IESR Luncurkan Kerangka Kerja Tata Kelola Industri Ekstraktif

Jum'at, 28 November 2014 - 12:54 WIB
IESR Luncurkan Kerangka...
IESR Luncurkan Kerangka Kerja Tata Kelola Industri Ekstraktif
A A A
JAKARTA - Institute for Essential Services Reform (IESR) hari ini meluncurkan Regional Framework on Extractive Industries Governance (Kerangka Kerja Tata Kelola Industri Ekstraktif di Regional).

Pengamat pertambangan dari IESR, Fabby Tumiwa mengatakan, hal tersebut dalam rangka menyambut ASEAN Economic Community (AEC) 2015.

Menurutnya, kerangka kerja ini dibentuk untuk mengatur tata kelola industri ekstraktif di ASEAN.

Kerangka kerja ini tidak hanya mengenai legalitas dan korupsi, namun juga mengenai tata kelola multidimensi dalam industri pertambangan, khususnya industri ekstraktif. Kerangka kerja ini satu set keputusan.

"Anda bisa melihatnya untuk memastikan bahwa sumber daya industri ekstraktif dapat digunakan untuk memperbaiki pengembangan manusia, mendorong ekonomi yang adil, dan mempercepat hub ekonomi di ASEAN. Bukan hanya mengenai negara kita saja, tapi untuk ASEAN juga," tuturnya di Jakarta, Jumat (28/11/2014).

Dia mengatakan, kerangka kerja ini merupakan usulan masyarakat sipil dari tata kelola industri, yang akan diharmonisasikan hingga ke lingkup ASEAN. Sebab, harmonisasi mengenai kebijakan mineral masih sangat jarang.

"Itu yang kita sarankan, menurut perspektif kami bagaimana dapat harmonisasikan kebijakan mineral ASEAN di masa yang akan datang, ketika jadi satu kesatuan kawasan di tahun depan," terang Fabby.

Hal ini menjadi penting, lantaran industri ekstraktif memiliki peran penting terhadap negara-negara anggota ASEAN. Sebagian besar negara anggota ASEAN, industri ekstraktif memiliki kontribusi besar terhadap penerimaan negara.

"Kita tahu bahwa sumber daya industri ekstraktif memiliki peran penting dalam ASEAN. Negara anggota ASEAN, sumber daya minerba memiliki kontribusi besar. Contohnya Malaysia pendapatan migasnya 50% masuk ke dalam penerimaan negara," pungkas dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
2.000 Lebih Delegasi...
2.000 Lebih Delegasi Sambut Industri Pertambangan yang Tangguh dan Berkelanjutan
Pergantian Menkeu Jadi...
Pergantian Menkeu Jadi Momentum Perluasan Pajak Industri Ekstraktif
Bukan Lagi Monopoli...
Bukan Lagi Monopoli Pria, Saatnya Perempuan Berkarya di Sektor Ekstraktif
Digitalisasi Tambang...
Digitalisasi Tambang Keharusan, PAMA Rilis Hybrid LTE Network On Open Mining & Go Live Ewacspro
Rentetan Bencana Ekologis...
Rentetan Bencana Ekologis Jadi Alarm Hentikan Ketergantungan Industri Ekstraktif
Kurangi Emisi Karbon...
Kurangi Emisi Karbon Industri Pertambangan Dimulai dari Hulu
Berita Terkini
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
5 jam yang lalu
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
5 jam yang lalu
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
5 jam yang lalu
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
6 jam yang lalu
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
6 jam yang lalu
Janji Manis Ledakan...
Janji Manis Ledakan Ekonomi Piala Dunia 2026, Awas! Tensi Geopolitik Bisa Bikin Zonk
6 jam yang lalu
Infografis
Pakistan Balas Serangan...
Pakistan Balas Serangan India, Luncurkan Operasi Bunyan Marsoos
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved