Penguatan IHSG dibayangi ancaman profit taking
Senin, 17 Maret 2014 - 08:19 WIB
Penguatan IHSG dibayangi ancaman profit taking
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada memprediksi, IHSG hari ini akan berada pada rentang support 4.650-4.756 dan resisten 4.885-4.912.
Secara historikal, IHSG sempat berada di support 4.680-4.706, namun mampu berbalik naik melampaui target resisten 4.735-4.750. Kondisi ini, menurut Reza, di satu sisi memberikan harapan dan peluang untuk melanjutkan kenaikan, namun di sisi lain dapat menarik perhatian untuk profit taking.
"Jika kondisi ini dimanfaatkan untuk profit taking masif dan tidak didukung sentimen yang ada, maka Jokowow Effect akan berkurang dan IHSG pun dapat kembali terkoreksi," kata Reza, Senin (17/3/2014).
Reza menjelaskan, dalam ulasan sebelumnya dituliskan, dengan sentimen positif dari rilis BI Rate, apresiasi rupiah dan kembalinya asing mencatatkan nett buy diharapkan dapat mempertahankan IHSG di zona hijaunya.
Pada awalnya, laju IHSG cenderung melemah setelah pelaku pasar mulai melakukan profit taking pasca mendapatkan informasi mengenai BI Rate tersebut.
Pelemahan dimulai dari saham-saham perbankan, aneka industri, dan merembet ke saham-saham lainnya. Ditambah lagi kondisi dari laju bursa saham Asia tidak memberi imbas positif karena mayoritas di zona merah dan laju rupiah yang kembali melemah.
Tetapi, entah kebetulan atau tidak, secara intraday perdagangan, kondisi IHSG berbalik arah mulai menguat signifikan sekitar pukul 15.00-an pasca maraknya pemberitaan via media online dan BBM tentang pemberian mandat menjadi presiden kepada Jokowi.
Bahkan, lanjut Reza, nilai transaksi langsung melonjak yang juga didukung adanya transaksi beli saham BTPN di pasar nego hampir senilai Rp6 triliun. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level tertingginya 4.726,17 di akhir sesi 2 dan menyentuh level terendah 4.726,17 di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.726,17.
Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Dari luar negeri, berbeda dengan IHSG yang berada di zona hijau, laju bursa saham Asia di akhir pekan mayoritas dalam kubangan merah seiring kekhawatiran jelang pengumuman hasil referendum Crimea, Ukraina dan masih adanya kecemasan perlambatan pertumbuhan ekonomi China.
Di sisi lain, beredarnya pemberitaan empat bank investasi di China yang memangkas proyeksi pertumbuhan kinerja di tahun ini, pelemahan saham-saham komoditas terkait dengan sentimen perlambatan di China tersebut dan kembali menguatnya nilai tukar yen semakin menambah sentimen negatif.
Meski bursa saham Jerman (DAX) mengalami kenaikan dan adanya pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov bahwa tidak ada rencana menginvasi Ukraina, namun tidak hal nya dengan laju bursa saham Eropa lainnya yang masih tertinggal di zona merah.
DAX dapat menguat karena pelaku pasar memandang positif pernyataan tersebut mengingat Jerman merupakan mitra dagang besar Rusia setelah China. Sementara pelaku pasar di bursa saham Eropa lainnya memilih untuk wait & see pelaksanaan referendum Crimea.
Naiknya Vstoxx Index, yang mengukur tingkat volatilitas, dan kenaikan defisit neraca perdagangan Spanyol dan Inggris turut menambah sentimen negatif. Adanya rilis penurunan indeks price producer indeks dan consumer sentiment memberikan sentimen yang kurang baik sehingga laju bursa saham AS belum dapat keluar dari jeratan zona merah.
Pelaku pasar masih diliputi kekhawatiran potensi peningkatan krisis geopolitik di Ukraina jika pelaksanaan referendum Crimea tidak sesuai dengan harapan. Selain itu, gagal tercapainya kesepakatan AS-Rusia untuk mengakhiri krisis geopolitik di Ukraina, naiknya indeks VIX, dan pelemahan saham-saham keuangan menambah sentimen negatif.
Secara historikal, IHSG sempat berada di support 4.680-4.706, namun mampu berbalik naik melampaui target resisten 4.735-4.750. Kondisi ini, menurut Reza, di satu sisi memberikan harapan dan peluang untuk melanjutkan kenaikan, namun di sisi lain dapat menarik perhatian untuk profit taking.
"Jika kondisi ini dimanfaatkan untuk profit taking masif dan tidak didukung sentimen yang ada, maka Jokowow Effect akan berkurang dan IHSG pun dapat kembali terkoreksi," kata Reza, Senin (17/3/2014).
Reza menjelaskan, dalam ulasan sebelumnya dituliskan, dengan sentimen positif dari rilis BI Rate, apresiasi rupiah dan kembalinya asing mencatatkan nett buy diharapkan dapat mempertahankan IHSG di zona hijaunya.
Pada awalnya, laju IHSG cenderung melemah setelah pelaku pasar mulai melakukan profit taking pasca mendapatkan informasi mengenai BI Rate tersebut.
Pelemahan dimulai dari saham-saham perbankan, aneka industri, dan merembet ke saham-saham lainnya. Ditambah lagi kondisi dari laju bursa saham Asia tidak memberi imbas positif karena mayoritas di zona merah dan laju rupiah yang kembali melemah.
Tetapi, entah kebetulan atau tidak, secara intraday perdagangan, kondisi IHSG berbalik arah mulai menguat signifikan sekitar pukul 15.00-an pasca maraknya pemberitaan via media online dan BBM tentang pemberian mandat menjadi presiden kepada Jokowi.
Bahkan, lanjut Reza, nilai transaksi langsung melonjak yang juga didukung adanya transaksi beli saham BTPN di pasar nego hampir senilai Rp6 triliun. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level tertingginya 4.726,17 di akhir sesi 2 dan menyentuh level terendah 4.726,17 di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.726,17.
Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Dari luar negeri, berbeda dengan IHSG yang berada di zona hijau, laju bursa saham Asia di akhir pekan mayoritas dalam kubangan merah seiring kekhawatiran jelang pengumuman hasil referendum Crimea, Ukraina dan masih adanya kecemasan perlambatan pertumbuhan ekonomi China.
Di sisi lain, beredarnya pemberitaan empat bank investasi di China yang memangkas proyeksi pertumbuhan kinerja di tahun ini, pelemahan saham-saham komoditas terkait dengan sentimen perlambatan di China tersebut dan kembali menguatnya nilai tukar yen semakin menambah sentimen negatif.
Meski bursa saham Jerman (DAX) mengalami kenaikan dan adanya pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov bahwa tidak ada rencana menginvasi Ukraina, namun tidak hal nya dengan laju bursa saham Eropa lainnya yang masih tertinggal di zona merah.
DAX dapat menguat karena pelaku pasar memandang positif pernyataan tersebut mengingat Jerman merupakan mitra dagang besar Rusia setelah China. Sementara pelaku pasar di bursa saham Eropa lainnya memilih untuk wait & see pelaksanaan referendum Crimea.
Naiknya Vstoxx Index, yang mengukur tingkat volatilitas, dan kenaikan defisit neraca perdagangan Spanyol dan Inggris turut menambah sentimen negatif. Adanya rilis penurunan indeks price producer indeks dan consumer sentiment memberikan sentimen yang kurang baik sehingga laju bursa saham AS belum dapat keluar dari jeratan zona merah.
Pelaku pasar masih diliputi kekhawatiran potensi peningkatan krisis geopolitik di Ukraina jika pelaksanaan referendum Crimea tidak sesuai dengan harapan. Selain itu, gagal tercapainya kesepakatan AS-Rusia untuk mengakhiri krisis geopolitik di Ukraina, naiknya indeks VIX, dan pelemahan saham-saham keuangan menambah sentimen negatif.
(rna)
Lihat Juga :