Masih dibayangi profit taking, IHSG rawan terkoreksi
Selasa, 18 Maret 2014 - 08:26 WIB
Masih dibayangi profit taking, IHSG rawan terkoreksi
A
A
A
Sindonews.com - Pada perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan berada pada rentang support 4.800-4.825 dan resisten 4.910-4.926.
"Mulai adanya aksi jual kemungkinan akan membuat laju IHSG terhambat dan cenderung melemah. Mulai berbalik positifnya laju bursa saham global diharapkan dapat memperlambat laju pelemahan IHSG, sehingga koreksi yang terjadi dapat dibatasi," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Selasa (18/3/2014).
Sebelumnya disampaikan, di satu sisi IHSG memberikan harapan dan peluang untuk melanjutkan kenaikan, namun di sisi lain dapat menarik perhatian untuk profit taking.
Jika kondisi ini dimanfaatkan untuk profit taking masif dan tidak didukung sentimen yang ada, maka IHSG pun dapat kembali terkoreksi. Reza mengatakan, nyatanya laju IHSG memang demikian, di mana penguatan hanya berlangsung sesaat.
"Sempat berada di kisaran resisten 4.885-4.912, namun IHSG tidak mampu bertahan dan berakhir di bawah kisaran tersebut," kata Reza.
Dalam intraday perdagangan, terlihat bagaimana laju IHSG cenderung sideways setelah berlari kencang di akhir pekan sebelumnya. Padahal laju nilai tukar rupiah kembali menguat cukup signifikan. Begitupun dengan laju bursa saham Asia yang vairiatif mulai menguat dan pembukaan pasar saham Eropa yang mulai menghijau.
Adanya transaksi nego BBRI senilai Rp134,65 miliar oleh sejumlah sekuritas asing juga tidak cukup membantu penguatan IHSG hingga akhir sesi. Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level tertinggi 4.903,50 di pertengahan sesi 1 dan menyentuh level terendahnya 4.845.78 di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.876,19.
"Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell," papar dia.
Dari luar negeri, laju bursa saham Asia mulai bergerak variatif cenderung menguat, di mana bursa saham China mulai menguat setelah pelaku pasar merespon positif rencana kebijakan pemerintahnya untuk memperluas jaringan transportasi dan infrastruktur di perkotaan.
Di sisi lain, meski Ukraina telah melaksanakan referendum untuk wilayah Crimea, namun laju bursa saham Asia belum kompak menguat sepenuhnya. Adapun nilai tukar yuan yang melemah setelah PboC mengurangi kebijakan ketatnya terhadap yuan tidak membuat indeks Shanghai melemah meski HSI masih terkena aksi jual karena merespon negatif pre-hasil referendum Crimea, Ukraina.
Pasca mengalami pelemahan dalam beberapa pekan terakhir, laju bursa saham Eropa mulai berada di zona hijau seiring mulai adanya beberapa emiten yang peringkatnya di-upgrade, antara lain Siemens AG dan RWE AG serta berita positif emiten lainnya.
Hal yang menarik ialah kembalinya aksi beli investor justru terjadi di saat pre-hasil referendum menyatakan Crimea memilih bergabung dengan Rusia, di mana hasil tersebut dinyatakan ilegal oleh Uni Eropa sehingga dapat dikatakan pelaku pasar memanfaatkan kondisi negatif untuk kembali masuk pasar dengan harga di bawah.
Adanya rilis penurunan indeks price producer indeks dan consumer sentiment memberikan sentimen yang kurang baik, sehingga laju bursa saham AS belum dapat keluar dari jeratan zona merah. Pelaku pasar masih diliputi kekhawatiran potensi peningkatan krisis geopolitik di Ukraina jika pelaksanaan referendum Crimea tidak sesuai dengan harapan.
Selain itu, gagal tercapainya kesepakatan AS-Rusia untuk mengakhiri krisis geopolitik di Ukraina, naiknya indeks VIX dan pelemahan saham-saham keuangan menambah sentimen negatif.
"Mulai adanya aksi jual kemungkinan akan membuat laju IHSG terhambat dan cenderung melemah. Mulai berbalik positifnya laju bursa saham global diharapkan dapat memperlambat laju pelemahan IHSG, sehingga koreksi yang terjadi dapat dibatasi," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Selasa (18/3/2014).
Sebelumnya disampaikan, di satu sisi IHSG memberikan harapan dan peluang untuk melanjutkan kenaikan, namun di sisi lain dapat menarik perhatian untuk profit taking.
Jika kondisi ini dimanfaatkan untuk profit taking masif dan tidak didukung sentimen yang ada, maka IHSG pun dapat kembali terkoreksi. Reza mengatakan, nyatanya laju IHSG memang demikian, di mana penguatan hanya berlangsung sesaat.
"Sempat berada di kisaran resisten 4.885-4.912, namun IHSG tidak mampu bertahan dan berakhir di bawah kisaran tersebut," kata Reza.
Dalam intraday perdagangan, terlihat bagaimana laju IHSG cenderung sideways setelah berlari kencang di akhir pekan sebelumnya. Padahal laju nilai tukar rupiah kembali menguat cukup signifikan. Begitupun dengan laju bursa saham Asia yang vairiatif mulai menguat dan pembukaan pasar saham Eropa yang mulai menghijau.
Adanya transaksi nego BBRI senilai Rp134,65 miliar oleh sejumlah sekuritas asing juga tidak cukup membantu penguatan IHSG hingga akhir sesi. Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level tertinggi 4.903,50 di pertengahan sesi 1 dan menyentuh level terendahnya 4.845.78 di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.876,19.
"Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell," papar dia.
Dari luar negeri, laju bursa saham Asia mulai bergerak variatif cenderung menguat, di mana bursa saham China mulai menguat setelah pelaku pasar merespon positif rencana kebijakan pemerintahnya untuk memperluas jaringan transportasi dan infrastruktur di perkotaan.
Di sisi lain, meski Ukraina telah melaksanakan referendum untuk wilayah Crimea, namun laju bursa saham Asia belum kompak menguat sepenuhnya. Adapun nilai tukar yuan yang melemah setelah PboC mengurangi kebijakan ketatnya terhadap yuan tidak membuat indeks Shanghai melemah meski HSI masih terkena aksi jual karena merespon negatif pre-hasil referendum Crimea, Ukraina.
Pasca mengalami pelemahan dalam beberapa pekan terakhir, laju bursa saham Eropa mulai berada di zona hijau seiring mulai adanya beberapa emiten yang peringkatnya di-upgrade, antara lain Siemens AG dan RWE AG serta berita positif emiten lainnya.
Hal yang menarik ialah kembalinya aksi beli investor justru terjadi di saat pre-hasil referendum menyatakan Crimea memilih bergabung dengan Rusia, di mana hasil tersebut dinyatakan ilegal oleh Uni Eropa sehingga dapat dikatakan pelaku pasar memanfaatkan kondisi negatif untuk kembali masuk pasar dengan harga di bawah.
Adanya rilis penurunan indeks price producer indeks dan consumer sentiment memberikan sentimen yang kurang baik, sehingga laju bursa saham AS belum dapat keluar dari jeratan zona merah. Pelaku pasar masih diliputi kekhawatiran potensi peningkatan krisis geopolitik di Ukraina jika pelaksanaan referendum Crimea tidak sesuai dengan harapan.
Selain itu, gagal tercapainya kesepakatan AS-Rusia untuk mengakhiri krisis geopolitik di Ukraina, naiknya indeks VIX dan pelemahan saham-saham keuangan menambah sentimen negatif.
(rna)
Lihat Juga :