BI Kepri Kucurkan Rp260 Juta untuk Pertanian Terpadu
Rabu, 26 November 2014 - 07:36 WIB
BI Kepri Kucurkan Rp260 Juta untuk Pertanian Terpadu
A
A
A
BATAM - Otoritas moneter, Bank Indonesia (BI) Kepri mengucurkan dana sebesar Rp260 juta untuk program budidaya pertanian terpadu guna membantu produk pertanian kota ini menyuplai pasokan komoditas komponen inflasi.
Kepala BI Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengungkapkan dana itu diberikan kepada petani yang ada di kota ini dengan memanfaatkan lahan sekitar 10-15 hektare di Balai Agribisnis BP Batam. Bantuan tersebut berupa penyediaan alat, sarana, prasarana hingga workshop yang digelar bersama BP Batam.
"Program ini merupakan salah satu program yang terkait dengan Tim Pengendali invlasi Daerah Batam, karena sesuai dengan amanat UU kita mempunyai menjaga kesetabilan nilai rupiah, untuk menjaganya salah satu tugas kita harus menjaga invlasi yang rendah dan terkendali, dan bagaimana nilai tukar rupihah yang stabil," kata dia, di sela-sela workshop di Sei Temiang, Selasa (25/11/2014).
Menurutnya, program yang masuk dalam rencana Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) ini merupakan program tahunan. Program ini akan terus dikembangkan, salah satunya adalah klaster pertanian terpadu. Dan pihak BI mengharapakan akan ada produk yang menyumbangkan dalam komoditas inflasi seperti cabai yang kerap mengerak inflasi setiap kenaikan harga.
"Salah satu produk yang menyumbang adalah cabe dan dari pihak perikanan, dan kami ingin mengurangi ketergantungan Batam dari daerah lain untuk sektor komoditi pangan tersebut," ujarnya.
Gusti mengakui pengembangan sektor pertanian memang kecil kemungkinan bisa berkembang pesat di Batam mengingat keterbatasan lahan dan status Batam sebagai kawasan industri.
Namun BI optimistis langkah budidaya pertanian terpadu bisa menjadi solusi bagi ketergantungan pasokan pangan yang selama ini didatangkan dari daerah lain.
Sehingga langkah itu memerlukan kerjasama dengan pihak BP Batam yang bisa menyediakan lahan untuk pertanian terpadu yang belum di garap. Keberadaan lahan ini dinilai merupakan peluang untuk para petani untuk menunjang sektor pertanian kedepannya.
"Kedepan, kalau program ini bisa berkembang dan berhasil, kami juga akan mengembangkannya ke daerah-daerah interlen," kata Gusti.
Direktorat Agribisnis BP Batam, Toto Wahyu juga mengatakan program ini merupakan salah satu pengembangan sumber daya manusia untuk kedepan, karena kalau tidak ada pelatihan dan skill, nantinya masyarkat kita akan tertinggal jauh dalam bidang pertanian dan perikanan.
Menurutnya, pihak BI akan melakukan program ini di Batam dan Bintan, dan program ini kami harapkan kepada petani untuk bersungguh sungguh. Dia berharap program ini akan berhasil dan terus berlanjut.
"Kalau kita lakukan di daerah lain, kita takutnya tidak ada legalitas lahan, kalau disini kan aman. Tapi walaupun aman dan ada legalitas, para petani harus berhasil. Kalau program dan pelatihan ini gagal, kami dari pihak BP Batam akan merasa sangat kecewa, karena ini merupakan sebuah tantangan yang harus dikembangkan," ujar Toto.
Kepala BI Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengungkapkan dana itu diberikan kepada petani yang ada di kota ini dengan memanfaatkan lahan sekitar 10-15 hektare di Balai Agribisnis BP Batam. Bantuan tersebut berupa penyediaan alat, sarana, prasarana hingga workshop yang digelar bersama BP Batam.
"Program ini merupakan salah satu program yang terkait dengan Tim Pengendali invlasi Daerah Batam, karena sesuai dengan amanat UU kita mempunyai menjaga kesetabilan nilai rupiah, untuk menjaganya salah satu tugas kita harus menjaga invlasi yang rendah dan terkendali, dan bagaimana nilai tukar rupihah yang stabil," kata dia, di sela-sela workshop di Sei Temiang, Selasa (25/11/2014).
Menurutnya, program yang masuk dalam rencana Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) ini merupakan program tahunan. Program ini akan terus dikembangkan, salah satunya adalah klaster pertanian terpadu. Dan pihak BI mengharapakan akan ada produk yang menyumbangkan dalam komoditas inflasi seperti cabai yang kerap mengerak inflasi setiap kenaikan harga.
"Salah satu produk yang menyumbang adalah cabe dan dari pihak perikanan, dan kami ingin mengurangi ketergantungan Batam dari daerah lain untuk sektor komoditi pangan tersebut," ujarnya.
Gusti mengakui pengembangan sektor pertanian memang kecil kemungkinan bisa berkembang pesat di Batam mengingat keterbatasan lahan dan status Batam sebagai kawasan industri.
Namun BI optimistis langkah budidaya pertanian terpadu bisa menjadi solusi bagi ketergantungan pasokan pangan yang selama ini didatangkan dari daerah lain.
Sehingga langkah itu memerlukan kerjasama dengan pihak BP Batam yang bisa menyediakan lahan untuk pertanian terpadu yang belum di garap. Keberadaan lahan ini dinilai merupakan peluang untuk para petani untuk menunjang sektor pertanian kedepannya.
"Kedepan, kalau program ini bisa berkembang dan berhasil, kami juga akan mengembangkannya ke daerah-daerah interlen," kata Gusti.
Direktorat Agribisnis BP Batam, Toto Wahyu juga mengatakan program ini merupakan salah satu pengembangan sumber daya manusia untuk kedepan, karena kalau tidak ada pelatihan dan skill, nantinya masyarkat kita akan tertinggal jauh dalam bidang pertanian dan perikanan.
Menurutnya, pihak BI akan melakukan program ini di Batam dan Bintan, dan program ini kami harapkan kepada petani untuk bersungguh sungguh. Dia berharap program ini akan berhasil dan terus berlanjut.
"Kalau kita lakukan di daerah lain, kita takutnya tidak ada legalitas lahan, kalau disini kan aman. Tapi walaupun aman dan ada legalitas, para petani harus berhasil. Kalau program dan pelatihan ini gagal, kami dari pihak BP Batam akan merasa sangat kecewa, karena ini merupakan sebuah tantangan yang harus dikembangkan," ujar Toto.
(gpr)
Lihat Juga :