IBPA: RI harus ciptakan diversifikasi produk investasi
Jum'at, 21 Maret 2014 - 12:18 WIB
IBPA: RI harus ciptakan diversifikasi produk investasi
A
A
A
Sindonews.com - Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) mendorong adanya diversifikasi produk surat utang (obligasi), sehingga produk-produk investasi yang dikeluarkan pemerintah dan perusahaan dapat lebih bervariasi.
Direktur Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Wahyu Trenggono mengatakan, dengan masih sedikitnya pilihan obligasi yang ada dikhawatirkan akan tercipta sebuah lingkungan investasi yang jenuh, sehingga mengancam kelangsungan pasar obligasi di Tanah Air.
Apalagi, menurut dia, pada tahun depan akan mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, yang menuntut keterbukaan finansial dengan jangkauan investasi lebih luas.
Wahyu berpendapat, dengan banyaknya obligasi yang ditawarkan oleh Malaysia dan Thailand, maka negara tersebut akan lebih mudah dalam menerbitkan reksa dana yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing produk-produk investasi turunan yang dikelola negara-negara tersebut.
"Kalau ini tidak segera tidak diubah, kalau itu (sektor finansial saat MEA) dibuka, maka akan lebih berat lagi. Ini menjadi tantangan kalau kita tidak ada perbaikan. Ini menjadi tantangan buat pemerintah dan perusahaan yang mengeluarkan obligasi," kata Wahyu di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (21/3/2014).
Dia menuturkan, saat ini pilihan obligasi Indonesia masih kalah jauh dibanding negara tetangga Malaysia dan Thailand. Hal ini tercermin dari obligasi korporasi yang hanya berjumlah 250 jenis dan obligasi pemerintah hanya 100 jenis.
"Taruhlah totalnya 400 jenis obligasi. Tapi di Malaysia, mereka punya 3.000 pilihan obligasi. Dengan pilihan obligasi yang lebih banyak di negara ASEAN lain, maka investor akan lebih memilih negara tersebut dibandingan dengan Indonesia untuk menanamkan investasinya," pungkas dia.
Direktur Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Wahyu Trenggono mengatakan, dengan masih sedikitnya pilihan obligasi yang ada dikhawatirkan akan tercipta sebuah lingkungan investasi yang jenuh, sehingga mengancam kelangsungan pasar obligasi di Tanah Air.
Apalagi, menurut dia, pada tahun depan akan mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, yang menuntut keterbukaan finansial dengan jangkauan investasi lebih luas.
Wahyu berpendapat, dengan banyaknya obligasi yang ditawarkan oleh Malaysia dan Thailand, maka negara tersebut akan lebih mudah dalam menerbitkan reksa dana yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing produk-produk investasi turunan yang dikelola negara-negara tersebut.
"Kalau ini tidak segera tidak diubah, kalau itu (sektor finansial saat MEA) dibuka, maka akan lebih berat lagi. Ini menjadi tantangan kalau kita tidak ada perbaikan. Ini menjadi tantangan buat pemerintah dan perusahaan yang mengeluarkan obligasi," kata Wahyu di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (21/3/2014).
Dia menuturkan, saat ini pilihan obligasi Indonesia masih kalah jauh dibanding negara tetangga Malaysia dan Thailand. Hal ini tercermin dari obligasi korporasi yang hanya berjumlah 250 jenis dan obligasi pemerintah hanya 100 jenis.
"Taruhlah totalnya 400 jenis obligasi. Tapi di Malaysia, mereka punya 3.000 pilihan obligasi. Dengan pilihan obligasi yang lebih banyak di negara ASEAN lain, maka investor akan lebih memilih negara tersebut dibandingan dengan Indonesia untuk menanamkan investasinya," pungkas dia.
(rna)
Lihat Juga :