DPR desak renegosiasi kontrak tambang dipercepat

Senin, 06 Januari 2014 - 14:44 WIB
DPR desak renegosiasi...
DPR desak renegosiasi kontrak tambang dipercepat
A A A
Sindonews.com - Anggota Komisi V DPR dari Fraksi PKB, Marwan Jafar mengatakan, Indonesia mempunyai cadangan gas yang cukup besar. Ada sumber gas Tangguh di Teluk Bintuni Papua Barat, salah satu sumber gas terbesar di dunia.

Diperkirakan akan mencapai ratusan tahun lamanya jika di eksplorasi. Selain itu, ada potensi gas Lapangan Abadi di Blok Masela Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku, yang diperkirakan bisa menghasilkan minyak dan gas lebih besar dari Lapangan Tangguh.

"Kemudian ada West Madura Offshore (WMO) yang kapasitas produksi minyak dan gasnya dari tahun ke tahun selalu meningkat. PT Arun Natural Gas Liquefaction, yang melakukan eksplorasi sumber gas di Arun, Aceh, dan lain-lain," kata dia dalam rilisnya, Senin (6/1/2014).

Anehnya, harga gas di Indonesia masih tinggi dibanding dengan negara lain. Padahal, Indonesia adalah pemasok gas terbesar dunia. Seharusnya, Indonesia lebih murah karena dipasok dari dalam negeri.

Karena itu, Marwan mendesak pemerintah untuk melakukan beberapa hal. Pertama, secepatnya menyelesaikan renegosiasi kontrak di bidang pertambangan yang merugikan negara dan rakyat.

"Karena, itu amanat UU No 4/2009 tentangan Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba) yang hingga kini sebagian pembahasan masih cukup alot," katanya.

Kedua, lanjut Marwan, targetnya harus bisa meningkatkan royalti untuk pemerintah, adanya tarnsparansi pengelolaan tambang, dan adanya batasan mengenai luas area yang tidak merugikan pemerintah.

Ketiga, harus dilakukan audit oleh lembaga independen terhadap perusahaan pertambangan di Indonesia untuk mengetahui kapasitas produksi gas dalam negeri secara riil.

Keempat, harus dilakukan audit terhadap kebutuhan gas dalam negeri untuk meminimalisir manipulasi dan penyelewengan oleh oknum tertentu. Kelima, harus mendahulukan kebutuhan gas dalam negeri daripada mengekspor gas, sementara dalam negeri mengalami kekurangan.

"Keenam atau terakhir, harus ada kebijakan yang komprehensif mengenai gas karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Jangan sampai ada kelangkaan gas sedangkan produksi gas kita melimpah," pungkas dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BUMA Australia Raih...
BUMA Australia Raih Perpanjangan Kontrak Tambang Blackwater hingga 2030
BUMA Australia Peroleh...
BUMA Australia Peroleh Kontrak Jasa Tambang Saraji Senilai Rp598,7 Miliar
DOID Raih Kontrak Tambang...
DOID Raih Kontrak Tambang Baru di Australia Rp3,22 Triliun
Respons Freeport Indonesia...
Respons Freeport Indonesia Saat Dapat Sinyal Perpanjangan Kontrak Tambang Usai 2041
Kecelakaan Tambang Emas...
Kecelakaan Tambang Emas di Zimbabwe, 13 Penambang Tewas dan 34 Orang Masih Terjebak
Freeport Minta Perpanjangan...
Freeport Minta Perpanjangan Kontrak Tambang Meski 2041 Masih Lama, Begini Kata Menteri ESDM
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
7 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
8 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
9 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
11 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
11 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
11 jam yang lalu
Infografis
Riwayat Pendidikan Ahmad...
Riwayat Pendidikan Ahmad Sahroni, Anggota DPR yang Jadi Sorotan Publik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved