Penerbitan Obligasi Korporasi Rp61,1 Triliun Didominasi untuk Bayar Utang

loading...
Penerbitan Obligasi Korporasi Rp61,1 Triliun Didominasi untuk Bayar Utang
Penerbitan obligasi tahun ini dominasi untuk membayar utang. Foto/Ilustrasi
JAKARTA - PT Pemeringkat Efek Indonesia ( Pefindo ) mencatat realisasi penerbitan obligasi atau surat utang korporasi selama Januari-Agustus 2021 mencapai Rp61,1 triliun. Sektor multifinance dan pembiayaan khusus mendominasi dengan nilai penerbitan masing-masing mencapai Rp12,2 triliun dan Rp9,1 triliun.

Sejauh ini penerbitan obligasi didorong pada kebutuhan modal kerja dan pembiayaan kembali korporasi dengan persentase berturut-turut 51,3% dan 34,9%. Pefindo menyebut langkah Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5% membuka ruang yield obligasi tetap berada di level rendah.

Baca juga: Utang Negara Rp6.570,17 Triliun Bisa Dibayar Lewat Pajak, Ekonom: Terlalu Sederhana

"Penurunan ini cukup efektif untuk memengaruhi yield obligasi korporasi dan biaya pendanaan dari obligasi korporasi," kata Analyst Fixed Income PT PEFINDO, Ahmad Nasruddin, dalam Market Review, Selasa (14/9/2021).



Ahmad menilai kebutuhan modal kerja dan pembiayaan kembali atau refinancing mendominasi penerbitan obligasi, mengingat dua hal itu merupakan kebutuhan pokok perusahaan. Urgensi kebutuhan tersebut masih dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang membuat agenda ekspansi perusahaan relatif tertunda.

Menurutnya, banyak perusahaan yang masih menunggu situasi perekonomian Indonesia di tengah pandemi Covid-19.

"Memang pandemi masih cukup berpengaruh. Pertama dari sisi konsumen ada pengurangan spending, kalo berkurang maka perusahaan juga ragu berekspansi. Selanjutnya dari sisi penerbitan, lebih banyak didominasi kebutuhan modal kerja dan refinancing utang. Ini kan untuk kebutuhan rutin, bukan untuk ekspansi," tukasnya.

Di sisi lain, Ahmad memandang ada kesempatan bagi perusahaan untuk memanfaatkan suku bunga acuan yang rendah untuk kebutuhan internal perusahaan.

"Banyak perusahaan yang memanfaatkan suku bunga acuan yang rendah, nah otomatis kupon yang dibayarkan juga relatif rendah. Jadi banyak yang memanfaatkan itu, tapi kebutuhan ekspansi masih menunggu perkembangan situasi ekonomi lebih lanjut," katanya.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top