Selama sepekan rupiah melemah tipis
Sabtu, 15 Maret 2014 - 17:56 WIB
Selama sepekan rupiah melemah tipis
A
A
A
Sindonews.com - Berbeda dengan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melesat ke zona hijau selama sepekan, nilai tukar rupiah justru tercatat melemah meski dalam rentang tipis.
Menilik laju di awal pekan, rupiah kembali terkoreksi setelah mengalami kenaikan sepanjang pekan sebelumnya, di antaranya terimbas pelemahan yuan dan yen, Di mana data-data makroekonomi kedua negara di bawah estimasi pelaku pasar.
Di sisi lain, sempat dirilis data nonfarm payrolls AS yang cukup positif sehingga memberikan ruang bagi terapresiasinya USD (dolar AS), rupiah pun sebagai mata uang soft currency terkena imbas pelemahan.
"Laju nilai tukar rupiah berbalik menguat seiring berbalik menguatnya nilai tukar yen yang diikuti penguatan mata uang emerging market lainnya, dengan ekspektasi bank sentral akan menaikkan suku bunga," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Sabtu (15/3/2014).
Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan emerging market juga berimbas pada penilaian pelaku pasar terhadap BI rate, sehingga membuat laju nilai tukar rupiah menguat.
Kebijakan BI yang menandatangani kerja sama Bilateral Currency Swap Arrangement (BSCA) dengan Korea Selatan (Korsel) senilai Rp115 triliun (10,7 triliun won korea) memungkinkan penggunaan rupiah dan won dalam transaksi perdagangan internasional antar ke dua negara turut menambah sentimen positif.
Pasca mengalami kenaikan, laju nilai tukar rupiah kembali terkoreksi setelah terimbas pelemahan won dan AUD (dolar Australia) karena merespon data-data ekonomi yang kurang baik.
"Berbalik menguatnya yen karena memanfaatkan kurang kondusif sentimen di Asia turut memberikan dampak pelemahan bagi laju rupiah. Berbeda dari biasanya, pasca rilis BI rate yang dipertahankan di level 7,50 persen, diiringi rilis lending facility rate di level 7,5 persen dan deposit facility rate sebesar 5,75 persen, laju rupiah kembali rebound," papar Reza.
Tetapnya BI rate, maka pelaku pasar mengasumsikan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat lebih dipacu, terutama dari sisi penyaluran kredit. Sebelumnya sempat terjadi perlambatan pertumbuhan.
Di sisi lain, penilaian terjadinya peralihan dana investasi ke Indonesia mengingat belum cukup pulih kondisi global ditambah dengan masalah di Ukraina-Rusia memberikan tambahan sentimen positif bagi rupiah. Namun, di akhir pekan kembali melemah.
Untuk pekan depan, laju rupiah sebanarnya berpotensi mengalami penguatan meski masih akan mengalami sejumlah hambatan, sehingga rentangnya tidak terlalu agresif.
"Rupiah hampir mendekati target resisten Rp11.360 per USD. Rentang rupiah pekan depan di kisaran Rp11.487-11.360 (mengacu kurs tengah BI)," jelasnya.
Menilik laju di awal pekan, rupiah kembali terkoreksi setelah mengalami kenaikan sepanjang pekan sebelumnya, di antaranya terimbas pelemahan yuan dan yen, Di mana data-data makroekonomi kedua negara di bawah estimasi pelaku pasar.
Di sisi lain, sempat dirilis data nonfarm payrolls AS yang cukup positif sehingga memberikan ruang bagi terapresiasinya USD (dolar AS), rupiah pun sebagai mata uang soft currency terkena imbas pelemahan.
"Laju nilai tukar rupiah berbalik menguat seiring berbalik menguatnya nilai tukar yen yang diikuti penguatan mata uang emerging market lainnya, dengan ekspektasi bank sentral akan menaikkan suku bunga," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Sabtu (15/3/2014).
Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan emerging market juga berimbas pada penilaian pelaku pasar terhadap BI rate, sehingga membuat laju nilai tukar rupiah menguat.
Kebijakan BI yang menandatangani kerja sama Bilateral Currency Swap Arrangement (BSCA) dengan Korea Selatan (Korsel) senilai Rp115 triliun (10,7 triliun won korea) memungkinkan penggunaan rupiah dan won dalam transaksi perdagangan internasional antar ke dua negara turut menambah sentimen positif.
Pasca mengalami kenaikan, laju nilai tukar rupiah kembali terkoreksi setelah terimbas pelemahan won dan AUD (dolar Australia) karena merespon data-data ekonomi yang kurang baik.
"Berbalik menguatnya yen karena memanfaatkan kurang kondusif sentimen di Asia turut memberikan dampak pelemahan bagi laju rupiah. Berbeda dari biasanya, pasca rilis BI rate yang dipertahankan di level 7,50 persen, diiringi rilis lending facility rate di level 7,5 persen dan deposit facility rate sebesar 5,75 persen, laju rupiah kembali rebound," papar Reza.
Tetapnya BI rate, maka pelaku pasar mengasumsikan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat lebih dipacu, terutama dari sisi penyaluran kredit. Sebelumnya sempat terjadi perlambatan pertumbuhan.
Di sisi lain, penilaian terjadinya peralihan dana investasi ke Indonesia mengingat belum cukup pulih kondisi global ditambah dengan masalah di Ukraina-Rusia memberikan tambahan sentimen positif bagi rupiah. Namun, di akhir pekan kembali melemah.
Untuk pekan depan, laju rupiah sebanarnya berpotensi mengalami penguatan meski masih akan mengalami sejumlah hambatan, sehingga rentangnya tidak terlalu agresif.
"Rupiah hampir mendekati target resisten Rp11.360 per USD. Rentang rupiah pekan depan di kisaran Rp11.487-11.360 (mengacu kurs tengah BI)," jelasnya.
(dmd)