Likuiditas Perekonomian Alami Penurunan

Senin, 27 Oktober 2014 - 15:03 WIB
Likuiditas Perekonomian...
Likuiditas Perekonomian Alami Penurunan
A A A
PANGKALPINANG - Bank Indonesia (BI) menilai likuiditas dalam perekonomian sepanjang tahun ini mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya kondisi fiskal yang belum membaik.

Menurut Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah, kondisi fiskal yang lemah diakibatkan oleh rendahnya penyalurandanatransfer daerah dari pemerintah pusat. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap likuiditas bank pembangunan daerah (BPD) yang selama ini menjadi bank penampung dana dari pusat ke daerah.

"Kondisi sistem keuangan dalam kondisi stabil namun ada masalah keterbatasan likuiditas dalam perekonomian nasional," kata Halim saat diskusi tentang stabilitas sistem keuangan dan kebijakan makroprudensial di Pangkalpinang, Bangka Belitung, akhir pekan lalu.

Halim menambahkan, turunnyapenyalurandanatransferdari pemerintahpusatkepada daerah, disebabkan karena beban berat yangditanggungAPBNterutama subsidi bahan bakar minyak (BBM)."Saat penyelenggaraan pemilu, likuiditas dana cukup banyak, namunduabulansetelah itu melemah lagi," ungkapnya.

Dia berharap, pemerintah segera mengambil keputusan terkait pengurangan subsidi BBM sehingga likuiditas dalam perekonomian kembali membaik."Artinya, akan ada dana yang bisa digunakan pemerintah untuk sektor produktif dari pengurangan dana subsidi BBM tersebut," paparnya.

Menurutnya, kendati likuiditasperbankanmencukupi, tetapi likuiditas dalam perekonomian secara umum belum cukup jika penyerapan anggaran termasuk penyaluran atau transfer dana ke daerah tidak diperbaiki.

Sementara itu, mengenai kondisi makroprudensial, Halim mengatakan bahwa BI mewaspadai sejumlah sumber krisis yang meliputi sektor moneter, fiskal, sektor keuangan, rumah tangga, dan korporasi.

Terkait dengan korporasi, Halim mengatakan bahwa bank sentral segera menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang mewajibkan korporasi melakukan hedging atau lindung nilai atas transaksi valuta asing yang dilakukan. Selain itu, bank sentral juga akan mewajibkan perusahaan menyediakan dana untuk pembayaran utang sebelum utang tersebut jatuh tempo.

Pada kesempatan lain, Head of Research Recapital Securities Andrew Argado mengatakan, ke depan yang harus diperhatikan pemerintah adalah soal kenaikan harga BBM. Menurutnya, kenaikan harga BBM dalam jangka pendek memang tidak baik bagi masyarakat. Namun, secara jangka panjang hal itu akan banyak mempengaruhi struktur perekonomian Tanah Air.

Hatim varabi/Arsyani s
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Harga Emas Jatuh Rp14...
Harga Emas Jatuh Rp14 Ribu per Rabu 8 Juli 2026, Buyback Ambrol Rp21.000
1 jam yang lalu
Daftar di Sini dan Simak...
Daftar di Sini dan Simak Webinar Strategi Kelola Keuangan dari MNC Asset Management dan Invesnow!
1 jam yang lalu
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Terkoreksi 0,04 Persen di Level 5.984
2 jam yang lalu
Perusahaan yang Sahamnya...
Perusahaan yang Sahamnya Dimiliki Kaesang Kesandung Kredit Macet, Utang Bank Tembus Rp2,8 Triliun
2 jam yang lalu
Keruntuhan Dolar AS...
Keruntuhan Dolar AS Bukan Lagi Dongeng, BRICS Ubah dari Khayalan Menjadi Ancaman Nyata
3 jam yang lalu
RI-India Bidik Nilai...
RI-India Bidik Nilai Kerja Sama Ekonomi Tembus Rp445,8 Triliun, dari Infrastruktur hingga SDA
4 jam yang lalu
Infografis
10.056 Tentara Israel...
10.056 Tentara Israel Alami Gangguan Jiwa Akibat Lelah Berperang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved