Pemerintah Dinilai Kurang Perhatikan Pertanian

Sabtu, 24 Januari 2015 - 12:21 WIB
Pemerintah Dinilai Kurang...
Pemerintah Dinilai Kurang Perhatikan Pertanian
A A A
SURABAYA - Pemerintah dinilai kurang memperhatikan pertanian terutama komoditas kedelai dan jagung. Hal ini terlihat dengan menipisnya persediaan kedelai dan jagung, padahal makanan ini menjadi konsumsi favorit masyarakat.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Deddy Suhajadi mengatakan, saat ini pihaknya tengah menyoroti bahan baku pembuat tempe, tahu, dan kecap seperti kedelai dan jagung.

Karena, kata dia, sesuai analisa yang dilakukan, persedian dua komoditas tersebut hanya mampu untuk mencukupi kebutuhan industri dan rumahan selama tiga bulan.

Artinya, jumlah produksi kedelai lokal hanya bisa dikonsumsi dan bertahan sampai tiga bulan dalam setahun.

"Jadi produksinya sangat terbatas dan yang sembilan bulan lagi, ya bergantung pada kedelai impor," katanya di Surabaya, Jumat (23/1/2015).

Deddy menuturkan, kondisi kedelai berbeda dengan jagung. Untuk komoditas jagung, saat ada panen raya masih bisa diekspor. Meski demikian, saat tertentu Indonesia juga bisa impor.

Hal inilah yang membuat Kadin meminta kepada pemerintah untuk membuat bangunan Silo (lumbung penyimpanan).

"Saya sudah menyarankan kepada pemerintah baik pusat maupun regional untuk membuat bangunan Silo sebagai tempat penyimpanan. Sehingga barang hasil panen raya mampu disimpan dengan aman, khususnya beras atau padi maupun jagung," jelasnya.

Saat ini, pertanian Indonesia sebenarnya sangat banyak dan kuat. Namun, kondisi tersebut tidak diperhatikan secara serius. Pemerintah seharusnya lebih memperkuat lagi, terutama dalam sektor industri pertanian.

Menurutnya, jika dilakukan, maka kondisi pertanian tersebut bisa bertahan. Hal ini terlihat dengan adanya Product Domestic Regional Bruto (PDRB) di Jatim memasuki peringkat III dalam bidang pertanian.

"Kalau diperhatikan, Jatim bisa menjadi lumbung pertanian seperti jagung, kedelai, dan padi. Tinggal pemerintah memberikan kebijakan supaya tidak melakukan impor," ungkap Deddy.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kementan Bongkar Penyebab...
Kementan Bongkar Penyebab Kedelai Lokal Langka
Biaya Angkut Jadi Penyebab...
Biaya Angkut Jadi Penyebab Kenaikan Harga Kedelai
Rapat Bersama DPR Soal...
Rapat Bersama DPR Soal Kedelai, Mentan SYL: Sekali-kali Perlu Kita Injak juga Kaki Importir
Berbenah Kedelai, Kementan...
Berbenah Kedelai, Kementan Siapkan 6 Varietas Unggul
Terungkap! Indonesia...
Terungkap! Indonesia Negara Pengimpor Kedelai Terbesar Kedua di Dunia
Dorong Petani Tanam...
Dorong Petani Tanam Kedelai, Mentan Sebut Harga Beli Rp10.000 per Kg
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
4 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
4 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
5 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
6 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
6 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
7 jam yang lalu
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved