Mata Uang RI Lamban Pulih Saat Krisis 1998

Kamis, 11 Desember 2014 - 10:18 WIB
Mata Uang RI Lamban...
Mata Uang RI Lamban Pulih Saat Krisis 1998
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengatakan, mata uang Indonesia menjadi satu-satunya mata uang yang lamban untuk recovery (pulih) pada saat krisis 1998.

Menurutnya, jika diingat waktu itu yang mengalami penghempasan akibat krisis, selain mata uang Indonesia adalah mata uang Thailand (bath) dan won Korea.

"Karena, nilai rupiah waktu itu kondisinya masih fix, maka kita tidak lagi sanggup mengikuti gejolak di pasar keuangan regional. Tiga mata uang itu habis diterjang krisis 1998," ujarnya di Jakarta, Rabu(10/12/2014) malam.

Bambang mengisahkan, pada akhirnya timbul pertanyaan-pertanyaan yang melandasi mengapa harus terjadi gejolak mata uang.

"Di sini, yang menjadi isu ekonomi Indonesia terhempas krisis keuangan Asia selain mata uangnya, tapi kita harus lihat kenapa kemudian terjadi gejolak mata uang, dan kenapa ekonomi Indonesia termasuk mata uangnya waktu itu proses recovery-nya paling lambat dibanding dua negara tadi, Thailand dan Korea," tuturnya.

Jika dicari akar masalahnya, maka Bambang memiliki jawaban sendiri atas 'biang kerok' dari gejolak tersebut.

"Kalau coba dicari kesimpulannya dari apa yang terjdi, maka yang menjadi biang kerok dari krisis finansial di Indonesia adalah ketidakmampuan kita menjaga kestabilan sektor keuangan," kata dia.

Selain itu, saat itu prudensi di sektor keuangan juga belum muncul meskipun di era 1990-an sektor ekonomi Indonesia sedang booming.

"Memang saat yang sama di 1990-an sektor ekonomi kita booming. Periode kejayaan ekonomi Indonesia secara keseluruhan, itu terjadi pada 1990-an sampai kira-kira 1997-an, sesudah itu sampai hari ini, kita belum pernah mengalami pencapaian ekonomi setinggi itu," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
2 jam yang lalu
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
2 jam yang lalu
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
12 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
13 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
13 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
13 jam yang lalu
Infografis
Saat Sekutu Berhenti...
Saat Sekutu Berhenti Menuruti Donald Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved