Rupiah Tembus Rp12.000/USD, Ini Jawaban BI
Rabu, 18 Juni 2014 - 15:49 WIB
Rupiah Tembus Rp12.000/USD, Ini Jawaban BI
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada hari ini dibuka terjungkal seiring tergelincirnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan.
Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara mengatakan, pelemahan ini agak berbeda karena terjadi di regional/kawasan.
"Penyebabnya itu dua hal. Antisipasi dari FOMC Meeting Fed, kemarin dan hari ini ya? Dua hari," ujarnya di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (18/6/2014).
Dia mengatakan, data-data yang disajikan di Bank Sentral AS The Fed itu memiliki tren lebih baik, sehingga ada kemungkinan tapering bisa selesai lebih cepat. Selain itu possibility suku bunga di AS akan naik lebih cepat.
"Kedua, ada tensi di Irak. Tensi kontak bersenjata di Irak yang di khawatirkan bisa memicu kenaikan harga minyak lebih lanjut," imbuhnya.
Tirta menyebutkan, harga minyak yang mencapai USD107 per barel dikhawatirkan bisa kembali naik. Hal ini yang mengakibatkan pelemahan mata uang regional, termasuk rupiah.
"Dan, ini hanya sementara. Tadi memang sempat menyentuh level Rp12.000, sekarang sudah kembali di bawah Rp12.000," terangnya.
Dia mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum melakukan bentuk intervensi apapun terhadap pelemahan tersebut.
"Not necessary begitu. Ya saya katakan bahwa kita tidak intervensi apapun, kalau memang pasar sendiri mekanismenya begtu, supply/demand-nya begitu, dia akan hasilkan nilai tukar yang menguat lagi. Di pasar kan biasa, ada yang namanya profit taking," pungkas Tirta.
Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara mengatakan, pelemahan ini agak berbeda karena terjadi di regional/kawasan.
"Penyebabnya itu dua hal. Antisipasi dari FOMC Meeting Fed, kemarin dan hari ini ya? Dua hari," ujarnya di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (18/6/2014).
Dia mengatakan, data-data yang disajikan di Bank Sentral AS The Fed itu memiliki tren lebih baik, sehingga ada kemungkinan tapering bisa selesai lebih cepat. Selain itu possibility suku bunga di AS akan naik lebih cepat.
"Kedua, ada tensi di Irak. Tensi kontak bersenjata di Irak yang di khawatirkan bisa memicu kenaikan harga minyak lebih lanjut," imbuhnya.
Tirta menyebutkan, harga minyak yang mencapai USD107 per barel dikhawatirkan bisa kembali naik. Hal ini yang mengakibatkan pelemahan mata uang regional, termasuk rupiah.
"Dan, ini hanya sementara. Tadi memang sempat menyentuh level Rp12.000, sekarang sudah kembali di bawah Rp12.000," terangnya.
Dia mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum melakukan bentuk intervensi apapun terhadap pelemahan tersebut.
"Not necessary begitu. Ya saya katakan bahwa kita tidak intervensi apapun, kalau memang pasar sendiri mekanismenya begtu, supply/demand-nya begitu, dia akan hasilkan nilai tukar yang menguat lagi. Di pasar kan biasa, ada yang namanya profit taking," pungkas Tirta.
(izz)