Ekspor Batam Masih dalam Tren Negatif

Minggu, 30 November 2014 - 19:14 WIB
Ekspor Batam Masih dalam...
Ekspor Batam Masih dalam Tren Negatif
A A A
BATAM - Penurunan permintaan produk elektronik dan pipa besi baja di Batam, Kepulauan Riau (Kepri) memasuki semester II/2014 menunjukkan penurunan.

Kepala BI Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengatakan, penurunan itu berujung menekan kinerja ekspor kawasan ini hingga melanjutkan tren kontraksi dengan pertumbuhan negatif sejak awal 2014. Padahal, kinerja ekspor sempat menguat pada kuartal II/2014 menjadi negatif 2,6% dari periode tiga bulan pertama 2014 negatif 4,3%.

Kontraksi ekspor terjadi terutama pada ekspor non-migas, yang turun signifikan, mendorong kinerja ekspor menjadi negatif 4,1% pada kuartal III/2014 dari negatif 2,6% pada periode sebelumnya.

"Ekspor mencatatkan penurunan yang cukup dalam. Kami melihat penurunan ini karena kelihatannya proyek pengerjaannya sudah diselesaikan pada kuartal II/2014, sehingga tidak ada pengerjaan yang siginifikan selama Juli hingga September," ujar Gusti, akhir pekan ini.

Berdasarkan survei Liaison BI, beberapa perusahaan mengungkapkan bahwa penurunan ekspor produk elektronik, antara lain dipengaruhi oleh penurunan permintaan terhadap bagian elektronik lama yang dihasilkan oleh beberapa perusahaan, dan juga dipengaruhi oleh penghentian operasi beberapa pabrik elektronik di Kota Batam.

Adapun penurunan ekspor pada besi dan baja, antara lain dipengaruhi oleh penyelesaian sejumlah proyek konstruksi migas di triwulan kedua yang ditandai dengan angka pertumbuhan ekspor produk besi dan baja yang tinggi sebesar 50,6% (yoy), sehingga ekspor cenderung akan menurun di kuartal III.

Meski begitu, kontraksi ekspor masih tertolong oleh kinerja ekspor migas yang mengalami peningkatan terutama gas alam yang tumbuh 29,5%. Gusti menilai, jika tak ekspor migas maka kinerja ekspor kawasan ini bisa semakin terjerembab.

Di samping itu, BI juga menyoroti kinerja impor kawasan ini yang semakin menguat perlu menjadi perhatian. Data pada kuartal III/2014 menunjukkan, konten impor terutama untuk elektronik dan mesin di kawasan perdagangan bebas Kepri masih sangat tinggi.

"Kebalikan dari ekspor, impor justru menunjukkan penguatan dari negatif 4,8% jadi negatif 2,6%. Kinerja impor ini membuat penguatan net ekspor kita semakin melambat. Hal ini juga menandakan peningkatan nilai tambah tidak banyak terjadi di industri Kepri," ujarnya.

Dia menegaskan, indikator ini menjadi tantangan ke depannya bagaimana pemerintah bisa mengurangi ketergantungan impor, sehingga bisa memperkecil defisit neraca transaksi berjalan yang hendak ditekan.

Sementara itu, Dosen Bisnis Internasional Universitas Putera Batam Suyono Saputra memandang keyakinan investasi di Kepri mencerminkan kepercayaan global terhadap kawasan FTZ Batam sudah meningkat. Namun tren positif itu tetap harus dipertahankan dengan berbagai cara.

"Ini menandakan Batam masih punya daya tarik investasi. Tren positif ini menjadi tantangan bagi BP Batam untuk mempertahankan kondisi seperti ini, antara lain dengan memberi jaminan ketersediaan lahan dan ketersediaan tenaga kerja," kata dia.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Langkah Tepat Jokowi...
Langkah Tepat Jokowi Buat Indeks Ekonomi Indonesia Terus Tumbuh
Rakorgub se-Sumatera...
Rakorgub se-Sumatera 2022 Digelar, Ini Lima Fokus Pembahasannya
BSKDN Gelar Bimtek IPKD...
BSKDN Gelar Bimtek IPKD di Kepri, Tingkatkan Kapasitas Aparatur Pengelola Keuangan Daerah
Pertashop Mulai Merambah...
Pertashop Mulai Merambah ke Kepulauan Riau
Kepengurusan MCMI Kepulauan...
Kepengurusan MCMI Kepulauan Riau Resmi Dilantik
Tampung 386 Penumpang,...
Tampung 386 Penumpang, KMP Bahtera Nusantara 03 Layani Warga Kepri
Berita Terkini
IHSG Makin Parah, Hari...
IHSG Makin Parah, Hari Ini Ditutup Ambles 4,20 Persen ke 5.594
1 jam yang lalu
AHY Jadi Ketua Komite...
AHY Jadi Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung Geser Luhut, Perpres Baru Diteken Prabowo
1 jam yang lalu
APHI dan New Forests...
APHI dan New Forests Dukung Investasi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
1 jam yang lalu
Rupiah Hari Ini Berakhir...
Rupiah Hari Ini Berakhir Merayap ke Rp18.036 per Dolar AS, Berikut Sebabnya
1 jam yang lalu
5 Hal Yang Wajib Anda...
5 Hal Yang Wajib Anda Ketahui Sebelum Datang ke Tempat Gestun Terdekat
2 jam yang lalu
Defisit APBN Mei 2026...
Defisit APBN Mei 2026 Tembus Rp180,4 Triliun, Purbaya: Sangat Aman
2 jam yang lalu
Infografis
7 Kombes Pecah Bintang...
7 Kombes Pecah Bintang Jadi Brigjen Dalam Mutasi Polri Januari 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved