata uang rupiah pada tahun depan diprediksi berpeluang menembus angka Rp13.000 per USD.
"Tahun 2014 Indonesia masih dihadapkan masalah pengurangan stimulus moneter AS (tapering off). Secara bersamaan ada momen Pemilu yang juga bakal memengaruhi nilai tukar rupiah," kata dia ketika dihubungi Sindonews di Jakarta, Minggu (15/12/2013).
Dia menjelaskan, Indonesia sudah melakukan persiapan menghadapi tapering off yang sudah lama berhembus di banyak negara-negara berkembang, namun tidak dipersiapkan untuk mengantisipasi pengaruh politik.
"Tidak hanya tapering off, kalau variabel politik ini terjadi lebih cepat rupiah bukan tak mungkin menembus Rp 13.000 per USD," prediksi dia.
Menurut Enny, antisipasi yang bisa dilakukan Indonesia untuk menahan kejatuhan rupiah adalah dengan menangani defisit, baik neraca berjalan maupun perdagangan dan lainnya. Kalau hal itu tidak bisa ditangani, menurut dia, fluktuasi nilai tukar rupiah akan semakin tinggi di tahun politik.
"Jadi ada penyebab fundamental, yakni defisit dan ada penyebab politik. Jadi ini yang membuat semakin pelik," ujar dia.
Pada Jumat (13/12/2013), nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg tenggelam ke level Rp12.106/USD. Posisi ini terdepresiasi 83 poin dibanding penutupan Kamis (12/12/2013) di level Rp12.023/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI hari Jumat di level Rp12.081/USD atau melemah 56 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp12.025/USD.
"Tahun 2014 Indonesia masih dihadapkan masalah pengurangan stimulus moneter AS (tapering off). Secara bersamaan ada momen Pemilu yang juga bakal memengaruhi nilai tukar rupiah," kata dia ketika dihubungi Sindonews di Jakarta, Minggu (15/12/2013).
Dia menjelaskan, Indonesia sudah melakukan persiapan menghadapi tapering off yang sudah lama berhembus di banyak negara-negara berkembang, namun tidak dipersiapkan untuk mengantisipasi pengaruh politik.
"Tidak hanya tapering off, kalau variabel politik ini terjadi lebih cepat rupiah bukan tak mungkin menembus Rp 13.000 per USD," prediksi dia.
Menurut Enny, antisipasi yang bisa dilakukan Indonesia untuk menahan kejatuhan rupiah adalah dengan menangani defisit, baik neraca berjalan maupun perdagangan dan lainnya. Kalau hal itu tidak bisa ditangani, menurut dia, fluktuasi nilai tukar rupiah akan semakin tinggi di tahun politik.
"Jadi ada penyebab fundamental, yakni defisit dan ada penyebab politik. Jadi ini yang membuat semakin pelik," ujar dia.
Pada Jumat (13/12/2013), nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg tenggelam ke level Rp12.106/USD. Posisi ini terdepresiasi 83 poin dibanding penutupan Kamis (12/12/2013) di level Rp12.023/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI hari Jumat di level Rp12.081/USD atau melemah 56 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp12.025/USD.
(rna)