PGN siap bangun jaringan distribusi gas di Jateng
Selasa, 04 Maret 2014 - 15:18 WIB
PGN siap bangun jaringan distribusi gas di Jateng
A
A
A
Sindonews.com - PT Perusahaan Gas Negara (PGN) menyatakan kesiapannya membangun jaringan pipa distribusi gas bumi di Jawa Tengah (Jateng).
PGN sebelumnya pernah membangun dan mengoperasikan jaringan pipa distribusi gas bumi di wilayah Semarang, namun saat ini sudah tidak beroperasi.
Program pembangunan jaringan distribusi gas di Semarang merupakan revitalisasi jaringan lama yang telah dioperasikan PGN sejak 1980-an. Selanjutnya, PGN akan berinvestasi untuk merevitalisasi jaringan distribusi tersebut dan akan membangun jaringan distribusi gas yang komprehensif di wilayah Semarang dan sekitarnya.
Jaringan distribusi gas yang akan dibangun, yaitu distribusi Jateng Tahap I (Semarang, Kendal, Demak) sepanjang 48 kilometer (km), dengan diameter 16 inci. Tahap II meliputi wilayah Ungaran dengan panjang 34 km dan diameter 16 inci. Adapun tahap III di Solo Raya, Pati dan Pekalongan sepanjang 235 km.
"Berkembangnya industri di Jawa Tengah akhir-akhir ini, baik industri baru maupun yang didorong adanya relokasi Industri dari berbagai daerah karena tenaga kerja di Jawa Tengah yang cukup kompetitif, memerlukan pasokan energi dengan harga yang lebih kompetitif," kata Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso dalam rilisnya, Selasa (4/3/2014).
Jawa Tengah memiliki beberapa kawasan industri yang membutuhkan dukungan pengembangan infrastruktur energi, yang tersebar di beberapa wilayah, seperti Semarang, Demak, Kendal, Kudus, Pati, Ungaran, Solo Raya.
Menurut Hendi, infrastruktur gas di Jawa Tengah sangat mendesak dibangun. Data Dinas Pertambangan dan Energi Jawa Tengah menyebutkan bahwa ada potensi penghematan konsumsi energi sektor industri mencapai Rp900 miliar per tahun di Jawa Tengah.
Seperti diketahui, Indonesia selama ini sangat bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM). Impor BBM yang besarnya mencapai USD3,6 miliar per tahun atau lebih dari Rp360 triliun telah menguras devisa negara.
Tingginya impor BBM itu membuat neraca perdagangan Indonesia menjadi defisit. Selain itu, ketergantungan pada BBM membuat subsisi BBM membengkak dari tahun ke tahun. Tahun lalu misalnya, pemerintah harus menganggarkan lebih dari Rp200 triliun untuk subsidi BBM.
Sementara Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyambut baik kesiapan PGN untuk membangun jaringan gas di Jawa Tengah. Ganjar mengakui bahwa Jateng membutuhkan infrastruktur energi dan infrastruktur lainnya, seperti jalan.
“Karena itulah tahun 2014 ini, kami canangkan sebagai tahun infrastruktur bagi Jawa Tengah. PGN menjadi penting bagi Jawa Tengah,” kata dia.
Ganjar menyatakan, pemerintah provinsi Jateng akan memberikan dukungan sepenuhnya kepada PGN untuk mewujudkan pembangunan infrastruktur gas di wilayah Jawa Tengah.
“Bersama-sama PGN, pemerintah Jawa Tengah akan membuat roadmap infrastruktur gas di Jawa Tengah guna mendukung penyediaan energi di Jawa Tengah,” imbuh dia.
PGN sebelumnya pernah membangun dan mengoperasikan jaringan pipa distribusi gas bumi di wilayah Semarang, namun saat ini sudah tidak beroperasi.
Program pembangunan jaringan distribusi gas di Semarang merupakan revitalisasi jaringan lama yang telah dioperasikan PGN sejak 1980-an. Selanjutnya, PGN akan berinvestasi untuk merevitalisasi jaringan distribusi tersebut dan akan membangun jaringan distribusi gas yang komprehensif di wilayah Semarang dan sekitarnya.
Jaringan distribusi gas yang akan dibangun, yaitu distribusi Jateng Tahap I (Semarang, Kendal, Demak) sepanjang 48 kilometer (km), dengan diameter 16 inci. Tahap II meliputi wilayah Ungaran dengan panjang 34 km dan diameter 16 inci. Adapun tahap III di Solo Raya, Pati dan Pekalongan sepanjang 235 km.
"Berkembangnya industri di Jawa Tengah akhir-akhir ini, baik industri baru maupun yang didorong adanya relokasi Industri dari berbagai daerah karena tenaga kerja di Jawa Tengah yang cukup kompetitif, memerlukan pasokan energi dengan harga yang lebih kompetitif," kata Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso dalam rilisnya, Selasa (4/3/2014).
Jawa Tengah memiliki beberapa kawasan industri yang membutuhkan dukungan pengembangan infrastruktur energi, yang tersebar di beberapa wilayah, seperti Semarang, Demak, Kendal, Kudus, Pati, Ungaran, Solo Raya.
Menurut Hendi, infrastruktur gas di Jawa Tengah sangat mendesak dibangun. Data Dinas Pertambangan dan Energi Jawa Tengah menyebutkan bahwa ada potensi penghematan konsumsi energi sektor industri mencapai Rp900 miliar per tahun di Jawa Tengah.
Seperti diketahui, Indonesia selama ini sangat bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM). Impor BBM yang besarnya mencapai USD3,6 miliar per tahun atau lebih dari Rp360 triliun telah menguras devisa negara.
Tingginya impor BBM itu membuat neraca perdagangan Indonesia menjadi defisit. Selain itu, ketergantungan pada BBM membuat subsisi BBM membengkak dari tahun ke tahun. Tahun lalu misalnya, pemerintah harus menganggarkan lebih dari Rp200 triliun untuk subsidi BBM.
Sementara Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyambut baik kesiapan PGN untuk membangun jaringan gas di Jawa Tengah. Ganjar mengakui bahwa Jateng membutuhkan infrastruktur energi dan infrastruktur lainnya, seperti jalan.
“Karena itulah tahun 2014 ini, kami canangkan sebagai tahun infrastruktur bagi Jawa Tengah. PGN menjadi penting bagi Jawa Tengah,” kata dia.
Ganjar menyatakan, pemerintah provinsi Jateng akan memberikan dukungan sepenuhnya kepada PGN untuk mewujudkan pembangunan infrastruktur gas di wilayah Jawa Tengah.
“Bersama-sama PGN, pemerintah Jawa Tengah akan membuat roadmap infrastruktur gas di Jawa Tengah guna mendukung penyediaan energi di Jawa Tengah,” imbuh dia.
(rna)
Lihat Juga :