Sentimen Positif, Obligasi Tenor Panjang Jadi Pilihan
Senin, 09 Juni 2014 - 14:54 WIB
Sentimen Positif, Obligasi Tenor Panjang Jadi Pilihan
A
A
A
JAKARTA - Pasar obligasi pada pekan ini diperkirakan masih positif, terutama obligasi dengan tenor jangka panjang bisa menjadi pilihan investor.
Sekretaris Umum Forum Komunikasi Certified Securities Analyst (CSA) Reza Priyambada mengatakan, masih variatifnya sentimen yang membuat pergerakan harga saham cenderung tertahan membuat pelaku pasar cenderung memilih pasar obligasi dan diharapkan dapat memberikan dampak positif.
"Jika sentimen di pekan ini dapat positif, maka diharapkan obligasi tenor jangka panjang dapat kembali menjadi pilihan. Apalagi dengan adanya lelang pekan depan diharapkan dapat berimbas positif," kata dia dalam risetnya, Senin (9/6/2014).
Kendati demikian, dia mengingatkan bahwa meski ada peluang positif pada pasar obligasi, namun perlu juga mencermati perubahan sentimen terhadap perubahan pergerakan laju pasar obligasi.
Pada pekan ini, pemerintah kembali menggelar surat utang negara (SUN) dengan jumlah indikatif yang dilelang sebesar Rp8 triliun untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2014.
Adapun seri-seri yang akan dilelang, yakni seri SPN12140911 (reopening) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada 11 September 2014 dan seri SPN12150611 (new issuance) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada 11 Juni 2015.
Selain itu, seri FR0069 (reopening) dengan tingkat bunga tetap sebesar 7,875% dan jatuh tempo pada 15 April 2019; seri FR0070 (reopening) dengan tingkat bunga tetap sebesar 8,375% dan jatuh tempo pada 15 Maret 2024; dan seri FR0068 (reopening) dengan tingkat bunga tetap sebesar 8,375% dan jatuh tempo pada 15 Maret 2034.
Sementara pada pekan lalu, laju pasar obligasi terlihat variatif, di mana terlihat dari pergerakan obligasi benchmark yang tidak semuanya bergerak naik. Dari empat obligasi benchmark, hanya FR0071 saja yang mengalami kenaikan.
Menurut Reza, masih variatifnya sentimen terutama setelah dirilisnya naiknya inflasi dan kembali defisitnya neraca perdagangan Indonesia memberikan sentimen negatif pada laju pasar obligasi. Tercatat laju obligasi tenor pendek cenderung menurun, namun obligasi tenor menengah dan panjang variatif mayoritas menguat.
"Pergerakan ini tentu kontras dengan pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah," ujar dia.
Terlihat obligasi pemerintah seri benchmark FR0068 yang memiliki jatuh tempo sekitar 20 tahun melemah 214 basis poin (bps). Begitu pun dengan FR0070 yang memiliki jatuh tempo sekitar 10 tahun turut mengalami penguatan harga, di mana naik 93,9 bps, tetapi seri FR0071 bergerak naik 257,7 bps.
Sekretaris Umum Forum Komunikasi Certified Securities Analyst (CSA) Reza Priyambada mengatakan, masih variatifnya sentimen yang membuat pergerakan harga saham cenderung tertahan membuat pelaku pasar cenderung memilih pasar obligasi dan diharapkan dapat memberikan dampak positif.
"Jika sentimen di pekan ini dapat positif, maka diharapkan obligasi tenor jangka panjang dapat kembali menjadi pilihan. Apalagi dengan adanya lelang pekan depan diharapkan dapat berimbas positif," kata dia dalam risetnya, Senin (9/6/2014).
Kendati demikian, dia mengingatkan bahwa meski ada peluang positif pada pasar obligasi, namun perlu juga mencermati perubahan sentimen terhadap perubahan pergerakan laju pasar obligasi.
Pada pekan ini, pemerintah kembali menggelar surat utang negara (SUN) dengan jumlah indikatif yang dilelang sebesar Rp8 triliun untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2014.
Adapun seri-seri yang akan dilelang, yakni seri SPN12140911 (reopening) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada 11 September 2014 dan seri SPN12150611 (new issuance) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada 11 Juni 2015.
Selain itu, seri FR0069 (reopening) dengan tingkat bunga tetap sebesar 7,875% dan jatuh tempo pada 15 April 2019; seri FR0070 (reopening) dengan tingkat bunga tetap sebesar 8,375% dan jatuh tempo pada 15 Maret 2024; dan seri FR0068 (reopening) dengan tingkat bunga tetap sebesar 8,375% dan jatuh tempo pada 15 Maret 2034.
Sementara pada pekan lalu, laju pasar obligasi terlihat variatif, di mana terlihat dari pergerakan obligasi benchmark yang tidak semuanya bergerak naik. Dari empat obligasi benchmark, hanya FR0071 saja yang mengalami kenaikan.
Menurut Reza, masih variatifnya sentimen terutama setelah dirilisnya naiknya inflasi dan kembali defisitnya neraca perdagangan Indonesia memberikan sentimen negatif pada laju pasar obligasi. Tercatat laju obligasi tenor pendek cenderung menurun, namun obligasi tenor menengah dan panjang variatif mayoritas menguat.
"Pergerakan ini tentu kontras dengan pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah," ujar dia.
Terlihat obligasi pemerintah seri benchmark FR0068 yang memiliki jatuh tempo sekitar 20 tahun melemah 214 basis poin (bps). Begitu pun dengan FR0070 yang memiliki jatuh tempo sekitar 10 tahun turut mengalami penguatan harga, di mana naik 93,9 bps, tetapi seri FR0071 bergerak naik 257,7 bps.
(rna)
Lihat Juga :