Paket Kebijakan Ekonomi Dianggap Tak Substansial

Selasa, 17 Maret 2015 - 14:20 WIB
Paket Kebijakan Ekonomi...
Paket Kebijakan Ekonomi Dianggap Tak Substansial
A A A
JAKARTA - Pengamat keuangan Farial Anwar menilai bahwa paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah tidak signifikan karena tidak menyentuh persoalan konkret (substansial) untuk menahan depresiasi rupiah.

"Saya pesimistis kebijakan ini dapat berdampak cepat. Ini semuanya akan butuh waktu dan kita butuh penanganan cepat," ujar Farial, Selasa (17/3/2015).

Menurutnya, hal yang paling mendesak adalah memenuhi suplai USD di pasar. Suplai USD yang paling realistis dari Devisa Hasil Ekspor (DHE), namun sayangnya DHE yang tercatat tidak bertahan lama karena langsung ditransfer ke luar negeri.

Dia berpendapat, pemerintah seharusnya mempunyai instrumen untuk menjaga DHE di dalam negeri. "Aturan UU Nomor 24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar tidak menahannya. USD itu tidak ada di pasar uang kita," ujarnya.

Selain itu, juga tidak ada aturan untuk mewajibkan penggunaan rupiah di dalam negeri. Seharusnya, kata dia, ada aturan sektor mana saja yang diwajibkan untuk menggunakan rupiah. Misalnya, minyak dan gas (migas), pelabuhan darat dan laut, sewa gedung hingga pembayaran hotel di Bali.

Hal ini diamini oleh pengamat ekonomi Lana Soelistianingsih yang mengatakan, paket kebijakan pemerintah tersebut baru dapat dirasakan enam bulan ke depan.

"Saya tidak berani sebut akan sampai di mana rupiah, tapi seharusnya ada kebijakan yang lebih taktis. Kita butuh perbaikan secepatnya," ujar Lana.

Mengenai persoalan DHE, dia menilai, harus ditangani oleh kementerian. Semua menteri harus turun dan bicara kepada industri di bawah lembaganya atau melalui Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk mendorong DHE paling lambat dapat diterima dua bulan dari penerimaan saat ini hingga 6 bulan.

"Semua menteri harus turun ke lapangan bicara ke industri, jangan hanya duduk di kantor. Selama ini, industri sudah dibantu, sekarang saatnya bantu pemerintah," ujarnya.

Dia mengaku, tidak bisa membayangkan bagaimana posisi rupiah saat The Fed menaikkan suku bunga nanti. Saat ini, pelemahan rupiah semakin membuat aset di pasar modal kian melemah.

"Pegang saham tidak akan menarik lagi nantinya karena aset rupiah tidak stabil," ujarnya.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Menguat Ditopang...
Rupiah Menguat Ditopang Tren Positif Pertumbuhan Ekonomi RI
Jika Rupiah Tembus Rp20...
Jika Rupiah Tembus Rp20 Ribu, Akademisi Proyeksikan Ekonomi RI Hanya Tumbuh 3%
Rupiah Betah Nangkring...
Rupiah Betah Nangkring di Atas Rp16.200, Ekonomi RI dalam Ancaman
Inflasi Terkendali,...
Inflasi Terkendali, Rupiah Stabil: Pemerintah Jaga Kepercayaan Investor
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,4%, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp14.894
Mata Uang RI Undervalue,...
Mata Uang RI Undervalue, Perry Warjiyo: Fundamental Ekonomi Kuat, Seharusnya Rupiah Stabil
Berita Terkini
Concord Industry Tegaskan...
Concord Industry Tegaskan Komitmen Perkuat Industri Keramik di Keramika 2026
22 menit yang lalu
Kurs Tembus Rp18 Ribu,...
Kurs Tembus Rp18 Ribu, Gubernur BI Siapkan 2 Jurus Jaga Nilai Tukar Rupiah
55 menit yang lalu
Menangkap Pangsa Terbesar...
Menangkap Pangsa Terbesar Wisata Medis, Malaysia Fair 2026 Hadir di Jakarta
1 jam yang lalu
Petani Sawit: Margin...
Petani Sawit: Margin dan Kewenangan BUMN Tentukan Harga Jadi Beban Berat Ekosistem Sawit
2 jam yang lalu
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
5 jam yang lalu
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
7 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved