Produksi minyak RI akan habis dalam 12 tahun
Senin, 16 Desember 2013 - 18:28 WIB
Produksi minyak RI akan habis dalam 12 tahun
A
A
A
Sindonews.com - Wakil Direktur ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro memproyeksikan, dalam waktu 12 tahun ke depan cadangan minyak nasional akan habis. Sementara untuk gas akan habis dalam waktu 42 tahun ke depan.
“Saat ini Indonesia berada di posisi 28 setara 0,2 persen dari cadangan minyak dunia,” katanya dalam acara diskusi Pertamina Energy Outlook 2014, di Jakarta, Senin (16/12/2013).
Hal ini, lanjut Komaidi, merupakan lampu kuning bagi pemerintah untuk waspada dan segera serius mewujudkan pengembangan energi alternatif lainnya selain energi fosil. Selama bertahun-tahun sektor migas menjadi tumpuan utaman dalam pembiayaan APBN.
Di era reformasi kini, sektor migas berkontribusi sebanyak 25 persen terhadap total penerimaan negara. “Melihat ini, relatif tidak ada ruang gerak re-investasi dari penerimaan sektor minyak dan gas,” ujarnya.
Dia menyebut, sektor migas tahun 2012 menyumbang defisit terbesar pada neraca perdagangan sebesar USD19,775. Pada periode yang sama, nilai eskpor migas mencapai USD17,927, sedangkan impor sebesar USD37,702.
Sebelumnya diberitakan, Direktur Pertamina Hulu Energi (PHE), Muhamad Husen mengatakan, bahwa cadangan minyak dan gas (migas) Indonesia berada di ujung tanduk. Hal ini akan menimbulkan kekhawatiran dikarenakan Indonesia masih mengandalkan Blok Cepu untuk memproduksi migas.
"Setelah Blok Cepu itu, kita tidak ada lapangan minyak lagi, 10 tahun yang akan datang bagaimana," ucapnya di Ritz Carlton Pascific Place, Jakarta, Senin (16/12/2013).
Menurutnya, jika Pertamina terus melakukan impor kurang dari USD100 juta untuk memenuhi kebutuhan migas dalam negeri, maka apakah selama itu APBN dapat menyanggupi aksi impor migas tersebut. "USD100 juta kebutuhan impor, apakah APBN kita akan kuat nanti, makanya kita harus memikirkan hal itu," ujarnya.
“Saat ini Indonesia berada di posisi 28 setara 0,2 persen dari cadangan minyak dunia,” katanya dalam acara diskusi Pertamina Energy Outlook 2014, di Jakarta, Senin (16/12/2013).
Hal ini, lanjut Komaidi, merupakan lampu kuning bagi pemerintah untuk waspada dan segera serius mewujudkan pengembangan energi alternatif lainnya selain energi fosil. Selama bertahun-tahun sektor migas menjadi tumpuan utaman dalam pembiayaan APBN.
Di era reformasi kini, sektor migas berkontribusi sebanyak 25 persen terhadap total penerimaan negara. “Melihat ini, relatif tidak ada ruang gerak re-investasi dari penerimaan sektor minyak dan gas,” ujarnya.
Dia menyebut, sektor migas tahun 2012 menyumbang defisit terbesar pada neraca perdagangan sebesar USD19,775. Pada periode yang sama, nilai eskpor migas mencapai USD17,927, sedangkan impor sebesar USD37,702.
Sebelumnya diberitakan, Direktur Pertamina Hulu Energi (PHE), Muhamad Husen mengatakan, bahwa cadangan minyak dan gas (migas) Indonesia berada di ujung tanduk. Hal ini akan menimbulkan kekhawatiran dikarenakan Indonesia masih mengandalkan Blok Cepu untuk memproduksi migas.
"Setelah Blok Cepu itu, kita tidak ada lapangan minyak lagi, 10 tahun yang akan datang bagaimana," ucapnya di Ritz Carlton Pascific Place, Jakarta, Senin (16/12/2013).
Menurutnya, jika Pertamina terus melakukan impor kurang dari USD100 juta untuk memenuhi kebutuhan migas dalam negeri, maka apakah selama itu APBN dapat menyanggupi aksi impor migas tersebut. "USD100 juta kebutuhan impor, apakah APBN kita akan kuat nanti, makanya kita harus memikirkan hal itu," ujarnya.
(gpr)
Lihat Juga :