Diwarnai sentimen negatif, rupiah berpotensi melemah
Senin, 10 Februari 2014 - 08:45 WIB
Diwarnai sentimen negatif, rupiah berpotensi melemah
A
A
A
Sindonews.com - Diwarnai sejumlah sentimen negatif, laju rupiah diproyeksi kembali masuk ke zona pelemahannya pada perdagangan perdana pekan ini.
"Pasca terapresiasi dalam perdagangan beberapa hari terakhir, rupiah mulai mengalami pelemahan walau terbatas. Laju rupiah berbalik di bawah support Rp12.167. Rentang rupiah di kisaran Rp12.160-12.182 mengacu kurs tengah BI," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Senin (10/2/2014).
Reza mengatakan, potensi pelemahan muncul lantaran pelaku pasar melakukan aksi jual setelah adanya rilis penurunan tipis indeks jasa PMI China membuat laju yuan melemah.
Di sisi lain, sentimen dari kabar pengadilan tinggi Jerman yang diajukan ke hakim Eropa terkait penggunaan kekuasaan yang melampaui batas untuk memberikan bailout ke anggota zona Eropa, sehingga membuat laju euro turun juga ikut melemahkan rupiah.
Belum cukup dengan itu, laju dolar Autralia (AUD) yang berbalik melemah dengan aksi menahan diri investor yang melihat prospek imbas tapering off stimulus The Fed dengan pemulihan yang belum stabil di AS dan kenaikan yield obligasi tenor 10 tahunnya turut membuat rupiah kembali melempem.
Pada perdagangan akhir pekan lalu, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp12.176 per USD atau melemah 17 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp12.159 per USD.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg berakhir pada level Rp12.161 per USD. Posisi ini terapresiasi 33 poin dibanding hari Kamis (6/2/2014) di level Rp12.194 per USD.
"Pasca terapresiasi dalam perdagangan beberapa hari terakhir, rupiah mulai mengalami pelemahan walau terbatas. Laju rupiah berbalik di bawah support Rp12.167. Rentang rupiah di kisaran Rp12.160-12.182 mengacu kurs tengah BI," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Senin (10/2/2014).
Reza mengatakan, potensi pelemahan muncul lantaran pelaku pasar melakukan aksi jual setelah adanya rilis penurunan tipis indeks jasa PMI China membuat laju yuan melemah.
Di sisi lain, sentimen dari kabar pengadilan tinggi Jerman yang diajukan ke hakim Eropa terkait penggunaan kekuasaan yang melampaui batas untuk memberikan bailout ke anggota zona Eropa, sehingga membuat laju euro turun juga ikut melemahkan rupiah.
Belum cukup dengan itu, laju dolar Autralia (AUD) yang berbalik melemah dengan aksi menahan diri investor yang melihat prospek imbas tapering off stimulus The Fed dengan pemulihan yang belum stabil di AS dan kenaikan yield obligasi tenor 10 tahunnya turut membuat rupiah kembali melempem.
Pada perdagangan akhir pekan lalu, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp12.176 per USD atau melemah 17 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp12.159 per USD.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg berakhir pada level Rp12.161 per USD. Posisi ini terapresiasi 33 poin dibanding hari Kamis (6/2/2014) di level Rp12.194 per USD.
(rna)