Pemerintah Akan Kaji Penerapan Subsidi Tetap BBM
Selasa, 25 November 2014 - 14:08 WIB
Pemerintah Akan Kaji Penerapan Subsidi Tetap BBM
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan mengkaji penerapan subsidi tetap (fix subsidy) terhadap bahan bakar minyak (BBM).
Menteri Keuangan (Meneku) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, jika hal tersebut diterapkan, maka harga BBM bersubsidi akan mengikuti frekuensi harga minyak dunia, nilai tukar dan inflasi.
"Ke depan, kita akan mengarahkan skema BBM subsidi itu secara fixed subsidy per liter atau tidak, yang penting ada penyesuaian karena harga keekonomian dan subsidi makin naik," ujarnya di The Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (25/11/2014).
Sayangnya, mantan Wakil Menteri Keuangan era SBY ini masih enggan mengungkapkan kapan subsidi tetap akan diterapkan. "Nanti sabar saja," ucapnya.
Namun, Bambang menegaskan, dengan semakin kecilnya disparitas harga antara BBM subsidi dan non subsidi akan mendorong penggunaan bahan bakar energi terbarukan seperti biodiesel dan gas.
Menurutnya, semua itu diperlukan dalam reformasi struktural meski semuanya cukup sulit dilakukan dan tidak populer.
"Tapi yang penting baik bagi masyarakat. Kebijakan subsidi akan berdampak untuk ekonomi outlook. Jangka pendek berdampak sekitar tiga bulan. Akan naik inflasi 2% tambah 1,5% tahun depan," pungkas dia.
Menteri Keuangan (Meneku) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, jika hal tersebut diterapkan, maka harga BBM bersubsidi akan mengikuti frekuensi harga minyak dunia, nilai tukar dan inflasi.
"Ke depan, kita akan mengarahkan skema BBM subsidi itu secara fixed subsidy per liter atau tidak, yang penting ada penyesuaian karena harga keekonomian dan subsidi makin naik," ujarnya di The Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (25/11/2014).
Sayangnya, mantan Wakil Menteri Keuangan era SBY ini masih enggan mengungkapkan kapan subsidi tetap akan diterapkan. "Nanti sabar saja," ucapnya.
Namun, Bambang menegaskan, dengan semakin kecilnya disparitas harga antara BBM subsidi dan non subsidi akan mendorong penggunaan bahan bakar energi terbarukan seperti biodiesel dan gas.
Menurutnya, semua itu diperlukan dalam reformasi struktural meski semuanya cukup sulit dilakukan dan tidak populer.
"Tapi yang penting baik bagi masyarakat. Kebijakan subsidi akan berdampak untuk ekonomi outlook. Jangka pendek berdampak sekitar tiga bulan. Akan naik inflasi 2% tambah 1,5% tahun depan," pungkas dia.
(izz)
Lihat Juga :