Ini penyebab pemborosan pemerintah versi Golkar

Sabtu, 25 Januari 2014 - 15:27 WIB
Ini penyebab pemborosan...
Ini penyebab pemborosan pemerintah versi Golkar
A A A
Sindonews.com - Pemerintah pusat didesak menghentikan pemborosan uang negara melalui pembayaran commitment fee utang. Pasalnya, akibat tak mampu menyerap utangnya, pemerintah harus membayar commitment fee Rp378,02 miliar pada 2013.

Data Kementerian Keuangan mencatat, utang luar negeri pemerintah tahun lalu membengkak hingga Rp2.371,39 triliun. Angka ini melonjak hingga Rp171 triliun dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan (APBN-P) 2013 sebesar Rp2.200 triliun, khususnya untuk pembiayaan proyek-proyek pemerintah.

Melihat fakta itu, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Harry Azhar Azis mengatakan, pemerintah pada tahun lalu menggunakan banyak anggaran untuk utang dan pembayaran commitment fee.

“Kami mendesak pemerintah untuk segera menghentikan pemborosan uang negara, mulai tahun 2014 ini dan seterusnya,” ujar dia dalam rilisnya, Sabtu (25/1/2014).

Berdasarkan hasil evaluasi Partai Golkar terhadap utang pemerintah menunjukkan kinerja pemerintah yang belum mampu mengelola utang secara optimal. Padahal saat utang tidak terserap, pemerintah harus membayar commitment fee sekitar 0,75 persen dari total utang yang tidak terserap.

Artinya, menurut dia, utang yang direncanakan pemerintah tak mampu diserap optimal. Padahal proyek-proyek pemerintah dirancang untuk kesejahteraan rakyat.

"Jadi terlihat jelas, pemerintah tidak memikirkan kesejahteraan rakyat dengan kinerja utang seperti ini. Perlu diingat, menggunakan utang luar negeri berarti pemerintah memperkaya negara dan lembaga-lembaga keuangan asing,” tutur Harry.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan (DJPU Kemenkeu), Harry mengatakan, pemerintah pada tahun lalu memiliki total utang sebesar Rp2.371,39 triliun, yang berasal dari pinjaman Rp710 triliun atau 30 persen dari total realisasi utang dan penjualan Surat Berharga Negara (SBN) Rp1.661 triliun atau mencapai 70 persen.

Angka tersebut melonjak tajam Rp393,39 triliun dibandingkan realisasi utang pemerintah 2012 senilai Rp1.978 triliun. Rinciannya, kata dia, Rp617 triliun atau 31 persen merupakan pinjaman dan Rp1.361 triliun atau 69 persen dari SBN.

Dia menilai, adanya utang pemerintah yang tidak terserap menunjukkan tidak berfungsinya fungsi perencanaan pemerintah yang dijalankan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Alasannya, Bappenas sebagai perencana pembangunan seharusnya mampu menyusun berbagai strategi perencanaan berlapis.

“Artinya, kalau plan A tidak berjalan akibat krisis global, maka plan B yang disusun Bappenas harus dijalankan. Tapi realitanya kita temukan, Bappenas sama sekali tidak berfungsi dalam mengantisipasi utang-utang yang tidak terserap,” jelas Harry.

Harry menambahkan, dengan commitment fee Rp378,02 miliar yang dibayarkan pemerintah terlihat pemborosan uang negara tanpa pertanggungjawaban. Karena itu, pemerintah harus memberikan sanksi bagi Kementerian/Lembaga, dan sektor-sektor yang mengajukan utang namun tidak mampu menyerapnya.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Utang Negara Meningkat...
Utang Negara Meningkat Selama Pandemi
Utang Dunia Tembus Rekor...
Utang Dunia Tembus Rekor Gila Rp6.168 Kuadriliun! Investor Mulai Buang AS?
10 Negara Tanpa Utang...
10 Negara Tanpa Utang Publik, Salah Satunya dalam Kondisi Berperang
Prabowo Teken PP Hapus...
Prabowo Teken PP Hapus Utang Macet UMKM, Petani, hingga Nelayan, Catat Syaratnya
Apa yang Terjadi Jika...
Apa yang Terjadi Jika Negara Bangkrut? Serem Nih...
Utang Negara Rp6.570,17...
Utang Negara Rp6.570,17 Triliun Bisa Dibayar Lewat Pajak, Ekonom: Terlalu Sederhana
Berita Terkini
MengEmaskan Indonesia,...
MengEmaskan Indonesia, Wamenaker Jadi Saksi Keunggulan Manajerial Pegadaian
3 jam yang lalu
Produksi CPO RI Capai...
Produksi CPO RI Capai 53 Juta Ton, Hilirisasi Sawit Perlu Dipercepat
5 jam yang lalu
Tinggalkan Jas dan Dasi,...
Tinggalkan Jas dan Dasi, Pekerja Kantoran di Jepang Boleh Pakai Celana Pendek dan Kaus Oblong
5 jam yang lalu
BI: Penyerapan Tenaga...
BI: Penyerapan Tenaga Kerja RI Melambat di Triwulan II 2026
5 jam yang lalu
JTrust Bank Gandeng...
JTrust Bank Gandeng Pegolf Kristina Yoko Dukung Pembinaan Atlet Nasional
6 jam yang lalu
Ekonom Beberkan Utang...
Ekonom Beberkan Utang Pemerintah Indonesia, Nilainya Tembus Segini
6 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Terbaik...
10 Universitas Terbaik di Indonesia Versi THE Asia University Rankings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved