BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan 7,5%
Selasa, 14 April 2015 - 15:56 WIB
BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan 7,5%
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 7,5% dengan suku bunga deposite facility 5,50% dan landing facility 8,0%. Penahanan suku bunga ini yang ketiga kalinya dilakukan BI semenjak suku bunga diturunkan 0,25% dari angka 7,75%.
Keputusan tersebut sejalan dengan sasaran inflasi 4 plus minus 1% pada 2015-2016. Selain itu, mengarahkan defisit neraca berjalan ke tingkat yang lebih sehat di kisaran 2-3% terhadap PDB dalam jangka menengah.
"Sehubungan dengan itu, BI tetap akan memperkuat stabilitasi rupiah, bauran kebijakan tetap difokuskan pada menjaga stabilitas makro ekonomi ditengah meningkatnya ketidakpastian di pasar global," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (14/4/2015).
Dia menambahkan, dalam konteks ini BI berkomitmen untuk menjaga kebijakan moneter dan makro prudensial serta meninggkatkan koordinasi dengan pemerintah dalam pengendalian inflasi dan defisit neraca berjalan serta mendorong percepatan reformasi struktural.
"Dalam hal ini BI mendukung langkah-langkah struktural yang dilakukan pemerintah dalam reformasi struktural dalam rangka memperkuat neraca pembayaran dan pembangunan infrastruktur," katanya.
Pemulihan ekonomi global, kata Tirta, masih terus berlangsung terutama ditopang oleh pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang semakin solid. Namun, AS saat ini pemulihan ekonominya sedang melambat.
"Ekonomi global memang terjadi pemulihan namun secara melambat. Pemulihan untuk Amerika Serikat sendiri tidak sekuat perkiraan sebelumnya. Itu disebabkan karena penguatan dolar AS terhadap permintaan ekspornya. Ke depannya, ada indikasi bahwa kenaikan untuk fed fund rate lebih kecil dan lebih lambat dari perkiraan kita," pungkas dia.
Keputusan tersebut sejalan dengan sasaran inflasi 4 plus minus 1% pada 2015-2016. Selain itu, mengarahkan defisit neraca berjalan ke tingkat yang lebih sehat di kisaran 2-3% terhadap PDB dalam jangka menengah.
"Sehubungan dengan itu, BI tetap akan memperkuat stabilitasi rupiah, bauran kebijakan tetap difokuskan pada menjaga stabilitas makro ekonomi ditengah meningkatnya ketidakpastian di pasar global," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (14/4/2015).
Dia menambahkan, dalam konteks ini BI berkomitmen untuk menjaga kebijakan moneter dan makro prudensial serta meninggkatkan koordinasi dengan pemerintah dalam pengendalian inflasi dan defisit neraca berjalan serta mendorong percepatan reformasi struktural.
"Dalam hal ini BI mendukung langkah-langkah struktural yang dilakukan pemerintah dalam reformasi struktural dalam rangka memperkuat neraca pembayaran dan pembangunan infrastruktur," katanya.
Pemulihan ekonomi global, kata Tirta, masih terus berlangsung terutama ditopang oleh pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang semakin solid. Namun, AS saat ini pemulihan ekonominya sedang melambat.
"Ekonomi global memang terjadi pemulihan namun secara melambat. Pemulihan untuk Amerika Serikat sendiri tidak sekuat perkiraan sebelumnya. Itu disebabkan karena penguatan dolar AS terhadap permintaan ekspornya. Ke depannya, ada indikasi bahwa kenaikan untuk fed fund rate lebih kecil dan lebih lambat dari perkiraan kita," pungkas dia.
(izz)
Lihat Juga :