Rupiah Diprediksi Bertahan di Bawah Rp13.000/USD
Kamis, 19 Februari 2015 - 18:22 WIB
Rupiah Diprediksi Bertahan di Bawah Rp13.000/USD
A
A
A
JAKARTA - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani memperkirakan, rupiah masih akan bertahan di bawah Rp13.000 per dolar Amerika Serikat (USD) sampai penutupan perdagangan pekan depan.
Menurutnya, rupiah memang makin melemah, namun fundamental ekonomi Indonesia akan menyokong nilai rupiah di kisaran Rp12.700-12.800 per USD.
"Tidak mungkin sampai Rp13.000 karena indeks kita masih bagus, cuma persoalan mata uang ini kan terjadi lantaran gejolak ekonomi global, sehingga membuat rupiah makin melemah," kata Aviliani kepada Sindonews, Kamis (19/2/2015).
Sementara itu, lanjut Aviliani, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I belum akan terlihat sebab baru akan tumbuh pada Maret bulan depan, ditambah pula dengan baru disahkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015, sehingga pasar masih menunggu hingga kuartal berikutnya.
Begitu pun, pertumbuhan kredit yang belum terlihat pada kuartal I ini. Dia memperkirakan, pertumbuhan kredit baru akan mulai bergairah pada April mendatang. Jadi pertumbuhan ekonomi pada Januari-Maret masih akan kecil.
"Kredit baru muncul bulan April, jadi pertumbuhan masih kecil di Januari-Maret," tandasnya.
Menurutnya, rupiah memang makin melemah, namun fundamental ekonomi Indonesia akan menyokong nilai rupiah di kisaran Rp12.700-12.800 per USD.
"Tidak mungkin sampai Rp13.000 karena indeks kita masih bagus, cuma persoalan mata uang ini kan terjadi lantaran gejolak ekonomi global, sehingga membuat rupiah makin melemah," kata Aviliani kepada Sindonews, Kamis (19/2/2015).
Sementara itu, lanjut Aviliani, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I belum akan terlihat sebab baru akan tumbuh pada Maret bulan depan, ditambah pula dengan baru disahkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015, sehingga pasar masih menunggu hingga kuartal berikutnya.
Begitu pun, pertumbuhan kredit yang belum terlihat pada kuartal I ini. Dia memperkirakan, pertumbuhan kredit baru akan mulai bergairah pada April mendatang. Jadi pertumbuhan ekonomi pada Januari-Maret masih akan kecil.
"Kredit baru muncul bulan April, jadi pertumbuhan masih kecil di Januari-Maret," tandasnya.
(rna)
Lihat Juga :