Rupiah Diprediksi Menguat Jika Harga BBM Naik
Rabu, 12 November 2014 - 10:41 WIB
Rupiah Diprediksi Menguat Jika Harga BBM Naik
A
A
A
JAKARTA - Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang akan dilakukan oleh pemerintah pada bulan November ini akan menjadi kunci terhadap nilai tukar rupiah ke depan.
Menurut analis saham Panin Sekuritas Purwoko Sartono, jika harga BBM naik akan memberikan sentimen positif terhadap nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
"Kalau kita lihat sebenarnya orang masih menunggu harga BBM naik. Jika keputusan tersebut terlalu lama maka nilai tukar rupiah akan terus tertekan. Harga BBM naik mestinya meningkatkan nilai tukar rupiah karena akan menambah demand," ujarnya saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Rabu (12/11/2014).
Dia menjelaskan, masih ada beberapa hal yang mengakibatkan nilai tukar rupiah terhadap USD terus menurun. Hal tersebut, yakni kondisi neraca perdagangan yang masih mengalami defisit anggaran.
"Neraca perdagangan kita masih defisit sampai dengan saat ini. Faktor tersebut menjadi salah satu alasan kenapa nilai tukar rupiah masih turun terhadap USD," pungkasnya.
Sekedar informasi, neraca perdagangan Indoensia Sepetember tahun ini defisit USD270,3 juta atau sekitar Rp3,27 triliun (kurs Rp12.100/USD). Defisit ini merupkan kali kelima sepanjang tahun ini.
Defisit tersebut lantaran nilai ekspor Indonesia September 2014 seebsar USD15,28 miliar lebih kecil dari impor Indonesia yang mencapai USD15,55 miliar. Kendati demikian, nilai defisit September, yang masih disumbang dari sektor minyak dan gas (migas) itu lebih rendah dibanding Agustus sebesar USD318,1 juta.
Menurut analis saham Panin Sekuritas Purwoko Sartono, jika harga BBM naik akan memberikan sentimen positif terhadap nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
"Kalau kita lihat sebenarnya orang masih menunggu harga BBM naik. Jika keputusan tersebut terlalu lama maka nilai tukar rupiah akan terus tertekan. Harga BBM naik mestinya meningkatkan nilai tukar rupiah karena akan menambah demand," ujarnya saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Rabu (12/11/2014).
Dia menjelaskan, masih ada beberapa hal yang mengakibatkan nilai tukar rupiah terhadap USD terus menurun. Hal tersebut, yakni kondisi neraca perdagangan yang masih mengalami defisit anggaran.
"Neraca perdagangan kita masih defisit sampai dengan saat ini. Faktor tersebut menjadi salah satu alasan kenapa nilai tukar rupiah masih turun terhadap USD," pungkasnya.
Sekedar informasi, neraca perdagangan Indoensia Sepetember tahun ini defisit USD270,3 juta atau sekitar Rp3,27 triliun (kurs Rp12.100/USD). Defisit ini merupkan kali kelima sepanjang tahun ini.
Defisit tersebut lantaran nilai ekspor Indonesia September 2014 seebsar USD15,28 miliar lebih kecil dari impor Indonesia yang mencapai USD15,55 miliar. Kendati demikian, nilai defisit September, yang masih disumbang dari sektor minyak dan gas (migas) itu lebih rendah dibanding Agustus sebesar USD318,1 juta.
(rna)