Bukan Lagi Monopoli Pria, Saatnya Perempuan Berkarya di Sektor Ekstraktif

loading...
Bukan Lagi Monopoli Pria, Saatnya Perempuan Berkarya di Sektor Ekstraktif
Para Srikandi yang berkarya di sektor ekstraktif mendorong ditingkatkannya porsi pekerja perempuan di sektor ini. Foto/Ist
JAKARTA - Stigma sektor energi dan pertambangan sebagai "sektornya laki-laki" lambat laun mulai sirna seiring banyaknya kaum Hawa yang berkarya di sektor ini. Bahkan, banyak pula pekerja perempuan yang sukses menduduki posisi puncak di perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor ekstraktif tersebut.

Hal itu menandai bahwa industri ekstraktif saat ini tak lagi tabu bagi kaum perempuan untuk berkarir. Kendati demikian, diakui bahwa jumlah perempuan yang berkarya di sektor ini masih lebih sedikit dibandingkan kaum laki-laki.

Baca Juga: Permintaan Khusus Erick Thohir kepada Srikandi BUMN: Saya Tak Segan Beri Kesempatan

"Porsi perempuan yang bekerja di industri ekstraktif perlu terus ditingkatkan, minimal 25% dari jumlah keseluruhan," ujar Advisory Boad Pereira International Karen Agustiawan, dalam webinar bertajuk "What Holding You Back From Working in the Energy and Mineral Sector?", Selasa (20/4/2021).

Selain Karen, para narasumber di diskusi tersebut sepakat jika jumlah perempuan yang berkarier di sektor ini perlu terus ditambah di semua level. Tak hanya di sektor hulu, midstream ataupun di hilir, juga di bidang-bidang yang terkait erat dengan sektor ESDM seperti penelitian dan sebagainya. "The more the better, wanita itu multitasking. Kalau sudah diberikan kepercayaan di posisi tertentu, mereka mampu menjalankan dengan baik, tidak kalah dengan laki-laki," ujar mantan Direktur Utama Pertamina tersebut.



Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi periode Desember 2018-Juni 2020 Meidawati pada diskusi dalam rangka memperingati Hari Kartini itu mengatakan, berdasarkan pengalamannya, kemampuan perempuan dalam mengelola sebuah pekerjaan tak kalah dan bahkan bisa mengungguli laki-laki.

Dia mencontohkan pada saat terjadinya insiden semburan sumur minyak YY di Blok PHE ONWJ. Dia menceritakan, saat itu ada salah satu karyawan perempuan PHE yang bekerja selama 12 jam sehari dan sebanyak 7 kali memimpin penanganan insiden tersebut. "Jadi saat di PHE, saya sudah melihat talenta-talenta itu," cetusnya.

Karena itu, Meidawati menyarankan kepada karyawan perempuan yang bekerja di sektor ESDM untuk tidak berhenti belajar dan terus mengasah kemampuan sehingga siap ketika diberikan kepercayaan untuk memimpin sebuah proyek atau posisi tertentu.

Hal senada dikatakan Kepala Divisi Perencanaan Eksplorasi SKK Migas Shinta Damayanti. Sejak awal berkarier di industri migas, Shinta mengaku tidak ada perlakuan khusus sebagai perempuan, dia diperlakukan sama seperti karyawan lainnya.

Baca Juga: Tiga Tokoh Ini Dinilai Potensial Diusung Poros Partai Islam



"Ini adalah passion saya, pilihan saya untuk berkarier di industri migas. Saya akan melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan dan saya tidak membutuhkan perlakukan khusus karena saya perempuan. Saya bekerja atas dasar profesionalitas," tegasnya.

Sementara, Peneliti Madya Bidang Batubara, Pusat Sumber daya Minerba dan Panas Bumi Kementerian ESDM Rita Susilawati menegaskan bahwa peluang perempuan untuk berkarier di sektor ESDM sangat terbuka, pada semua posisi. Bahkan, menurutnya kaum perempuan memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki kaum Adam, antara lain kemampuan membangun networking yang lebih cepat, dapat bekerja multitasking, lebih detail dan telaten.

Terakhir, Corporate Secretary PT Pertamina Hulu Indonesia Farah Dewi menekankan bahwa kaum perempuan tak perlu takut berkarya di sektor energi. Kendati bekerja di sektor ini kadang menghadapi risiko yang besar, semisal saat bekerja di lapangan baik offshore maupun on shore, semuanya terbukti bisa ditanggulangi oleh pekerja wanita. "Kunci keberhasilan wanita di sektor energi adalah open mindset, kompeten, tidak berhenti belajar," pungkasnya.
(fai)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top