RI Bisa Contoh AS Soal Transparansi Minyak
Rabu, 24 September 2014 - 19:45 WIB
RI Bisa Contoh AS Soal Transparansi Minyak
A
A
A
JAKARTA - Pengamat Ekonomi Ichsanudin Noorsy mengatakan, pemerintah Indonesia dinilai tidak transparan dalam penentuan harga jual minyak. Hal itu berbeda dengan negara-negara lain yang menganut sistem keterbukaan soal tranparansi dalam sektor migas.
"Di Amerika seperti yang saya kasih datanya, itu mereka kelihatan dan terbuka. Tapi bukan berarti mereka sudah terbuka, mereka lantas tidak punya kebijakan pada migas," katanya di Jakarta, Rabu (24/9/2014).
Bahkan Ichsanudin menegaskan, untuk harga minyak di Amerika, negara yang memiliki julukan negara adidaya tersebut membeberkan soal nominal harga minyak, kilang, pajak, sampai harga jualnya kepada khalayak.
"Nah ini yang saya sesalkan, kenapa Indonesia enggak bisa untuk tunjukan keterbukaan seperti di negara paman Sam itu?" lanjut dia.
Sementara itu, ujar dia, pembelian minyak harus dilakukan secara goverment to goverment (G to G) melalui pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal tersebut berguna juga untuk memangkas biaya rantai distribusi, juga supaya harga minyak terkontrol.
"Pembentukan ini seperti yang diterapkan di China. China punya CNPC, CNOOC, punya Sinopec, punya tiga dia," tandasnya.
"Di Amerika seperti yang saya kasih datanya, itu mereka kelihatan dan terbuka. Tapi bukan berarti mereka sudah terbuka, mereka lantas tidak punya kebijakan pada migas," katanya di Jakarta, Rabu (24/9/2014).
Bahkan Ichsanudin menegaskan, untuk harga minyak di Amerika, negara yang memiliki julukan negara adidaya tersebut membeberkan soal nominal harga minyak, kilang, pajak, sampai harga jualnya kepada khalayak.
"Nah ini yang saya sesalkan, kenapa Indonesia enggak bisa untuk tunjukan keterbukaan seperti di negara paman Sam itu?" lanjut dia.
Sementara itu, ujar dia, pembelian minyak harus dilakukan secara goverment to goverment (G to G) melalui pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal tersebut berguna juga untuk memangkas biaya rantai distribusi, juga supaya harga minyak terkontrol.
"Pembentukan ini seperti yang diterapkan di China. China punya CNPC, CNOOC, punya Sinopec, punya tiga dia," tandasnya.
(gpr)
Lihat Juga :