Wall Street Perpanjang Koreksi karena Minyak

Rabu, 07 Januari 2015 - 08:50 WIB
Wall Street Perpanjang...
Wall Street Perpanjang Koreksi karena Minyak
A A A
NEW YORK - Indeks saham di Wall Street pada perdagangan Selasa waktu setempat memperpanjang koreksi untuk sesi kelima perdagangan karena melambatnya pertumbuhan sektor jasa Amerika Serikat (AS) dan kembali turunnya harga minyak.

Data menunjukkan perlambatan pertumbuhan pada kuartal IV/2014. Laju ekspansi sektor jasa pada Desember 2014 dan pesanan baru untuk barang-barang manufaktur turun selama empat bulan berturut-turut pada November.

Indeks S&P 500 berakhir di zona merah setelah sebelumnya anjlok 1,4%, ke bawah level 2.000 untuk kali pertama sejak 17 Desember tahun lalu.

Indeks S&P 500 turun 4,2% selama lima sesi terakhir. Indeks Dow dan S&P 500 mengalami koreksi terbesar pada perdagangan Senin sejak awal Oktober 2014.

Adapun sektor di indeks S&P yang mengalami koreksi terbesar adalah saham sektor energi (SPNY), yang turun 1,3% karena harga minyak melanjutkan penurunan menyusul kekhawatiran terhadap membanjirnya pasokan.

Minyak mentah AS berada di USD47,93 per barel, turun 4,2%. Sejumlah saham energi jatuh, termasuk Southwestern Energy (SWN.N), turun 5% menjadi USD24,71.

"(Koreksi) ini sepertinya karena harga minyak. Perdebatan besar di luar sana dan perlambatan ekonomi global kemungkinan mempengaruhi. Selain itu, juga pertumbuhan ekonomi yang mengecewakan," kata Kepala Investasi di North Star Investment Management Corp Eric Kuby seperti dilansir dari Reuters, Rabu (7/1/2015).

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 130,01 poin atau 0,74% ke 17.371,64; indeks S&P 500 kehilangan 17,97 poin atau 0,89% ke 2.002,61; dan Nasdaq Composite turun 59,84 poin atau 1,29% ke 4.592,74.

Sekitar 8,3 miliar saham ditransaksikan di bursa AS. Jumlah itu di atas rata-rata lima sesi terakhir perdagangan sebanyak 5,5 miliar lembar saham.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Mixed Saat...
Wall Street Mixed Saat Dow dan S&P 500 Jatuh Dibayangi Kasus Baru Covid-19
Wall Street Turun Tajam...
Wall Street Turun Tajam Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi
Microsoft Pikir-pikir...
Microsoft Pikir-pikir Beli TikTok Bikin Nasdaq Cetak Rekor, Wall Street Rebound
Wall Street Lebih Tinggi...
Wall Street Lebih Tinggi di Tengah Ancang-ancang Stimulus USD1 Triliun Gedung Putih
Berita Terkini
Inflasi Kembali Muncul,...
Inflasi Kembali Muncul, Penting bagi Trader Mengamati Rilis CPI Berikutnya
1 jam yang lalu
Uang Beredar Tumbuh...
Uang Beredar Tumbuh 8,7%, Per Juni 2026 Tembus Rp10.432,8 Triliun
1 jam yang lalu
Pajak Ekonomi Digital...
Pajak Ekonomi Digital per Juni 2026 Capai Rp54,71 Triliun, Kripto Sumbang Rp2,09 T
1 jam yang lalu
Mengapa Didimax Menjadi...
Mengapa Didimax Menjadi Pilihan Banyak Trader? Ternyata ini Alasannya
2 jam yang lalu
Kunjungi Rest Area Cipularang,...
Kunjungi Rest Area Cipularang, COO Danantara Puji Transformasi Layanan Tol Jasa Marga
2 jam yang lalu
Harga Emas Naik 5 Ribu...
Harga Emas Naik 5 Ribu Hari Ini, Termurah Dijual Rp1.370.000
3 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved