Alasan penguatan IHSG selama sepekan
Sabtu, 15 Maret 2014 - 17:41 WIB
Alasan penguatan IHSG selama sepekan
A
A
A
Sindonews.com - Selama sepekan ini laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak lepas dari berbagai sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri.
Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, yang lebih menarik adalah sentimen dari dalam negeri terkait dengan masih menguatnya nilai tukar rupiah.
"Apa lagi rilis BI rate yang Alhamdulillah tetap bertahan di level 7,5 persen, hingga berita di akhir pekan yang sangat menggemparkan, mencengangkan, namun membuat banyak pelaku pasar happy karena portofolionya tiba-tiba terangkat," ujar Reza, Sabtu (15/3/2014).
Dia menyebutkan, laju IHSG sendiri mampu menguat ke level tertingginya tahun ini lantaran didukung derasnya arus dana masuk yang besarannya disinyalir mampu menutup utang dana keluar pada 2013, yang mencapai angka Rp20 triliun.
"Sepanjang pekan kemarin, asing masih tercatat nett buy sebesar Rp8,18 triliun atau naik signifikan dari pekan sebelumnya Rp294,83 miliar. Jika dihitung sejak awal tahun (YTD) maka sampai pekan kemarin posisi asing tercatat nett buy Rp17,811 triliun melanjutkan nett buy pekan lalu senilai Rp10,52 triliun," papar dia.
Bila menilik perjalanan IHSG di awal pekan, terlihat cenderung variatif. Di mana sering kali berada di zona merah. Maraknya aksi profit taking membuat laju kenaikan IHSG mulai melambat.
Kebetulan pula ada alasan untuk melakukan angkat jemuran selain keinginan untuk mengamankan posisi. Rilis penurunan ekspor China yang berakibat penurunan neraca perdagangan di akhir pekan sebelumnya dan rilis meningkatnya defisit current account Jepang, disertai penurunan GDP memberikan cukup alasan bagi pelaku pasar untuk angkat jemuran.
IHSG berhasil kembali ke zona hijau di tengah mulai adanya berita mengenai pembagian dividen dari para emiten, sehingga dapat mengimbangi kekhawatiran jelang rilis BI rate dan negatifnya laju bursa saham AS-Eropa.
Ditambah dengan positifnya laju bursa saham Asia turut menambah sentimen positif. Tetapi, kenaikan yang terjadi tidak bertahan lama. Di mana laju IHSG harus rela kembali ke zona merahnya dan saat itu hanya ada dua sektor mengalami kenaikan, konsumer dan properti, yang lebih banyak ditopang saham-saham second liner dan lainnya.
Masih adanya imbas perlambatan di bursa saham Asia karena data China dan Australia, serta kembali melemahnya nilai tukar rupiah memberikan dampak negatif pada potensi penguatan lanjutan IHSG.
Namun, tidak lama kemudian, tampaknya laju IHSG kembali ke zona positif seiring terjadinya aksi beli pelaku pasar terhadap sejumlah saham yang sebelumnya terkoreksi.
"Beredarnya ekspektasi pelaku pasar terhadap tetapnya level BI rate, kembali tercatat nett buy asing, dan laju pergerakan rupiah yang kembali positif turut memberikan tambahan amunisi IHSG untuk kembali menguat," jelas Reza.
Hampir seluruh sektor saham mengalami reli, terutama sektor konsumer yang memimpin kenaikan pasca tetapnya level BI rate karena diasumsikan nantinya daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan.
Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, yang lebih menarik adalah sentimen dari dalam negeri terkait dengan masih menguatnya nilai tukar rupiah.
"Apa lagi rilis BI rate yang Alhamdulillah tetap bertahan di level 7,5 persen, hingga berita di akhir pekan yang sangat menggemparkan, mencengangkan, namun membuat banyak pelaku pasar happy karena portofolionya tiba-tiba terangkat," ujar Reza, Sabtu (15/3/2014).
Dia menyebutkan, laju IHSG sendiri mampu menguat ke level tertingginya tahun ini lantaran didukung derasnya arus dana masuk yang besarannya disinyalir mampu menutup utang dana keluar pada 2013, yang mencapai angka Rp20 triliun.
"Sepanjang pekan kemarin, asing masih tercatat nett buy sebesar Rp8,18 triliun atau naik signifikan dari pekan sebelumnya Rp294,83 miliar. Jika dihitung sejak awal tahun (YTD) maka sampai pekan kemarin posisi asing tercatat nett buy Rp17,811 triliun melanjutkan nett buy pekan lalu senilai Rp10,52 triliun," papar dia.
Bila menilik perjalanan IHSG di awal pekan, terlihat cenderung variatif. Di mana sering kali berada di zona merah. Maraknya aksi profit taking membuat laju kenaikan IHSG mulai melambat.
Kebetulan pula ada alasan untuk melakukan angkat jemuran selain keinginan untuk mengamankan posisi. Rilis penurunan ekspor China yang berakibat penurunan neraca perdagangan di akhir pekan sebelumnya dan rilis meningkatnya defisit current account Jepang, disertai penurunan GDP memberikan cukup alasan bagi pelaku pasar untuk angkat jemuran.
IHSG berhasil kembali ke zona hijau di tengah mulai adanya berita mengenai pembagian dividen dari para emiten, sehingga dapat mengimbangi kekhawatiran jelang rilis BI rate dan negatifnya laju bursa saham AS-Eropa.
Ditambah dengan positifnya laju bursa saham Asia turut menambah sentimen positif. Tetapi, kenaikan yang terjadi tidak bertahan lama. Di mana laju IHSG harus rela kembali ke zona merahnya dan saat itu hanya ada dua sektor mengalami kenaikan, konsumer dan properti, yang lebih banyak ditopang saham-saham second liner dan lainnya.
Masih adanya imbas perlambatan di bursa saham Asia karena data China dan Australia, serta kembali melemahnya nilai tukar rupiah memberikan dampak negatif pada potensi penguatan lanjutan IHSG.
Namun, tidak lama kemudian, tampaknya laju IHSG kembali ke zona positif seiring terjadinya aksi beli pelaku pasar terhadap sejumlah saham yang sebelumnya terkoreksi.
"Beredarnya ekspektasi pelaku pasar terhadap tetapnya level BI rate, kembali tercatat nett buy asing, dan laju pergerakan rupiah yang kembali positif turut memberikan tambahan amunisi IHSG untuk kembali menguat," jelas Reza.
Hampir seluruh sektor saham mengalami reli, terutama sektor konsumer yang memimpin kenaikan pasca tetapnya level BI rate karena diasumsikan nantinya daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan.
(dmd)
Lihat Juga :