Rupiah berpeluang menguat lagi
Selasa, 04 Maret 2014 - 08:48 WIB
Rupiah berpeluang menguat lagi
A
A
A
Sindonews.com - Ditutup cukup bergairah pada perdagangan sebelumnya, tampak laju rupiah ingin terus memperbaiki diri dan terus menguat pada perdagangan hari ini dengan perkiraan lajunya yang berada pada rentang Rp11.618-11.574 per USD.
"Laju rupiah melewati level resisten Rp11.620. Rentang rupiah di kisaran Rp11.618-11.574 per USD mengacu kurs tengah BI," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Selasa (4/3/2014).
Menilik perdagangan kemarin, terlihat laju nilai tukar rupiah mampu bertahan positif tidak seirama dengan laju IHSG yang terhempas ke zona merah.
Reza mengatakan, penguatan ini merespon positifnya data sejumlah data ekonomi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin. Meski rilis neraca perdagangan Januari kembali mencatatkan defisit, namun dapat diimbangi dengan rendahnya rilis inflasi bulanan dibandingkan bulan Januari dan bahkan masih lebih rendah dari bulan Februari tahun sebelumnya.
Bahkan, lanjut Reza, BPS juga mengimbanginya dengan merilis bahwa surplus perdagangan periode Desember 2013 merupakan yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir setelah surplus USD602,6 juta pada Desember 2011.
"Tentu rilis tersebut direspon dengan sangat baik pelaku pasar dan juga menyadari bahwa kembali defisitnya neraca perdagangan Januari karena berkurangnya ekspor bahan mentah akibat kebijakan Pemerintah," pungkas dia.
Kemarin, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp11.596 per USD atau menguat 38 poin dibanding penutupan Jumat (28/2/2014) di level Rp11.634 per USD.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg berakhir pada level Rp11.592 per USD. Posisi ini terapresiasi 18 poin dibanding penutupan akhir pekan lalu di level Rp11.610 per USD.
"Laju rupiah melewati level resisten Rp11.620. Rentang rupiah di kisaran Rp11.618-11.574 per USD mengacu kurs tengah BI," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Selasa (4/3/2014).
Menilik perdagangan kemarin, terlihat laju nilai tukar rupiah mampu bertahan positif tidak seirama dengan laju IHSG yang terhempas ke zona merah.
Reza mengatakan, penguatan ini merespon positifnya data sejumlah data ekonomi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin. Meski rilis neraca perdagangan Januari kembali mencatatkan defisit, namun dapat diimbangi dengan rendahnya rilis inflasi bulanan dibandingkan bulan Januari dan bahkan masih lebih rendah dari bulan Februari tahun sebelumnya.
Bahkan, lanjut Reza, BPS juga mengimbanginya dengan merilis bahwa surplus perdagangan periode Desember 2013 merupakan yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir setelah surplus USD602,6 juta pada Desember 2011.
"Tentu rilis tersebut direspon dengan sangat baik pelaku pasar dan juga menyadari bahwa kembali defisitnya neraca perdagangan Januari karena berkurangnya ekspor bahan mentah akibat kebijakan Pemerintah," pungkas dia.
Kemarin, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp11.596 per USD atau menguat 38 poin dibanding penutupan Jumat (28/2/2014) di level Rp11.634 per USD.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg berakhir pada level Rp11.592 per USD. Posisi ini terapresiasi 18 poin dibanding penutupan akhir pekan lalu di level Rp11.610 per USD.
(rna)