Ekspor RI hingga Akhir 2014 Gunakan Skenario Pesimis
Selasa, 07 Oktober 2014 - 13:32 WIB
Ekspor RI hingga Akhir 2014 Gunakan Skenario Pesimis
A
A
A
JAKARTA - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi mengatakan, untuk koreksi ekspor sampai akhir 2014 akan menggunakan skenario pesimis.
Bayu mengatakan, sampai September 2014 pihaknya masih meggunakan skenario normal. Tapi kenyataan yang dihadapi sekarang memang tidak mudah.
"Yang dismpaikan Pak Menteri kemarin itu sebenarnya untuk memberi kesempatan kepada pemerintah baru, yang akan datang dua minggu lagi untuk bisa melihat secara lebih riil kondisi yang ada, sehingga kita akan menggunakan skema skenario pesimis," ujarnya di Jakarta, Selasa (7/10/2014).
Menurutnya, beberapa lembaga internasional juga membuat koreksi terhadap pertumbuhan perdagangan dunia dalam jangka pendek. Sehingga barang yang dijual ke luar negeri harganya bisa jadi lebih murah.
"Tapi kenyataannya Indonesia, dari total impor Indonesia sekitar 65% bahan baku dan bahan baku penolong. Sehingga kalau kurs kita melemah, beban biaya produksi dari impor 65% itu bahan-bahan baku penolong, akan memengaruhi daya saing kita dalam jangka menengah dan panjang," tutur dia.
Karena, lanjut Bayu, hal itu sudah terjadi lebih dari enam bulan bahkan mungkin sepanjang 2014. Maka, Indonesia sudah mulai merasakan sekarang beban terhadap biaya produksi untuk barang-barang yang diekspor.
"Jadi, itu satu sisi yang kita lihat. Dilihat dari sisi demand terjadi penurunan, dari sisi biaya ada tekanan karena kurs. Tapi di sisi lain kita melihat juga ada peluang yang masih bisa kita kejar. Yaitu mineral dengan masuknya Freeport dan Newmont kembali dalam kancah ekspor Indonesia," terang Bayu.
Wamendag juga melihat investasi yang dilakukan sejak 2011-2012 sudah mulai terlihat hasilnya. Antara lain dengan meningkatnya ekspor otomotif kemudian juga beberapa pasar utama masih tumbuh normal impornya.
"Antara lain seperti Asia Timur masih cukup positif impornya. Kalau mereka impor, berarti ekspor dari kita kan," tandasnya.
Bayu mengatakan, sampai September 2014 pihaknya masih meggunakan skenario normal. Tapi kenyataan yang dihadapi sekarang memang tidak mudah.
"Yang dismpaikan Pak Menteri kemarin itu sebenarnya untuk memberi kesempatan kepada pemerintah baru, yang akan datang dua minggu lagi untuk bisa melihat secara lebih riil kondisi yang ada, sehingga kita akan menggunakan skema skenario pesimis," ujarnya di Jakarta, Selasa (7/10/2014).
Menurutnya, beberapa lembaga internasional juga membuat koreksi terhadap pertumbuhan perdagangan dunia dalam jangka pendek. Sehingga barang yang dijual ke luar negeri harganya bisa jadi lebih murah.
"Tapi kenyataannya Indonesia, dari total impor Indonesia sekitar 65% bahan baku dan bahan baku penolong. Sehingga kalau kurs kita melemah, beban biaya produksi dari impor 65% itu bahan-bahan baku penolong, akan memengaruhi daya saing kita dalam jangka menengah dan panjang," tutur dia.
Karena, lanjut Bayu, hal itu sudah terjadi lebih dari enam bulan bahkan mungkin sepanjang 2014. Maka, Indonesia sudah mulai merasakan sekarang beban terhadap biaya produksi untuk barang-barang yang diekspor.
"Jadi, itu satu sisi yang kita lihat. Dilihat dari sisi demand terjadi penurunan, dari sisi biaya ada tekanan karena kurs. Tapi di sisi lain kita melihat juga ada peluang yang masih bisa kita kejar. Yaitu mineral dengan masuknya Freeport dan Newmont kembali dalam kancah ekspor Indonesia," terang Bayu.
Wamendag juga melihat investasi yang dilakukan sejak 2011-2012 sudah mulai terlihat hasilnya. Antara lain dengan meningkatnya ekspor otomotif kemudian juga beberapa pasar utama masih tumbuh normal impornya.
"Antara lain seperti Asia Timur masih cukup positif impornya. Kalau mereka impor, berarti ekspor dari kita kan," tandasnya.
(izz)
Lihat Juga :