Jelang AFTA 2015, pengusaha konstruksi Bali surut
Minggu, 12 Januari 2014 - 17:26 WIB
Jelang AFTA 2015, pengusaha konstruksi Bali surut
A
A
A
Sindonews.com - Menjelang era perdagangan bebas dan Asian Free Trade Area (AFTA) 2015 justru banyak pengusaha jasa konstruksi di Bali mulai surut karena beralih ke sektor jasa lainnya.
Ketua Badan Pimpinan Daerah (BPD) Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Bali Wayan Adnyana menyebutkan, sejak beberapa tahun terakhir jumlah anggotanya terus berkurang.
Dalam amatannya, mulai rontoknya pengusaha jasa konstruksi itu tak lepas semakin banyaknya proyek-proyek besar di bidang infrastruktur yang masuk ke Bali, sehingga mereka yang tidak mampu berkompetisi akhirnya tersingir.
Selain itu, seiring regulasi dan iklim investasi baru, di mana arus invetasi tidak terbendung sehingga tidak lagi bisa membatasi pengerjaan proyek di kabupaten dan provinsi.
Menurut dia, sekarang tidak ada pembatasan pangsa pasar untuk skala kecil di kabupaten, menengah di tingkat provinsi dan besar di tingkat pusat.
"Saat ini, semua membuka diri. Indonesia siap masuk dalam persaingan global. Kita tidak lagi bisa membatasi dan siapa saja bisa ikut pelelangan," kata Adnyana di sela gerak jalan dan donor darah dalam rangka Munas dan HUT ke-55 Gapensi di Lapangan Renon, Denpasar, Minggu (12/1/2014).
Dia mengakui, pengusaha lokal jauh dari sisi kualitas dalam berkompetisi di pasar, sehingga yang bisa menikmati proyek infrastruktur dan mampu bertahan adalah pengusaha besar dan menengah.
Tak heran jika kemudian pembangunan infrastrktur dan swasta lainnya yang masuk ke Bali dari kalangan pengusaha besar dan menengah, baik nasional maupun asing.
Hal itu menjadi keprihatinan Gepensi Bali, sehingga pihaknya terus mendorong anggotanya untuk meningkatkan profeisonalisme dan kemampuannya agar ke depan diharapkan mereka bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Dia menyebut, saat ini jumlah pengusaha besar menengah di Bali sekitar 11 persen dari total anggota Gapensi sebanyak 884 pengusaha.
"Jumlah itu data terakhir di tahun 2012, terus mengalami penurunan dalam duaa tahun ini yang sebelumnya sempat mencapai 2.000 anggota," ungkap dia.
Selain itu, berkurangnya jumlah pengusaha konstruksi beralih ke sektor jasa lainnya karena sebelumnya banyak anggota pengusaha memiliki lebih dari satu perusahaan di beberapa kabupaten.
Seiring iklim keterbukaan juga, kata dia, mereka banyak mengurangi perusahaannya menjadi rata-rata tinggal satu dan fokus pada satu perusahan saja yang berbasis di satu kabupaten kota untuk dapat mengikuti pelelangan.
Ketua Badan Pimpinan Daerah (BPD) Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Bali Wayan Adnyana menyebutkan, sejak beberapa tahun terakhir jumlah anggotanya terus berkurang.
Dalam amatannya, mulai rontoknya pengusaha jasa konstruksi itu tak lepas semakin banyaknya proyek-proyek besar di bidang infrastruktur yang masuk ke Bali, sehingga mereka yang tidak mampu berkompetisi akhirnya tersingir.
Selain itu, seiring regulasi dan iklim investasi baru, di mana arus invetasi tidak terbendung sehingga tidak lagi bisa membatasi pengerjaan proyek di kabupaten dan provinsi.
Menurut dia, sekarang tidak ada pembatasan pangsa pasar untuk skala kecil di kabupaten, menengah di tingkat provinsi dan besar di tingkat pusat.
"Saat ini, semua membuka diri. Indonesia siap masuk dalam persaingan global. Kita tidak lagi bisa membatasi dan siapa saja bisa ikut pelelangan," kata Adnyana di sela gerak jalan dan donor darah dalam rangka Munas dan HUT ke-55 Gapensi di Lapangan Renon, Denpasar, Minggu (12/1/2014).
Dia mengakui, pengusaha lokal jauh dari sisi kualitas dalam berkompetisi di pasar, sehingga yang bisa menikmati proyek infrastruktur dan mampu bertahan adalah pengusaha besar dan menengah.
Tak heran jika kemudian pembangunan infrastrktur dan swasta lainnya yang masuk ke Bali dari kalangan pengusaha besar dan menengah, baik nasional maupun asing.
Hal itu menjadi keprihatinan Gepensi Bali, sehingga pihaknya terus mendorong anggotanya untuk meningkatkan profeisonalisme dan kemampuannya agar ke depan diharapkan mereka bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Dia menyebut, saat ini jumlah pengusaha besar menengah di Bali sekitar 11 persen dari total anggota Gapensi sebanyak 884 pengusaha.
"Jumlah itu data terakhir di tahun 2012, terus mengalami penurunan dalam duaa tahun ini yang sebelumnya sempat mencapai 2.000 anggota," ungkap dia.
Selain itu, berkurangnya jumlah pengusaha konstruksi beralih ke sektor jasa lainnya karena sebelumnya banyak anggota pengusaha memiliki lebih dari satu perusahaan di beberapa kabupaten.
Seiring iklim keterbukaan juga, kata dia, mereka banyak mengurangi perusahaannya menjadi rata-rata tinggal satu dan fokus pada satu perusahan saja yang berbasis di satu kabupaten kota untuk dapat mengikuti pelelangan.
(rna)
Lihat Juga :