Pilihan Bijak untuk Harga Ekonomis
Rabu, 08 April 2015 - 09:53 WIB
Pilihan Bijak untuk Harga Ekonomis
A
A
A
Batako kerap dianggap sebagai material pengganti bata merah yang memiliki konsep bagus tetapi eksekusinya belum sempurna sepenuhnya. Apa kelebihan dan kekurangan bahan bangunan satu ini?
Dengan proses kerja yang tidak melalui tahap pembakaran, ukuran material yang lebih persisi, tidak mudah patah, kualitas yang lebih terjamin, serta proses pengerjaan yang lebih cepat membuat batako sempat booming pada tahun 1990- an. Bahkan, pembeli harus rela mengantre demi mendapatkan material pembentuk dinding ini.
“Dulu, kalau mau beli batako harus antre. Paling cepat dua minggu, bahkan bisa sampai satu bulan lebih karena material ini sedang sangat diburu,” ujar Danang, seorang pemilik usaha pembuatan batako. Danang mengakui kini antusiasme orang untuk menggunakan batako tidak sebesar dulu. Banyaknya jenis material dinding yang beredar di pasaran bisa jadi merupakan salah satu penyebabnya.
Danang juga tidak menutup mata, ada beberapa orang yang menyangsikan kekuatan batako. Dari mulai gampang hancur, memiliki porositas yang besar, dan tidak bisa digantungi beban terlalu berat. Namun, dia tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan orang tersebut. Menurut Danang, ada banyak jenis batako di pasaran. Kualitasnya pun berbeda-beda.
“Saya akui, setiap tempat pembuatan batako itu kualitasnya tidak seragam. Ini yang membuat sulit untuk membalikkan persepsi masyarakat,” sebutnya. Bambang Tri Handoko, kontraktor perumahan khusus rumah mungil berukuran 36 meter persegi, mengakui bahwa secara konsep material, batako sebenarnya menarik. Hanya, secara eksekusi memang masih banyak kelemahan.
Meski demikian, harga yang murah dan proses pekerjaan yang cepat pada akhirnya membuat material ini bertahan di pasaran. “Secara harga bagus, kompetitif. Batako juga membantu proses pengerjaan bangunan lebih cepat. Hanya, secara kualitas memang perlu ditingkatkan lagi agar sempurna,” ucap Bambang.
Secara tampilan, batako terbagi menjadi dua, yaitu batako berlubang (hollow block) dan batako tidak berlubang (solid block). Batako berlubang adalah batako yang di tengahnya memiliki rongga. Ada yang rongganya dua, ada juga yang rongganya tiga. Dari segi adonan, batako juga dibagi menjadi dua, yaitu batako putih atau bisa disebut dengan tras dan batako semen atau disebut batako press.
Batako putih terbuat dari campuran tras, kapur, dan air. Campuran tersebut dicetak, lalu dibakar. Tras merupakan jenis tanah berwarna putih atau putih kecokelatan yang berasal dari pelapukan batu-batuan gunung berapi. Sementara, batako semen atau press dibuat dari campuran semen PC dan pasir atau abu batu.
Material ini mirip dengan batako, hanya komposisi campurannya berbeda. Dulu, pasangan ideal batako adalah plesteran semen konvensional. Kini, batako sudah bisa dipasangkan dengan semen instan. Jika “dikawinkan” dengan semen konvensional, tebal antarbatako adalah 2 cm. Sementara, jika dikawinkan dengan plesteran semen instan, tebalnya mencapai 5 mm.
Untuk batako seluas 1 meter dapat dikerjakan dalam waktu 15 sampai 20 menit. Dengan syarat, material adukan sudah jadi. Untuk pengeringan, jika menggunakan plester konvensional, harus melalui proses selama tiga minggu. Sementara, kalau menggunakan semen instan harus melalui proses pengeringan selama lima sampai tujuh hari.
Aprilia s andyna
Dengan proses kerja yang tidak melalui tahap pembakaran, ukuran material yang lebih persisi, tidak mudah patah, kualitas yang lebih terjamin, serta proses pengerjaan yang lebih cepat membuat batako sempat booming pada tahun 1990- an. Bahkan, pembeli harus rela mengantre demi mendapatkan material pembentuk dinding ini.
“Dulu, kalau mau beli batako harus antre. Paling cepat dua minggu, bahkan bisa sampai satu bulan lebih karena material ini sedang sangat diburu,” ujar Danang, seorang pemilik usaha pembuatan batako. Danang mengakui kini antusiasme orang untuk menggunakan batako tidak sebesar dulu. Banyaknya jenis material dinding yang beredar di pasaran bisa jadi merupakan salah satu penyebabnya.
Danang juga tidak menutup mata, ada beberapa orang yang menyangsikan kekuatan batako. Dari mulai gampang hancur, memiliki porositas yang besar, dan tidak bisa digantungi beban terlalu berat. Namun, dia tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan orang tersebut. Menurut Danang, ada banyak jenis batako di pasaran. Kualitasnya pun berbeda-beda.
“Saya akui, setiap tempat pembuatan batako itu kualitasnya tidak seragam. Ini yang membuat sulit untuk membalikkan persepsi masyarakat,” sebutnya. Bambang Tri Handoko, kontraktor perumahan khusus rumah mungil berukuran 36 meter persegi, mengakui bahwa secara konsep material, batako sebenarnya menarik. Hanya, secara eksekusi memang masih banyak kelemahan.
Meski demikian, harga yang murah dan proses pekerjaan yang cepat pada akhirnya membuat material ini bertahan di pasaran. “Secara harga bagus, kompetitif. Batako juga membantu proses pengerjaan bangunan lebih cepat. Hanya, secara kualitas memang perlu ditingkatkan lagi agar sempurna,” ucap Bambang.
Secara tampilan, batako terbagi menjadi dua, yaitu batako berlubang (hollow block) dan batako tidak berlubang (solid block). Batako berlubang adalah batako yang di tengahnya memiliki rongga. Ada yang rongganya dua, ada juga yang rongganya tiga. Dari segi adonan, batako juga dibagi menjadi dua, yaitu batako putih atau bisa disebut dengan tras dan batako semen atau disebut batako press.
Batako putih terbuat dari campuran tras, kapur, dan air. Campuran tersebut dicetak, lalu dibakar. Tras merupakan jenis tanah berwarna putih atau putih kecokelatan yang berasal dari pelapukan batu-batuan gunung berapi. Sementara, batako semen atau press dibuat dari campuran semen PC dan pasir atau abu batu.
Material ini mirip dengan batako, hanya komposisi campurannya berbeda. Dulu, pasangan ideal batako adalah plesteran semen konvensional. Kini, batako sudah bisa dipasangkan dengan semen instan. Jika “dikawinkan” dengan semen konvensional, tebal antarbatako adalah 2 cm. Sementara, jika dikawinkan dengan plesteran semen instan, tebalnya mencapai 5 mm.
Untuk batako seluas 1 meter dapat dikerjakan dalam waktu 15 sampai 20 menit. Dengan syarat, material adukan sudah jadi. Untuk pengeringan, jika menggunakan plester konvensional, harus melalui proses selama tiga minggu. Sementara, kalau menggunakan semen instan harus melalui proses pengeringan selama lima sampai tujuh hari.
Aprilia s andyna
(bbg)
Lihat Juga :