Mantan Menkeu: RI Harus Hati-hati Impor Anjlok
Rabu, 15 April 2015 - 13:54 WIB
Mantan Menkeu: RI Harus Hati-hati Impor Anjlok
A
A
A
JAKARTA - Pengamat ekonomi makro yang juga mantan Menteri Keuangan (Menkeu) era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Chatib Basri mengungkapkan, meski neraca perdagangan surplus, namun Indonesia harus tetap berhati-hati dengan kondisi tersebut. Pasalnya, ini lebih didorong penurunan impor yang sangat tajam.
Seperti diketahui, hari ini Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus di angka USD1,13 miliar pada Maret 2015. Ini merupakan kali ketiga dalam tahun ini neraca perdagangan Indonesia surplus.
"Saya kira ada berita baik untuk Indonesia, neraca perdagangan surplus USD1,13 miliar. Ini baik sekali. Namun ada baiknya kita tetap hati-hati, mengapa? Karena suprlus yang besar ini, lebih didorong oleh penurunan impor yang tajam ketimbang perbaikan ekspor," ujar dalam akun twitternya @ChatibBasri siang ini, Rabu (15/4/2015).
Menurutnya, jika dilihat berdasarkan data, pada Maret 2015 (yoy) ekspor tumbuh 6,6% (menurun), sedangkan impor dalam periode sama tumbuh 13,39%. Pada Januari-Maret 2015 (yoy) ekspor tumbuh 11,67%, sedangkan dalam periode yang sama impor tumbuh 15,1%. Penurunan impornya lebih tajam.
"Nah mengapa perlu hati-hati? Karena komponen impor terbesar adalah barang modal dan bahan baku. Impor barang modal tumbuh 10,3% dan bahan baku 16,1%," imbuhnya.
Chatib mengatakan, jika impor barang modal dan bahan baku turun, maka perusahaan mengurangi pembelian bahan baku dan modal. Artinya produksi enam bulan ke depan turun.
"Karena itu kita surplus neraca perdagangan ini bisa jadi indikasi awal perlambatan pertumbuhan ekonomi," pungkas pria yang juga pernah menjabat Ketua BKPM ini.
(Baca: Neraca Perdagangan Maret Surplus Rp14,64 Triliun)
Seperti diketahui, hari ini Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus di angka USD1,13 miliar pada Maret 2015. Ini merupakan kali ketiga dalam tahun ini neraca perdagangan Indonesia surplus.
"Saya kira ada berita baik untuk Indonesia, neraca perdagangan surplus USD1,13 miliar. Ini baik sekali. Namun ada baiknya kita tetap hati-hati, mengapa? Karena suprlus yang besar ini, lebih didorong oleh penurunan impor yang tajam ketimbang perbaikan ekspor," ujar dalam akun twitternya @ChatibBasri siang ini, Rabu (15/4/2015).
Menurutnya, jika dilihat berdasarkan data, pada Maret 2015 (yoy) ekspor tumbuh 6,6% (menurun), sedangkan impor dalam periode sama tumbuh 13,39%. Pada Januari-Maret 2015 (yoy) ekspor tumbuh 11,67%, sedangkan dalam periode yang sama impor tumbuh 15,1%. Penurunan impornya lebih tajam.
"Nah mengapa perlu hati-hati? Karena komponen impor terbesar adalah barang modal dan bahan baku. Impor barang modal tumbuh 10,3% dan bahan baku 16,1%," imbuhnya.
Chatib mengatakan, jika impor barang modal dan bahan baku turun, maka perusahaan mengurangi pembelian bahan baku dan modal. Artinya produksi enam bulan ke depan turun.
"Karena itu kita surplus neraca perdagangan ini bisa jadi indikasi awal perlambatan pertumbuhan ekonomi," pungkas pria yang juga pernah menjabat Ketua BKPM ini.
(Baca: Neraca Perdagangan Maret Surplus Rp14,64 Triliun)
(izz)
Lihat Juga :