Harga Beras Melambung, Jateng Siapkan OP Besar-besaran
Rabu, 25 Februari 2015 - 02:29 WIB
Harga Beras Melambung, Jateng Siapkan OP Besar-besaran
A
A
A
SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo menegaskan, pemerintah akan melakukan operasi pasar (OP) secara besar-besaran untuk menstabilkan harga beras di pasaran.
Ganjar melihat, kenaikan harga beras hingga mencapai Rp12.000 per kg di tingkat pengecer, sudah terlalu ekstrem dan hal itu berbanding terbalik dengan harga gabah yang masih cukup rendah.
Karena itu, operasi pasar harus dilakukan saat ini juga (Februari) mengingat pada Maret di Jawa Tengah akan panen raya, sehingga jika operasi pasar diulur-ulur, maka akan menggangu panen petani.
"Rasanya pemerintah harus operasi pasar secara serius, jangan kecil-kecilan nanti tidak nendang. Sekarang kan harga dipengaruhi pasar induk, kalau operasi pasar kecil yang tidak akan memberikan efek apa-apa," katanya, Selasa (24/2/2015).
Orang nomor satu di Provinsi Jateng tersebut saat ini mencermati, kenapa lompatan harga beras begitu tinggi bahkan menasional. Karena itu pemerintah Jateng akan mengecek, ke masing-masing daerah dan Bulog sejauh mana stok beras yang ada.
Disinggung terkait adanya dugaan penimbunan beras, Ganjar mengaku tidak bisa spekulasi. "Saya tidak mau berspekulasi, makannya kita akan cek di seluruh Jateng," tandas dia.
Sementara, berdasarkan pantuan di pasar Induk Dargo Semarang, harga beras saat ini untuk C4 Medium, saat ini Rp10.500, dari sebelumnya Rp9.500 per kg, sedangkan untuk beras kelas premim seperi Bramo, C4 Super yang sebelumnya Rp9.600 menjadi Rp11.000 per kg.
Harga tersebut merupakan harga di pasar Induk, sehingga ditingkat pedagang kecil, harganya lebih tinggi, antara Rp1.000-Rp1.500 per kg, sehingga beras eceran dipasaran bisa mencapai Rp12.000 per kg.
Salah satu pedagang beras di Pasar Dargo Dariyah mengaku, kenaikan harga beras saat ini cukup ekstrem. Bahkan dia menyebutnya bukan kenaikan harga melainkan perubahan harga. "Sudah tidak naik lagi mas. Ini harganya berubah, beras sekarang mahal," katanya.
Dariyah mengaku, kenaikan harga sudah berlangsung sejak dua pekan terakhir. Kenaikan terjadi secara bertahap, dan hampir setiap hari mengalami kenaikan. "Baru saja saya ditelpon penjual beras mentik, dia minta harga Rp11.500, ini kan gila, terus saya harus jual berapa, dan pedagang kecil jual berapa?" tandasnya.
Akibat kenaikan harga beras tersebut, pihaknya saat ini tidak berani berspekulasi menyetok barang terlalu banyak, pasalnya dikhawatirkan harga sewaktu-waktu anjlok, karena sudah mendekati musim panen raya. "Lihat saja biasanya gudang penuh sekarang kosong," imbuh dia.
Budi, penjual beras lain di pasar Dargo juga mengaku, kenaikan harga beras karena memang pasokan yang berkurang. Hal itu dikarenakan banyak beras dari Jateng yang diambil pedagang dari Jakarta dan Jawa Barat. "Sekarang pedagang dari Jakarta dan Jawa Barat ngambil berasnya di sini (Jateng), makanya stok berkurang," ujarnya.
Ganjar melihat, kenaikan harga beras hingga mencapai Rp12.000 per kg di tingkat pengecer, sudah terlalu ekstrem dan hal itu berbanding terbalik dengan harga gabah yang masih cukup rendah.
Karena itu, operasi pasar harus dilakukan saat ini juga (Februari) mengingat pada Maret di Jawa Tengah akan panen raya, sehingga jika operasi pasar diulur-ulur, maka akan menggangu panen petani.
"Rasanya pemerintah harus operasi pasar secara serius, jangan kecil-kecilan nanti tidak nendang. Sekarang kan harga dipengaruhi pasar induk, kalau operasi pasar kecil yang tidak akan memberikan efek apa-apa," katanya, Selasa (24/2/2015).
Orang nomor satu di Provinsi Jateng tersebut saat ini mencermati, kenapa lompatan harga beras begitu tinggi bahkan menasional. Karena itu pemerintah Jateng akan mengecek, ke masing-masing daerah dan Bulog sejauh mana stok beras yang ada.
Disinggung terkait adanya dugaan penimbunan beras, Ganjar mengaku tidak bisa spekulasi. "Saya tidak mau berspekulasi, makannya kita akan cek di seluruh Jateng," tandas dia.
Sementara, berdasarkan pantuan di pasar Induk Dargo Semarang, harga beras saat ini untuk C4 Medium, saat ini Rp10.500, dari sebelumnya Rp9.500 per kg, sedangkan untuk beras kelas premim seperi Bramo, C4 Super yang sebelumnya Rp9.600 menjadi Rp11.000 per kg.
Harga tersebut merupakan harga di pasar Induk, sehingga ditingkat pedagang kecil, harganya lebih tinggi, antara Rp1.000-Rp1.500 per kg, sehingga beras eceran dipasaran bisa mencapai Rp12.000 per kg.
Salah satu pedagang beras di Pasar Dargo Dariyah mengaku, kenaikan harga beras saat ini cukup ekstrem. Bahkan dia menyebutnya bukan kenaikan harga melainkan perubahan harga. "Sudah tidak naik lagi mas. Ini harganya berubah, beras sekarang mahal," katanya.
Dariyah mengaku, kenaikan harga sudah berlangsung sejak dua pekan terakhir. Kenaikan terjadi secara bertahap, dan hampir setiap hari mengalami kenaikan. "Baru saja saya ditelpon penjual beras mentik, dia minta harga Rp11.500, ini kan gila, terus saya harus jual berapa, dan pedagang kecil jual berapa?" tandasnya.
Akibat kenaikan harga beras tersebut, pihaknya saat ini tidak berani berspekulasi menyetok barang terlalu banyak, pasalnya dikhawatirkan harga sewaktu-waktu anjlok, karena sudah mendekati musim panen raya. "Lihat saja biasanya gudang penuh sekarang kosong," imbuh dia.
Budi, penjual beras lain di pasar Dargo juga mengaku, kenaikan harga beras karena memang pasokan yang berkurang. Hal itu dikarenakan banyak beras dari Jateng yang diambil pedagang dari Jakarta dan Jawa Barat. "Sekarang pedagang dari Jakarta dan Jawa Barat ngambil berasnya di sini (Jateng), makanya stok berkurang," ujarnya.
(izz)
Lihat Juga :