Ketimpangan pendapatan di Sulsel melebar

Selasa, 18 Maret 2014 - 16:36 WIB
Ketimpangan pendapatan...
Ketimpangan pendapatan di Sulsel melebar
A A A
Sindonews.com - Ketimpangan pendapatan di Sulawesi Selatan (Sulsel) tercatat lebih tinggi daripada nasional. Rasio ketimpangan pendapatan (rasio gini) daerah ini tercatat sebesar 0,43 persen, sedangkan rasio gini nasional tercatat 0,41 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Regional I Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampua), Suhaedi mengatakan, ketimpangan pendapatan tersebut menjadi tantangan Sulsel. Meski ketimpangan ini masih masuk dalam kategori sedang, namun tetap harus diwaspadai.

"Ini bisa menandakan bahwa tingkat pendapatan antara golongan menengah ke atas dan menengah ke bawah semakin jauh. Saya kira ini menjadi pekerjaan rumah untuk semua stake holder di Sulsel," ujarnya, Selasa (18/3/2014).

Selama ini, kata dia, Sulsel sudah memberi kontribusi sangat baik terhadap perekonomian nasional. Di mana, tingkat pertumbuhan juga lebih tinggi dari Nasional. Rasio gini tetap menjadi warning, agar pertumbuhan tersebut mampu dinikmati semua kalangan.

Menurutnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2011 rasio gini Sulsel berada pada posisi 0,41 dan mengalami stagnasi pada 2012. Sayangnya pada 2013 meningkat 0,01 point dengan 0,43 persen.

Pertumbuhan ekonomi Sulsel yang tinggi tidak menjamin kesejahteraan masyarakat. Hal ini terlihat dari angka pertambahan orang miskin di Sulsel yang dalam enam bulan melonjak signifikan.

Data BPS Sulsel mencatat, periode Maret hingga September orang miskin di Sulsel bertambah 69,78 ribu orang atau 0,78 persen dengan total jumlah orang miskin mencapai 857,45 ribu atau 10,32 persen dari total penduduk.

Kepala BPS Sulsel, Nursalam Dalle mengungkapkan, laju pertambahan itu menempatkan Sulsel berada di peringkat kedua tertinggi nasional di bawah Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan laju pertambahan 0,9 persen dan di atas Riau dengan 0,71 persen.

Pada periode Maret-September penduduk miskin perkotaan bertambah 12,56 ribu jiwa. Sementara, di daerah pedesaan bertambah 57,22 ribu jiwa. Untuk indeks kedalaman miskin pedesaan lebih tinggi dari perkotaan begitupula dengan indeks keparahan kemiskinan.

"Sehingga, dapat disimpulkan kemiskinan di pedasaan lebih para dari perkotaan. Faktor yang paling dominan menyebabkan melonjaknya angka kemiskinan adalah kenaikan BBM yang diikuti kenaikan harga-harga dan hal ini di luar kendali pemerintah," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Bangkitkan Ekonomi Sulawesi...
Bangkitkan Ekonomi Sulawesi Utara, Mas Menteri Bawa 3G
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Olly Optimistis Ekonomi...
Olly Optimistis Ekonomi Sulawesi Utara Tumbuh 6% di 2021
1.550 Bumdes di Sulawesi...
1.550 Bumdes di Sulawesi Tengah Didorong Jadi Penggerak Ekonomi
BPS: Jawa dan Sulawesi...
BPS: Jawa dan Sulawesi Tumbuh di Atas Ekonomi Nasional
BPS Umumkan Perkembangan...
BPS Umumkan Perkembangan Ekspor-Impor Sulawesi Utara Januari 2021
Berita Terkini
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
9 menit yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
19 menit yang lalu
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung MNC University dalam Seminar 'Crafting Your Career and Wealth in The Web3 Era'
33 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Regional JBB Manfaatkan Tenaga Surya Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
42 menit yang lalu
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan...
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan Prabowo, Ini Alasannya
54 menit yang lalu
Zero ODOL Dinilai Jadi...
Zero ODOL Dinilai Jadi Titik Awal Perkuat Keselamatan Transportasi
1 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved