Pengamat Nilai Kebijakan Pemerintah Penyebab Krisis Beras

Sabtu, 28 Februari 2015 - 11:18 WIB
Pengamat Nilai Kebijakan...
Pengamat Nilai Kebijakan Pemerintah Penyebab Krisis Beras
A A A
JAKARTA - Pengamat menilai kenaikan harga beras yang terjadi belakangan ini bukan disebabkan adanya mafia dalam perdagangan. Namun, kebijakan pemerintah yang dinilai menjadi dalang harga beras terus meroket.

Pengamat Pertanian Khudori mengungkapkan, rencana pemerintah yang ingin menghapus beras miskin (raskin) dan menggantinya dengan e-money menjadi salah satu penyebab. Sebab, raskin menjadi sandaran hidup 15,5 juta masyarakat miskin.

"Raskin terlambat dibagikan karena katanya mau diganti e-money. Padahal itu (raskin) jadi sandaran hidup 15,5 juta masyarakat miskin," jelasnya dalam Diskusi Polemik Sindo Trijaya, di Waroeng Daun, Jakarta, Sabtu (28/2/2015).

Selain itu, lanjut dia, program Operasi Pasar yang dikerjakan pemerintah justru tidak efektif dan tidak menjangkau seluruh masyarakat miskin. Bahkan, beras operasi pasar yang seharusnya dijual dengan harga Rp7.400 per liter justru dijual lebih mahal.

"Operasi pasar itu enggak efektif. Dari Desember sampai Januari, Bulog dengan menggandeng pedagang itu telah menggelontorkan 75 ribu ton beras. Ternyata ditemukan beras yang harusnya dijual Rp7.400 per liter tidak ada yang jual segitu," imbuhnya.

Menurut Khudori, iklim dan cuaca yang tidak menentu juga menjadi penyebab harga beras merangkak naik. Sebab, pada Februari yang semestinya sudah panen raya, namun hujan terlambat datang dan panen pun molor.

"Musim paceklik bertambah panjang. Ini yang kurang diantisipasi. Salah satu yang paling mudah seberapa besar beras masuk ke Pasar Induk Beras Cipinang? Biasanya 3.000 ton, sekarang turunnya luar biasa," terangnya.

Dia menambahkan, konotasi mafia yang disematkan Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel pun dirasa tidak sesuai untuk oknum yang bermain dalam perdagangan beras. Sebab, mafia merupakan perkumpulan rahasia yang bergerak di bidang kejahatan. "Pak Gobel lebih cenderung ke kartel," pungkas Khudori.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pecah Rekor, Impor Beras...
Pecah Rekor, Impor Beras 2024 Butuh Anggaran Lebih Rp30 Triliun
Peningkatan Produksi...
Peningkatan Produksi Beras Disebut Hanya 0,55% dalam 22 Tahun, Gak Bahaya Ta?
Harga Beras Naik Gila-gilaan,...
Harga Beras Naik Gila-gilaan, Produksi RI Minus 2,8 Juta Ton
Anomali Harga Beras...
Anomali Harga Beras Bikin Boncos Rp99 T, Pemerintah Ultimatum Pelaku Usaha 2 Minggu
Beras Premium Langka...
Beras Premium Langka dan Mahal, Begini Penjelasan BI Jakarta
Awas, Harga Beras Dapat...
Awas, Harga Beras Dapat Mencapai 30 Ribu per Kilo, Ini Penyebabnya
Berita Terkini
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
31 menit yang lalu
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
10 jam yang lalu
PLN EPI Targetkan Pengembangan...
PLN EPI Targetkan Pengembangan Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Dukung Transisi Energi
10 jam yang lalu
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
11 jam yang lalu
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
11 jam yang lalu
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
12 jam yang lalu
Infografis
Pemerintah Tetapkan...
Pemerintah Tetapkan 25 Hari Libur dan Cuti Bersama di Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved