Perjanjian bilateral swap dorong penguatan rupiah
Jum'at, 14 Maret 2014 - 09:54 WIB
Perjanjian bilateral swap dorong penguatan rupiah
A
A
A
Sindonews.com - Disahkannya perjanjian kerja sama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara Bank Indonesia dengan Bank Sentral Korea Selatan, Bank of Korea akan mendorong penguatan rupiah ke depan.
Analis pasar uang Bank Mandiri Renny Eka Putri mengatakan, bilateral swap yang dilakukan Bank Indonesia bersama sejumlah Bank Sentral di negara lain, seperti China, Jepang dan Korea Selatan cukup memberi imbas positif terhadap laju rupiah.
"Kebijakan bilateral swap dari Bank Sentral (BI) direspon cukup positif oleh pelaku pasar. Dengan adanya bilateral swap ini bisa membatasi penggunaan USD," kata dia, Jumat (14/3/2014).
Dengan bilateral swap tersebut, maka dalam perdagangan dua negara akan menggunakan mata uang lokal masing-masing. Artinya, dia mengatakan, ketergantungan terhadap USD bisa dikurangi.
"Kalau dulu kan kita transaksi mengacu dengan harga USD. Nah kalau sekarang pakai mata uang masing-masing negara. Misalnya, Korea akan ambil barang dari kita, maka dia beli dengan harga rupiah, begitu sebaliknya kita ambil barang Korea, kita belinya dengan harga won. Jadi mata uang kedua negara cenderung lebih stabil karena tidak ada USD di situ," tutur dia.
Salah satu penyebab merosotnya rupiah karena tingginya kebutuhan USD di Indonesia yang tinggi karena ketergantungan impor yang tinggi, namun di sisi lain suplai USD terbatas.
Sekedar informasi, BI pada pekan lalu telah mensahkan perjanjian kerja sama BCSA dengan Bank of Korea senilai Rp115 triliun atau sekitar 10,7 triliun won Korea, setara USD10 miliar.
Gubernur BI Agus Matowardojo sebelumnya menyatakan bahwa perjanjian bilateral swap tersebut dapat mengurangi resiko pengunaan valuta asing (valas) lain oleh pengusaha dua negara, sehingga pengusaha kedua negara bisa lebih fokus pada kegiatan usahanya dan tidak mengambil resiko mata uang dengan meminjam valas.
Sementara pada akhir tahun lalu, BI juga telah menandatangani kerja sama bilateral swap dengan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan) melalui peningkatan nilai swap menjadi sebesar USD22,76 miliar dari sebelumnya USD12 miliar. Kerja sama ini diharapkan dapat memberi kontribusi pada stabilitas pasar keuangan dan mendorong pertumbuhan kerja sama kedua negara di bidang ekonomi maupun perdagangan.
Analis pasar uang Bank Mandiri Renny Eka Putri mengatakan, bilateral swap yang dilakukan Bank Indonesia bersama sejumlah Bank Sentral di negara lain, seperti China, Jepang dan Korea Selatan cukup memberi imbas positif terhadap laju rupiah.
"Kebijakan bilateral swap dari Bank Sentral (BI) direspon cukup positif oleh pelaku pasar. Dengan adanya bilateral swap ini bisa membatasi penggunaan USD," kata dia, Jumat (14/3/2014).
Dengan bilateral swap tersebut, maka dalam perdagangan dua negara akan menggunakan mata uang lokal masing-masing. Artinya, dia mengatakan, ketergantungan terhadap USD bisa dikurangi.
"Kalau dulu kan kita transaksi mengacu dengan harga USD. Nah kalau sekarang pakai mata uang masing-masing negara. Misalnya, Korea akan ambil barang dari kita, maka dia beli dengan harga rupiah, begitu sebaliknya kita ambil barang Korea, kita belinya dengan harga won. Jadi mata uang kedua negara cenderung lebih stabil karena tidak ada USD di situ," tutur dia.
Salah satu penyebab merosotnya rupiah karena tingginya kebutuhan USD di Indonesia yang tinggi karena ketergantungan impor yang tinggi, namun di sisi lain suplai USD terbatas.
Sekedar informasi, BI pada pekan lalu telah mensahkan perjanjian kerja sama BCSA dengan Bank of Korea senilai Rp115 triliun atau sekitar 10,7 triliun won Korea, setara USD10 miliar.
Gubernur BI Agus Matowardojo sebelumnya menyatakan bahwa perjanjian bilateral swap tersebut dapat mengurangi resiko pengunaan valuta asing (valas) lain oleh pengusaha dua negara, sehingga pengusaha kedua negara bisa lebih fokus pada kegiatan usahanya dan tidak mengambil resiko mata uang dengan meminjam valas.
Sementara pada akhir tahun lalu, BI juga telah menandatangani kerja sama bilateral swap dengan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan) melalui peningkatan nilai swap menjadi sebesar USD22,76 miliar dari sebelumnya USD12 miliar. Kerja sama ini diharapkan dapat memberi kontribusi pada stabilitas pasar keuangan dan mendorong pertumbuhan kerja sama kedua negara di bidang ekonomi maupun perdagangan.
(rna)