Pasar obligasi RI stabil didukung sentimen Asia
Kamis, 20 Maret 2014 - 13:28 WIB
Pasar obligasi RI stabil didukung sentimen Asia
A
A
A
Sindonews.com - Indonesia tampaknya dapat bernafas lega lantaran berada di tengah lingkungan negara-negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tengah giat dan agresif.
Hingga akhir 2013, pasar obligasi kawasan Asia kecuali Jepang terus menunjukkan peningkatan ke arah lebih positif, yang ditandai dengan berhasil dicatatkannya emisi obligasi hingga USD7,4 triliun.
Kepala Kantor Integrasi Ekonomi Regional Asian Development Bank (ADB) Iwan Jaya Azis mengatakan, bila ditilik secara historikal, jumlah emisi obligasi ini mengalami pertumbuhan sebesar 2,4 persen dibandingkan September 2013 dan 11,7 persen lebih tinggi dibandingkan akhir 2012.
"Kita lihat kuartal IV tahun lalu, perkembangan bonds market di sembilan negara Asia cukup bagus. Meskipun ada masalah terkait isu tapering, di mana tingkat bunga dan bond yield di Amerika naik," kata Iwan di Hotel Borobudur, Kamis (20/3/2014).
Data perkembangan pasar obligasi di negara-negara Asia Timur yang disampaikan Iwan tersebut sejalan dengan data yang dipaparkan Asian Development Bank (ADB), yang menyebutkan bahwa pada awal 2014, pertumbuhan pasar obligasi juga akan terus mengalami kenaikan.
"Data-data terakhir dari Januari sampai 7 Maret 2014 ini lebih bagus lagi dari 2013. Pada Mei itu imbal hasil naik," tambahnya.
Positifnya kinerja obligasi ini, dia menuturkan, berhasil menghalau dampak negatif dari ketidakpastian penerapan tapering oleh the Fed.
Berdasarkan data pada periode Januari-Maret lalu, di mana tapering terjadi, imbal hasil yang ditawarkan instrumen investasi ini cenderung stabil. Kestabilan tersebut terjadi di sembilan negara di Asia, termasuk Indonesia.
Namun demikian, bukan berarti Indonesia dapat terbebas dari risiko pelemahan. Pasalnya, isu tapering yang telah menggoyang pasar pada tahun lalu akan memberi dampak pada pasar obligasi di kawasan Asia Timur.
"Nah yang perlu diperhatikan ini bagaimana ke depan. Ini ada tapering dan apakah ini akan berimbas lagi. Ketika bunga naik, maka yang ditakutkan modal kembali ke Amerika Serikat (AS) dan mereka akan keluar," tandas dia.
Hingga akhir 2013, pasar obligasi kawasan Asia kecuali Jepang terus menunjukkan peningkatan ke arah lebih positif, yang ditandai dengan berhasil dicatatkannya emisi obligasi hingga USD7,4 triliun.
Kepala Kantor Integrasi Ekonomi Regional Asian Development Bank (ADB) Iwan Jaya Azis mengatakan, bila ditilik secara historikal, jumlah emisi obligasi ini mengalami pertumbuhan sebesar 2,4 persen dibandingkan September 2013 dan 11,7 persen lebih tinggi dibandingkan akhir 2012.
"Kita lihat kuartal IV tahun lalu, perkembangan bonds market di sembilan negara Asia cukup bagus. Meskipun ada masalah terkait isu tapering, di mana tingkat bunga dan bond yield di Amerika naik," kata Iwan di Hotel Borobudur, Kamis (20/3/2014).
Data perkembangan pasar obligasi di negara-negara Asia Timur yang disampaikan Iwan tersebut sejalan dengan data yang dipaparkan Asian Development Bank (ADB), yang menyebutkan bahwa pada awal 2014, pertumbuhan pasar obligasi juga akan terus mengalami kenaikan.
"Data-data terakhir dari Januari sampai 7 Maret 2014 ini lebih bagus lagi dari 2013. Pada Mei itu imbal hasil naik," tambahnya.
Positifnya kinerja obligasi ini, dia menuturkan, berhasil menghalau dampak negatif dari ketidakpastian penerapan tapering oleh the Fed.
Berdasarkan data pada periode Januari-Maret lalu, di mana tapering terjadi, imbal hasil yang ditawarkan instrumen investasi ini cenderung stabil. Kestabilan tersebut terjadi di sembilan negara di Asia, termasuk Indonesia.
Namun demikian, bukan berarti Indonesia dapat terbebas dari risiko pelemahan. Pasalnya, isu tapering yang telah menggoyang pasar pada tahun lalu akan memberi dampak pada pasar obligasi di kawasan Asia Timur.
"Nah yang perlu diperhatikan ini bagaimana ke depan. Ini ada tapering dan apakah ini akan berimbas lagi. Ketika bunga naik, maka yang ditakutkan modal kembali ke Amerika Serikat (AS) dan mereka akan keluar," tandas dia.
(rna)
Lihat Juga :