Pemilu bikin BRI belum dapat izin beli satelit
Rabu, 26 Maret 2014 - 13:23 WIB
Pemilu bikin BRI belum dapat izin beli satelit
A
A
A
Sindonews.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) masih harus bersabar untuk dapat merealisasikan pembelian satelit khusus mendongkrak aktivitas transaksi yang dikelola perseroan.
Pasalnya, saat ini Bank plat merah tersebut masih harus menunggu izin dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo).
"Satelit kita menunggu keputusan Menkominfo, mudah-mudahan ada kabar baik diawal-awal bulan," jelas Direktur Utama BBRI, Sofyan Basir di Gedung BRI, Jakarta, Rabu (26/3/2014).
Persiapan jelang pelaksanaan Pemilihan Umum (pemilu) Legislatif tampaknya menjadi alasan utama mengapa izin ini masih mangkrak pembahasannya. Sehingga belum bisa diterbitkan dalam waktu dekat. Untuk itu, Sofyan berharap, setelah pemilu legislatif nanti ada keputusan dari Kemenkominfo. "Mudah-mudahan setelah pemilu legislatif, soalnya sekarang sibuk semua," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Keuangan BRI, Baiquni mengatakan, pihaknya akan mengambil langkah ketika ada pemberitahuan secara resmi. "Setelah tender diputus, kita buat dulu selama dua tahun, tapi kita kan belum tahu keputusannya apa," ujar dia.
Lantaran mengalami gangguan jaringan komunikasi yang berpengaruh terhadap kinerja teknologinya, BRI memutuskan untuk membeli satelit pribadi. Demi merealisasikan rencana tersebut, BRI telah mengalokasikan dana investasi sebesar USD250 Juta.
"Kami berencana membeli, meluncurkan satelit sendiri. Tapi masih cari kavling slotnya di angkasa. Investasinya USD250 juta," jelas Sofyan beberapa bulan lalu.
Dia menjelaskan, pembelian satelit tersebut merupakan tindak lanjut dari munculnya kendala akibat delapan provider yang digunakan BRI sudah tidak mampu menampung aktivitas transaksi di 22.000 titik ATM BRI.
"Kalau tidak salah ada tujuh atau delapan provider yang kami gunakan, ini yang punya satelit ini hanya tiga. Selama ini kami sewa 22 transponder di 22 ribu titik komunikasi. Ini service-nya semakin hari makin turun. Sehingga banyak maaf di ATM padahal bukan kendala internal BRI," katanya.
Sofyan mengibaratkan, hal ini layaknya HP yang tidak berfungsi. Bukan karena HP-nya yang rusak, tetapi sinyalnya yang tidak bagus, jaringannya yang kurang baik. Hal ini pun dikhawatirkan akan berpengaruh pada layanan BRI.
"Dan kami tahu teknologi adalah jantungnya bank, jantung ini terbentuk jika ada darah, dan darah ini adalah dari jaringan-jaringan komunikasi tadi," tambahnya.
Menurutnya, BRI saat ini telah menyampaikan keinginan tersebut pada Kemenkominfo. Sayangnya, izin yang diharapkan belum juga bisa dikeluarkan. "Begitu izin keluar kita upayakan. Kalaupun hari ini diizinkan, dua tahun lagi baru ada di angkasa. Ini belum ada dari Menkominfo," pungkasnya.
Pasalnya, saat ini Bank plat merah tersebut masih harus menunggu izin dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo).
"Satelit kita menunggu keputusan Menkominfo, mudah-mudahan ada kabar baik diawal-awal bulan," jelas Direktur Utama BBRI, Sofyan Basir di Gedung BRI, Jakarta, Rabu (26/3/2014).
Persiapan jelang pelaksanaan Pemilihan Umum (pemilu) Legislatif tampaknya menjadi alasan utama mengapa izin ini masih mangkrak pembahasannya. Sehingga belum bisa diterbitkan dalam waktu dekat. Untuk itu, Sofyan berharap, setelah pemilu legislatif nanti ada keputusan dari Kemenkominfo. "Mudah-mudahan setelah pemilu legislatif, soalnya sekarang sibuk semua," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Keuangan BRI, Baiquni mengatakan, pihaknya akan mengambil langkah ketika ada pemberitahuan secara resmi. "Setelah tender diputus, kita buat dulu selama dua tahun, tapi kita kan belum tahu keputusannya apa," ujar dia.
Lantaran mengalami gangguan jaringan komunikasi yang berpengaruh terhadap kinerja teknologinya, BRI memutuskan untuk membeli satelit pribadi. Demi merealisasikan rencana tersebut, BRI telah mengalokasikan dana investasi sebesar USD250 Juta.
"Kami berencana membeli, meluncurkan satelit sendiri. Tapi masih cari kavling slotnya di angkasa. Investasinya USD250 juta," jelas Sofyan beberapa bulan lalu.
Dia menjelaskan, pembelian satelit tersebut merupakan tindak lanjut dari munculnya kendala akibat delapan provider yang digunakan BRI sudah tidak mampu menampung aktivitas transaksi di 22.000 titik ATM BRI.
"Kalau tidak salah ada tujuh atau delapan provider yang kami gunakan, ini yang punya satelit ini hanya tiga. Selama ini kami sewa 22 transponder di 22 ribu titik komunikasi. Ini service-nya semakin hari makin turun. Sehingga banyak maaf di ATM padahal bukan kendala internal BRI," katanya.
Sofyan mengibaratkan, hal ini layaknya HP yang tidak berfungsi. Bukan karena HP-nya yang rusak, tetapi sinyalnya yang tidak bagus, jaringannya yang kurang baik. Hal ini pun dikhawatirkan akan berpengaruh pada layanan BRI.
"Dan kami tahu teknologi adalah jantungnya bank, jantung ini terbentuk jika ada darah, dan darah ini adalah dari jaringan-jaringan komunikasi tadi," tambahnya.
Menurutnya, BRI saat ini telah menyampaikan keinginan tersebut pada Kemenkominfo. Sayangnya, izin yang diharapkan belum juga bisa dikeluarkan. "Begitu izin keluar kita upayakan. Kalaupun hari ini diizinkan, dua tahun lagi baru ada di angkasa. Ini belum ada dari Menkominfo," pungkasnya.
(izz)
Lihat Juga :