BI Optimistis RI Tahan Banting Hadapi Sentimen The Fed
Kamis, 12 Maret 2015 - 09:51 WIB
BI Optimistis RI Tahan Banting Hadapi Sentimen The Fed
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) optimistis Indonesia akan tahan banting menghadapi gejolak ekonomi dunia akibat sentimen dari akan dinaikkannya suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed). Hal ini dilihat dari kondisi makroekonomi Indonesia saat ini yang lebih baik.
Gubernur BI Agus Martowardojo menuturkan, beberapa indikator makroekonomi, seperti inflasi yang mengarah ke angka sesuai target 4%. Selain itu, ruang fiskal juga sangat baik dengan dicabutnya subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM).
"Kami juga jelaskan perkembangan nilai tukar, tapi secara umum Indonesia dalam keadaan cukup baik. inflasi mengarah ke 4% di 2015. Kita juga melihat yield surat utang kita dari 8% juga turun 7% dan kredit terus membaik," tuturnya di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/3/2015) malam.
Hal ini menunjukkan bahwa risiko Indonesia cukup baik dibanding negara berkembang utama lainnya. Kendati nilai tukar rupiah saat ini menghadapi volatilitas, namun secara umum masih dalam kondisi aman.
"Kami sampaikan BI akan selalu ada di pasar agar volatilitas tidak tinggi. Ada dibatas yang dapat diterima, dan nilai tukar selalu mengarah ke kondisi fundamental Indonesia. BI trus mengikuti sejak 2014, 2015, apabila volatilitas tinggi, BI pasti akan masuk untuk tetap menjaga kepercayaan masyarakat," imbuhnya.
Terlebih, sambung dia, dengan komitmen pemerintah untuk memperbaiki transaksi berjalan cukup membuat pihaknya merasa lega. BI akan terus mewaspadai perkembangan inflasi dan transaksi berjalan agar berkembang menuju tingkat yang lebih sehat.
"Selain itu, komitmen untuk melaksanakan APBN, menjaga penerimaan negara untuk membiayai APBN. Pembangunan infrastruktur dilaksanakan dengan baik, PTSP akan dilaksanakan dengan baik, itu kami menyambut baik," tandas Agus.
Gubernur BI Agus Martowardojo menuturkan, beberapa indikator makroekonomi, seperti inflasi yang mengarah ke angka sesuai target 4%. Selain itu, ruang fiskal juga sangat baik dengan dicabutnya subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM).
"Kami juga jelaskan perkembangan nilai tukar, tapi secara umum Indonesia dalam keadaan cukup baik. inflasi mengarah ke 4% di 2015. Kita juga melihat yield surat utang kita dari 8% juga turun 7% dan kredit terus membaik," tuturnya di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/3/2015) malam.
Hal ini menunjukkan bahwa risiko Indonesia cukup baik dibanding negara berkembang utama lainnya. Kendati nilai tukar rupiah saat ini menghadapi volatilitas, namun secara umum masih dalam kondisi aman.
"Kami sampaikan BI akan selalu ada di pasar agar volatilitas tidak tinggi. Ada dibatas yang dapat diterima, dan nilai tukar selalu mengarah ke kondisi fundamental Indonesia. BI trus mengikuti sejak 2014, 2015, apabila volatilitas tinggi, BI pasti akan masuk untuk tetap menjaga kepercayaan masyarakat," imbuhnya.
Terlebih, sambung dia, dengan komitmen pemerintah untuk memperbaiki transaksi berjalan cukup membuat pihaknya merasa lega. BI akan terus mewaspadai perkembangan inflasi dan transaksi berjalan agar berkembang menuju tingkat yang lebih sehat.
"Selain itu, komitmen untuk melaksanakan APBN, menjaga penerimaan negara untuk membiayai APBN. Pembangunan infrastruktur dilaksanakan dengan baik, PTSP akan dilaksanakan dengan baik, itu kami menyambut baik," tandas Agus.
(rna)
Lihat Juga :