Pertumbuhan laba Pakuwon melambat dipicu rugi kurs
Senin, 24 Maret 2014 - 14:35 WIB
Pertumbuhan laba Pakuwon melambat dipicu rugi kurs
A
A
A
Sindonews.com - PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih perseroan sebesar 51,07 persen jadi Rp1,13 triliun dari tahun sebelumnya Rp747,99 miliar.
Dalam laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan di Jakarta, Senin (24/3/2014) mencatat bahwa laba per saham dasar jadi Rp23,52 dari sebelumnya Rp15,53 per saham.
Kendati masih mampu mencatatkan laporan keuangan yang positif dalam rentang yang cukup agresif mencapai 51,07 persen, namun bila dibandingkan dengan periode sebelumnya, raihan ini mengalami perlambatan cukup drastis.
Pada 2012, emiten sektor properti ini mampu mencatatkan perolehan laba bersih hingga 115,5 persen menjadi Rp748 miliar dari sebelumnya pada 2011 hanya sebesar Rp347 miliar.
Kerugian kurs mata uang asing melambung jadi Rp101,72 miliar dari sebelumnya Rp34,92 miliar ditambah beban pokok pendapatan tahun 2013 yang meningkat sebesar 35,27 persen menjadi Rp1,26 triliun dari tahun sebelumnya Rp931,47 miliar menjadi faktor utama terjadinya perlambatan pertumbuhan tersebut.
Padahal sepanjang 2013, perseroan berhasil mencatakan pertumbuhan pendapatan sebesar 40,28 persen menjadi Rp3,03 triliun dari perolehan pendapatan tahun 2012 sebesar Rp2,16 triliun. Sementara total aset perseroan hingga akhir Desember 2013 mencapai Rp9,29 triliun dari sebelumnya Rp7,56 triliun di akhir Desember 2012.
Dalam laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan di Jakarta, Senin (24/3/2014) mencatat bahwa laba per saham dasar jadi Rp23,52 dari sebelumnya Rp15,53 per saham.
Kendati masih mampu mencatatkan laporan keuangan yang positif dalam rentang yang cukup agresif mencapai 51,07 persen, namun bila dibandingkan dengan periode sebelumnya, raihan ini mengalami perlambatan cukup drastis.
Pada 2012, emiten sektor properti ini mampu mencatatkan perolehan laba bersih hingga 115,5 persen menjadi Rp748 miliar dari sebelumnya pada 2011 hanya sebesar Rp347 miliar.
Kerugian kurs mata uang asing melambung jadi Rp101,72 miliar dari sebelumnya Rp34,92 miliar ditambah beban pokok pendapatan tahun 2013 yang meningkat sebesar 35,27 persen menjadi Rp1,26 triliun dari tahun sebelumnya Rp931,47 miliar menjadi faktor utama terjadinya perlambatan pertumbuhan tersebut.
Padahal sepanjang 2013, perseroan berhasil mencatakan pertumbuhan pendapatan sebesar 40,28 persen menjadi Rp3,03 triliun dari perolehan pendapatan tahun 2012 sebesar Rp2,16 triliun. Sementara total aset perseroan hingga akhir Desember 2013 mencapai Rp9,29 triliun dari sebelumnya Rp7,56 triliun di akhir Desember 2012.
(rna)
Lihat Juga :