Sepanjang volume beli mendukung, IHSG bakal menguat
Kamis, 10 April 2014 - 08:18 WIB
Sepanjang volume beli mendukung, IHSG bakal menguat
A
A
A
Sindonews.com - Pada perdagangan Kamis, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak menguat berada pada rentang support 4.889-4.913 dan resisten 4.930-4.945 setelah memanfaatkan positifnya sentimen dari pelaksanaan pemilu legislatif (pileg) kemarin.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada memaparkan, pola yang terbentuk adalah upper spinning dekati upper bollinger band (UBB). MACD bergerak mendatar dengan histogram negatif yang flat. RSI, Stochastic, dan William’s %R mulai berkurang kenaikannya.
Menurut Reza, pola tersebut menunjukkan bahwa meskipun laju IHSG mampu bertahan di atas kisaran support 4.848-4.885, namun berpotensi berbalik arah melemah jika sentimen yang ada tidak cukup mampu membuat IHSG bertahan di zona hijaunya.
"Perhatikan hasil pemilu dan rapat FOMC beserta dampaknya. Sepanjang volume beli mendukung maka IHSG pun berpeluang melanjutkan penguatannya," papar dia.
Menilik lajunya pada perdagangan sebelumnya, laju IHSG secara intraday perdagangan bergerak variatif. Terlihat kekuatan daya beli dan daya jual beradu saling menunjukkan kekuatannya, sehingga membuat IHSG bergerak dalam kisaran sempit.
Di buka naik tipis, laju IHSG hanya bergerak sideways dan cenderung mengalami tekanan seiring maraknya aksi jual. Bahkan di sesi kedua saat rilis BI Rate yang tetap bertahan di level 7,5 persen tampaknya tidak membuat IHSG dapat bergerak rebound karena kemungkinan rilis tersebut telah priced in, sehingga pelaku pasar telah mengantisipasinya.
Selain itu, laju bursa saham Asia yang menghijau tampaknya tidak membuat IHSG ikut menguat signifikan karena terhalangi oleh pelemahan nilai tukar rupiah.
Namun demikian, masih adanya daya beli menopang IHSG di akhir sesi dan berhasil kembali ke zona hijau meski hanya naik tipis. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level tertinggi 4.933,11 di awal sesi 1 dan menyentuh level terendah 4.906,07 di mid sesi 2 dan berakhir di level 4.921,40.
Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan penurunan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Dari luar negeri, laju bursa saham Asia pada Selasa(8/4) bergerak rebound seiring ekspektasi pemerintah China akan berusaha menumbuhkan ekonominya. Hal ini muncul setelah dirilis penilaian Bank Dunia dimana negara-negara dengan perekonomian berkembang di Asia Timur dan beberapa Asia lainnya akan mengalami perlambatan pertumbuhan.
Penguatan ditopang saham-saham konstruksi. Pada Rabu (9/4) masih melanjutkan kenaikan dengan sentimen ekspektasi langkah pemerintah China tersebut, kecuali laju Nikkei yang melemah setelah terlibas kenaikan yen.
Pelemahan masih terjadi pada bursa saham Eropa, Selasa (8/4), seiring dengan penilaian masih adanya potensi konflik di Ukraina. Pelaku pasar melihat adanya aksi dari para demonstran pro Rusia yang turun ke jalan mendekati gedung pemerintahan dapat menimbulkan bentrokan hingga kemungkinan konflik yang lebih luas lagi bila Rusia dan AS ikut campur.
Pada Rabu (9/4) mampu berbalik menguat ditopang saham-saham otomotif. Rilis kenaikan balance of trade Jerman dan Denmark diikuti dengan kenaikan manufacturing production Belanda memberikan angin segar.
Laju bursa saham AS pada Selasa(8/4) mengalami rebound seiring dengan rilis peningkatan pinjaman konsumen AS pada Februari yang mencapai USD16,5 miliar, melampaui semua perkiraan dalam survei Bloomberg terhadap para ekonom yang memprediksi pertumbuhan kredit hanya menyentuh USD13,8 miliar.
Penguatan di pasar tenaga kerja, harga rumah dan portofolio saham yang berkontribusi terhadap kesehatan neraca AS telah meningkatkan kepercayaan konsumen.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada memaparkan, pola yang terbentuk adalah upper spinning dekati upper bollinger band (UBB). MACD bergerak mendatar dengan histogram negatif yang flat. RSI, Stochastic, dan William’s %R mulai berkurang kenaikannya.
Menurut Reza, pola tersebut menunjukkan bahwa meskipun laju IHSG mampu bertahan di atas kisaran support 4.848-4.885, namun berpotensi berbalik arah melemah jika sentimen yang ada tidak cukup mampu membuat IHSG bertahan di zona hijaunya.
"Perhatikan hasil pemilu dan rapat FOMC beserta dampaknya. Sepanjang volume beli mendukung maka IHSG pun berpeluang melanjutkan penguatannya," papar dia.
Menilik lajunya pada perdagangan sebelumnya, laju IHSG secara intraday perdagangan bergerak variatif. Terlihat kekuatan daya beli dan daya jual beradu saling menunjukkan kekuatannya, sehingga membuat IHSG bergerak dalam kisaran sempit.
Di buka naik tipis, laju IHSG hanya bergerak sideways dan cenderung mengalami tekanan seiring maraknya aksi jual. Bahkan di sesi kedua saat rilis BI Rate yang tetap bertahan di level 7,5 persen tampaknya tidak membuat IHSG dapat bergerak rebound karena kemungkinan rilis tersebut telah priced in, sehingga pelaku pasar telah mengantisipasinya.
Selain itu, laju bursa saham Asia yang menghijau tampaknya tidak membuat IHSG ikut menguat signifikan karena terhalangi oleh pelemahan nilai tukar rupiah.
Namun demikian, masih adanya daya beli menopang IHSG di akhir sesi dan berhasil kembali ke zona hijau meski hanya naik tipis. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level tertinggi 4.933,11 di awal sesi 1 dan menyentuh level terendah 4.906,07 di mid sesi 2 dan berakhir di level 4.921,40.
Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan penurunan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Dari luar negeri, laju bursa saham Asia pada Selasa(8/4) bergerak rebound seiring ekspektasi pemerintah China akan berusaha menumbuhkan ekonominya. Hal ini muncul setelah dirilis penilaian Bank Dunia dimana negara-negara dengan perekonomian berkembang di Asia Timur dan beberapa Asia lainnya akan mengalami perlambatan pertumbuhan.
Penguatan ditopang saham-saham konstruksi. Pada Rabu (9/4) masih melanjutkan kenaikan dengan sentimen ekspektasi langkah pemerintah China tersebut, kecuali laju Nikkei yang melemah setelah terlibas kenaikan yen.
Pelemahan masih terjadi pada bursa saham Eropa, Selasa (8/4), seiring dengan penilaian masih adanya potensi konflik di Ukraina. Pelaku pasar melihat adanya aksi dari para demonstran pro Rusia yang turun ke jalan mendekati gedung pemerintahan dapat menimbulkan bentrokan hingga kemungkinan konflik yang lebih luas lagi bila Rusia dan AS ikut campur.
Pada Rabu (9/4) mampu berbalik menguat ditopang saham-saham otomotif. Rilis kenaikan balance of trade Jerman dan Denmark diikuti dengan kenaikan manufacturing production Belanda memberikan angin segar.
Laju bursa saham AS pada Selasa(8/4) mengalami rebound seiring dengan rilis peningkatan pinjaman konsumen AS pada Februari yang mencapai USD16,5 miliar, melampaui semua perkiraan dalam survei Bloomberg terhadap para ekonom yang memprediksi pertumbuhan kredit hanya menyentuh USD13,8 miliar.
Penguatan di pasar tenaga kerja, harga rumah dan portofolio saham yang berkontribusi terhadap kesehatan neraca AS telah meningkatkan kepercayaan konsumen.
(rna)
Lihat Juga :