Rawan profit taking, IHSG betah di zona merah
Selasa, 11 Maret 2014 - 08:32 WIB
Rawan profit taking, IHSG betah di zona merah
A
A
A
Sindonews.com - Masih rawan aksi ambil untung (profit taking) membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak leluasa untuk merangkak naik kembali ke zona hijaunya pada perdagangan hari ini.
"Pada perdagangan Selasa ini, IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 4.656-4.669 dan resisten 4.694-4.715," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Selasa (11/3/2014).
Menilik perjalanan IHSG di awal pekan, tampak kecenderungan variatif, di mana sering kali berada di zona merah. Maraknya aksi profit taking membuat laju IHSG mulai melambat. Kebetulan pula ada alasan untuk melakukan angkat jemuran selain keinginan untuk mengamankan posisi.
Rilis penurunan ekspor China yang berakibat penurunan pada neraca perdagangannya di akhir pekan kemarin dan rilis meningkatnya defisit current account Jepang yang disertai penurunan GDP nya memberikan cukup alasan bagi pelaku pasar untuk angkat jemuran. Apalagi laju bursa saham Asia berada dalam zona merahnya, makin memberikan efek negatif.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level tertinggi 4.689,34 jelang akhir sesi 1 dan menyentuh level terendah 4.654,58 di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.677,25.
"IHSG sempat di bawah target support 4.656-4.669 dan gagal mencapai target resisten 4.694-4.715, sehingga masih rawan untuk dilakukannya aksi profit taking," kata Reza.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
"Asing yang kembali nett sell dan posisi IHSG yang masih di sekitar area overbought cukup memberikan peluang koreksi lanjutan. Bila sentimen yang ada kurang mendukung tetap mewaspadai potensi downreversal," imbuh dia.
Dari luar negeri, rilis neraca perdagangan dan outstanding loan growth China serta GDP Jepang yang di bawah estimasi pasar memberikan efek negatif, sehingga laju bursa saham Asia pun tertekan.
Pelaku pasar menilai perlambatan masih terjadi dan belum sesuai dengan keinginan mereka, di mana pemulihan dapat segera terjadi. Saham-saham yang mengalami kenaikan sebelumnya akhirnya terkena aksi jual.
Di tambah lagi dengan kembali melemahnya sejumlah mata uang emerging market memberikan dampak yang kurang nyaman bagi pelaku pasar, sehingga pelemahan sejumlah bursa saham Asia kembali berlanjut.
Pergerakan bursa saham Eropa hingga kini masih variatif cenderung negatif terimbas pelemahan bursa saham Asia setelah dirilisnya data-data dari Jepang dan China. Investor masih menantikan pertemuan Eurogroup. Selain itu, rendahnya pertumbuhan industrial production Perancis dan Spanyol turut memberikan efek negatif.
Laju bursa saham AS kemungkinan akan bergerak melemah tipis dengan merespon data-data China dan Jepang yang mengalami pelemahan. Tercatat indeks futures melemah dan beberapa saham mengindikasikan akan adanya pelemahan, antara lain Boeing Co. dan Stratasys Ltd.
"Pada perdagangan Selasa ini, IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 4.656-4.669 dan resisten 4.694-4.715," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Selasa (11/3/2014).
Menilik perjalanan IHSG di awal pekan, tampak kecenderungan variatif, di mana sering kali berada di zona merah. Maraknya aksi profit taking membuat laju IHSG mulai melambat. Kebetulan pula ada alasan untuk melakukan angkat jemuran selain keinginan untuk mengamankan posisi.
Rilis penurunan ekspor China yang berakibat penurunan pada neraca perdagangannya di akhir pekan kemarin dan rilis meningkatnya defisit current account Jepang yang disertai penurunan GDP nya memberikan cukup alasan bagi pelaku pasar untuk angkat jemuran. Apalagi laju bursa saham Asia berada dalam zona merahnya, makin memberikan efek negatif.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level tertinggi 4.689,34 jelang akhir sesi 1 dan menyentuh level terendah 4.654,58 di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.677,25.
"IHSG sempat di bawah target support 4.656-4.669 dan gagal mencapai target resisten 4.694-4.715, sehingga masih rawan untuk dilakukannya aksi profit taking," kata Reza.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
"Asing yang kembali nett sell dan posisi IHSG yang masih di sekitar area overbought cukup memberikan peluang koreksi lanjutan. Bila sentimen yang ada kurang mendukung tetap mewaspadai potensi downreversal," imbuh dia.
Dari luar negeri, rilis neraca perdagangan dan outstanding loan growth China serta GDP Jepang yang di bawah estimasi pasar memberikan efek negatif, sehingga laju bursa saham Asia pun tertekan.
Pelaku pasar menilai perlambatan masih terjadi dan belum sesuai dengan keinginan mereka, di mana pemulihan dapat segera terjadi. Saham-saham yang mengalami kenaikan sebelumnya akhirnya terkena aksi jual.
Di tambah lagi dengan kembali melemahnya sejumlah mata uang emerging market memberikan dampak yang kurang nyaman bagi pelaku pasar, sehingga pelemahan sejumlah bursa saham Asia kembali berlanjut.
Pergerakan bursa saham Eropa hingga kini masih variatif cenderung negatif terimbas pelemahan bursa saham Asia setelah dirilisnya data-data dari Jepang dan China. Investor masih menantikan pertemuan Eurogroup. Selain itu, rendahnya pertumbuhan industrial production Perancis dan Spanyol turut memberikan efek negatif.
Laju bursa saham AS kemungkinan akan bergerak melemah tipis dengan merespon data-data China dan Jepang yang mengalami pelemahan. Tercatat indeks futures melemah dan beberapa saham mengindikasikan akan adanya pelemahan, antara lain Boeing Co. dan Stratasys Ltd.
(rna)
Lihat Juga :