Menkeu Bantah Pelemahan Rupiah Untungkan Pemerintah
Rabu, 11 Maret 2015 - 14:32 WIB
Menkeu Bantah Pelemahan Rupiah Untungkan Pemerintah
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) membantah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) memberi untung kepada pemerintah. Meskipun, pelemahan rupiah mengakibatkan penerimaan negara dari sektor minyak dan gas (migas) bertambah.
Hal ini dikatakannya menanggapi sejumlah pemberitaan yang mengatakan bahwa pemerintah mendapatkan keuntungan dari terpuruknya nilai tukar mata uang Garuda tersebut.
"Saya hanya menyampaikan fakta, faktanya memang surplus bertambah. Jangan dibilang pemerintah nyari untung. Pemerintah tidak nyari untung dari pelemahan rupiah," kata dia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/3/2015).
Menurutnya, pihaknya saat ini menyoroti pelemahan rupiah yang justru bisa mengganggu utang swasta dan sektor riil. "Terutama perusahaan manufaktur yang impor kontennya masih tinggi, jadi kita concern‬," imbuh Bambang.
Kendati demikian, wakil menteri keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini mengakui bahwa penerimaan negara dari sektor migas bertambah dengan semakin terpuruknya rupiah. Namun, bertambahnya penerimaan negara tidak berarti bagus untuk perekonomian Indonesia.
"Karena yang lebih kita pentingkan adalah stabilitas makro. Kalau stabilitas makro terjaga, pertumbuhan terjaga, penerimaan pajak lebih banyak lagi. Itu lebih berarti dari pada sekadar pelemahan rupiah yang menambah penerimaan migas," tandasnya.
Hal ini dikatakannya menanggapi sejumlah pemberitaan yang mengatakan bahwa pemerintah mendapatkan keuntungan dari terpuruknya nilai tukar mata uang Garuda tersebut.
"Saya hanya menyampaikan fakta, faktanya memang surplus bertambah. Jangan dibilang pemerintah nyari untung. Pemerintah tidak nyari untung dari pelemahan rupiah," kata dia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/3/2015).
Menurutnya, pihaknya saat ini menyoroti pelemahan rupiah yang justru bisa mengganggu utang swasta dan sektor riil. "Terutama perusahaan manufaktur yang impor kontennya masih tinggi, jadi kita concern‬," imbuh Bambang.
Kendati demikian, wakil menteri keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini mengakui bahwa penerimaan negara dari sektor migas bertambah dengan semakin terpuruknya rupiah. Namun, bertambahnya penerimaan negara tidak berarti bagus untuk perekonomian Indonesia.
"Karena yang lebih kita pentingkan adalah stabilitas makro. Kalau stabilitas makro terjaga, pertumbuhan terjaga, penerimaan pajak lebih banyak lagi. Itu lebih berarti dari pada sekadar pelemahan rupiah yang menambah penerimaan migas," tandasnya.
(rna)