ARLI pertanyakan angka produksi rumput laut

Jum'at, 07 Februari 2014 - 17:54 WIB
ARLI pertanyakan angka...
ARLI pertanyakan angka produksi rumput laut
A A A
Sindonews.com - Kalangan pengusaha rumput laut mempertanyakan angka yang dipatok pemerintah untuk produksi rumput laut 2013 sebesar 7,5 juta ton. Pasalnya, jumlah ini sangat tidak sejalan dengan total ekspor rumput laut nasional.

"Dari total produksi, 70 persen diantaranya masih diekspor karena pasarnya banyak terserap luar. Sekitar 30 persennya diolah di dalam negeri dan sebagian hasilnya juga diekspor ke luar," kata Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), Safari Azis dalam rilisnya, Jumat (7/2/2014).

Berdasarkan data yang dihimpun ARLI, ekspor rumput laut mulai dari Januari-Oktober 2013 hanya mencapai 147.052 ton. Jumlah ini sangat jauh dari angka yang dipatok pemerintah.

Menurutnya, jika 7,5 juta ton itu diasumsikan dalam kondisi basah, maka jika dikonversi keringnya menjadi 750.000 ton. Jumlah ini juga masih sangat jauh.

"Ini aneh, karena rumput laut kebanyakan masih diekspor. Jadi sebenarnya rumput laut yang sedemikian banyak itu ada di mana? Dan kalaupun ada mau diapakan? Karena sebenarnya permintaan sedang tinggi, harga relatif tinggi tapi barangnya sedikit," terangnya.

Dia menerangkan, selama ini acuan untuk melihat produksi rumput laut nasional memang mengacu pada total ekspor. Karena pasar dalam negeri belum mampu menyerap semua produksi yang ada, sementara permintaan industri luar lumayan besar.

Sebab itu, kata Safari, seyogyanya pemerintah lebih mematangkan lagi program hilirisasi rumput laut yang digadang-gadang bisa meningkatkan nilai tambah dan devisa negara. Menurutnya, daya saing industri nasional masih jauh bila dibandingkan dengan negara lain.

"Lemahnya daya saing industri kita terlihat ketika produksi rumput laut yang banyak tidak terserap lokal, bisa karena permintaannya yang rendah atau karena harga jual yang relatif tinggi," katanya.

Sementara, jika harganya rendah, banyak petani yang tidak tertarik dan sebaliknya jika harga tinggi, maka pelaku industri lokal sulit bersaing.

Untuk hilirisasi, kata dia, sebenarnya ada peluang untuk petani sekaligus tantangan bagai pelaku industri. Program hilirisasi perencanaannya belum matang karena belum jelas siapa yang bertanggung jawab mengurus indutrialisasi itu.

"Kita berharap pemerintah membuat program yang tidak bersifat politis saja. Program hilirisasi harus dikawal dengan serius dan seharusnya ada blueprint atau road map khusus," harap Safari.

Dia mengatakan, saat ini perizinan industri pengolahan rumput laut yang beroperasi cenderung disulitkan karena setidaknya harus memiliki 14 macam surat izin yang dikeluarkan antar kementerian/lembaga yang berbeda-beda, sehingga menyebabkan biaya tinggi dan tidak efisien.

Pemerintah perlu memikirkan bagaimana agar pelaku usaha baik nasional maupun internasional tertarik berinvestasi dan membangun industri.

"Pemerintah bisa saja membuat program, tapi harusnya bertanggung jawab dalam implementasinya agar program itu bisa jalan. Intinya pemerintah harus memikirkan agar semuanya bisa efisien, tidak high cost, serta adanya jaminan dukungan sinergi antar departemen," pungkas Safari.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kementerian Kelautan...
Kementerian Kelautan dan Perikanan Berhentikan Dirjen Perikanan Tangkap
Menteri Kelautan dan...
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo Ditangkap KPK
Meski Ada Pandemi, Nilai...
Meski Ada Pandemi, Nilai Ekspor Perikanan Meningkat Jadi USD1,24 Miliar
RI Rangking 4 Eksportir...
RI Rangking 4 Eksportir Perikanan ke China, Atdag: Aturan Rumit
KKP Berikan Stimulus...
KKP Berikan Stimulus Bagi Pembudidya Ikan
Dorong Industrialisasi...
Dorong Industrialisasi Rumput Laut Nasional Demi Genjot Nilai Ekspor
Berita Terkini
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
7 menit yang lalu
Bank Mandiri Taspen...
Bank Mandiri Taspen Dorong Pensiunan Tetap Produktif dan Sejahtera
12 menit yang lalu
Personal Branding Berbasis...
Personal Branding Berbasis Kepercayaan Jadi Kunci Peluang Bisnis
29 menit yang lalu
Bukan Sekadar Digital,...
Bukan Sekadar Digital, Teras Kapal BRI Buktikan CX100 Danantara Hadir Nyata di Pulau Terpencil
35 menit yang lalu
Istana Buka Suara soal...
Istana Buka Suara soal Variabel Kejatuhan Rupiah ke Rp18.000: Singgung Kemandirian Ekonomi
39 menit yang lalu
Concord Industry Tegaskan...
Concord Industry Tegaskan Komitmen Perkuat Industri Keramik di Keramika 2026
1 jam yang lalu
Infografis
Jet Tempur F/A-18 AS...
Jet Tempur F/A-18 AS Seharga Rp1 Triliun Hilang di Laut Merah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved