ESDM Siap Lahirkan Freeport Baru Lebih Transparan

Jum'at, 20 Februari 2015 - 18:00 WIB
ESDM Siap Lahirkan Freeport...
ESDM Siap Lahirkan Freeport Baru Lebih Transparan
A A A
JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berkomitmen untuk melahirkan wajah baru dari PT Freeport Indonesia yang lebih transparan. Karena, selama ini raksasa tambang asal Amerika Serikat (AS) ini selalu dikaitkan dengan isu politik.

Ketua Tim Sinkronisasi Pengolahan dan Pemurnian Hasil Tambang Said Didu menyebutkan, setidaknya terdapat lima kriteria yang harus diselesaikan pemerintah di Freeport, agar menjadikan raksasa tambang tersebut transparan.

"Saya ketemu tokoh masyarakat untuk mendapatkan aspirasi. Ada lima kriteria yang harus kita selesaikan di Freeport," ujarnya di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (20/2/2015).

Said mengatakan, ke depan operasi pertambangan Freeport harus memiliki kepastian hukum dan legal untuk investasi. Selain itu, kontrak tambang Freeport secara politik dan sosial harus dapat diterima dan dimengerti masyarakat.

"Secara politik dan sosial acceptable, sampai masyarakat bawah mengerti keputusan itu. Dan itu saya lakukan atas izin Pak Menteri ketemu semua tokoh. Saya sudah mendapatkan bagaimana ini bisa diterima untuk seluruh masyarakat," tambah dia.

Menurutnya, kontrak pertambangan Freeport secara bisnis juga harus menguntungkan. Bisnis smelter yang akan dikerjakan Freeport jangan sampai merugikan.

"Makanya harus ada industri pendamping, yaitu pupuk dan semen. Itu harus jadi dulu, kalau itu tidak jadi maka rugi," imbuhnya.

Selain itu, kontrak tambang secara birokrasi harus bisa dilakukan, dan secara internasional harus adjustable. Jangan sampai kontrak tersebut justru membuat pemerintah Indonesia aneh.

"Kenyataannya di Papua Nugini itu banyak tambang seperti Freeport banyak sekali, di Papua hanya satu. Kenapa investor larinya ke Papua Nugini. Berarti ada kaidah internasional yang tidak sesuai dengan kita," tuturnya.

"Freeport ini kan hanya 10x10 kilometer, jadi hanya 10.000 hektare (ha), itu hanya 0,02% dari luas Papua. Tapi seakan-akan Papua tergantung pada Freeport. Ini seharusnya ada Freeport baru," pungkas dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Dukung Kepedulian pada...
Dukung Kepedulian pada Sesama, Kementerian ESDM Hibahkan Aset ke Lembaga Kemanusiaan
Pakai Kursi Roda, PNS...
Pakai Kursi Roda, PNS Kementerian ESDM Priyo Andi Gularso Diperiksa KPK
Penggeledahan Di Kantor...
Penggeledahan Di Kantor ESDM, Arifin Benarkan Terkait Dugaan Korupsi Tukin
Banyak Proyek Migas...
Banyak Proyek Migas Alami Stagnasi, Investasi Tak Capai Target
Anggaran Kementerian...
Anggaran Kementerian ESDM Dipotong Rp3,5 Triliun
KPK Geledah Kantor Kementerian...
KPK Geledah Kantor Kementerian ESDM, Penyidik Bawa 2 koper
Berita Terkini
Harga Serat Naik, Pemilik...
Harga Serat Naik, Pemilik Brand Lokal Mulai Menghitung Ulang Pilihan Kainnya
28 menit yang lalu
Hadapi Ancaman El Nino...
Hadapi Ancaman El Nino 2026, Pekebun Sawit Wajo Dilatih Strategi Adaptasi Cuaca Ekstrem
1 jam yang lalu
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Naik Tembus Rp8.030 Triliun di Akhir Mei 2026
1 jam yang lalu
Purbaya soal Dugaan...
Purbaya soal Dugaan Markup Pikap Kopdes Merah Putih: Lolos Audit Baru Saya Bayar
1 jam yang lalu
Bittime Kantongi Izin...
Bittime Kantongi Izin Perdagangan Futures Pertama di Era Pengawasan Kripto OJK
2 jam yang lalu
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp20.000 per Gram, Cek Daftar Lengkapnya Hari Ini
2 jam yang lalu
Infografis
Deretan Pasal Kontroversial...
Deretan Pasal Kontroversial dalam KUHP Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved