Produk Kulit Sukaregang Diharapkan Jadi Ikon Nasional

Senin, 27 April 2015 - 15:48 WIB
Produk Kulit Sukaregang...
Produk Kulit Sukaregang Diharapkan Jadi Ikon Nasional
A A A
GARUT - Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin menginginkan sentra industri kulit Sukaregang menjadi ikon industri kulit nasional. Meski begitu, Saleh mengaku terdapat sejumlah hambatan yang dialami para penyamak dan perajin kulit.

“Dari pertemuan (dengan penyamak dan perajin kulit) itu, ternyata ada banyak sekali kendala yang dihadapi. Misalnya, persoalan kesulitan bahan baku, aspek pasar dan desain, sumber daya manusia, teknologi hingga pengelolaan limbah pascaproduksi,” kata Saleh di Garut, Senin (27/4/2015).

Menurut para penyamak dan perajin, dia menambahkan, kesulitan dalam hal memperoleh bahan baku karena mereka harus mengimpor dengan harga cukup tinggi. Kondisi tersebut karena impor bahan baku tidak terjadi secara langsung dengan negara pengekspor, melainkan mesti melewati negara lain dahulu.

“Mereka jika ingin mengimpor bahan baku kulit dari Arab Saudi itu harus melalui negara perantara dahulu. Semestinya bisa langsung. Kulit dari Arab Saudi itu merupakan hasil dari hewan yang dikurbankan di Tanah Suci. Sebenarnya bisa langsung. Saya sudah berkoordinasi dengan pak Dirjen. Beliau menjelaskan masalah ini bisa diatasi,” paparnya.

Mengenai masalah aspek pasar dan desain, Saleh mengatakan, pihaknya sudah meneken perjanjian kesepakatan dengan Duta Besar Italia untuk Indonesia. Kerja sama tersebut ditujukan untuk meningkatkan mutu dan desain.

“Untuk masalah limbah, kita sudah koordinasi dengan DPD (Dewan Perwakilan Daerah) dan Lingkungan Hidup (LH) agar masalah ini bisa teratasi," ujarnya.

Dia berharap, industri kulit memiliki program-program baik dalam peralatan desain dan pendekatan mutu. Diharapkan juga bisa menjadi ikon Indonesia.

"Bagaimana tidak, kualitas kulit dari Sukaregang ini tidak kalah dengan Turki. Harga kulit hasil produksi Turki adalah USD1.000, sementara hasil produk Sukaregang hanya USD100,” ungkapnya.

Sekretaris Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Kabupaten Garut Yusuf mengungkapkan, hambatan yang dihadapi para pelaku industri kulit Sukaregang adalah sulitnya mendapat bahan baku.

"Sementara kondisi pasar lesu. Impor harga mahal, sehingga sulit bersaing. Teknologi juga masih kurang. Apalagi selama ini kami menghadapi persoalan dalam mengelola limbah. Semoga bisa diselesaikan dengan lintas kementerian,” tandasnya.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Gelar Inovasi Produk...
Gelar Inovasi Produk dan Kompetisi Barista: Kemenperin Perkenalkan Susu Kacang Mede Lokal Pertama di Indonesia
Inovatif dalam Teknologi,...
Inovatif dalam Teknologi, 11 Perusahaan Raih Penghargaan Rintek
Menperin Turun Langsung...
Menperin Turun Langsung Pantau Penerapan Protokol Kesehatan di Pabrik Makanan Ini
Kemenperin Buka 971...
Kemenperin Buka 971 Formasi CPNS, Dari Tenaga Teknis hingga Kesehatan
Pulihkan Ekonomi Nasional,...
Pulihkan Ekonomi Nasional, Menperin Dorong Peran Pengusaha Wanita
Harga Gas Diusulkan...
Harga Gas Diusulkan Naik di Atas USD6 per MMBTU
Berita Terkini
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
17 menit yang lalu
Transaksi Olein di JFX...
Transaksi Olein di JFX Naik Tembus Rp7,3 Triliun, Timah Ikut Menguat
59 menit yang lalu
S&P Dow Jones Ancam...
S&P Dow Jones Ancam Turunkan Status Pasar Saham Indonesia, BEI Buka Suara
1 jam yang lalu
Asabri Kolaborasi Beri...
Asabri Kolaborasi Beri Kemudahan Kepemilikan Kendaraan bagi Peserta
2 jam yang lalu
Superbank Gandeng OVO...
Superbank Gandeng OVO Perluas Akses Pembiayaan Digital Satu Aplikasi
2 jam yang lalu
Koper Jadi Ukuran Baru...
Koper Jadi Ukuran Baru Kenyamanan, Piece Concept Mulai Dibicarakan Penumpang RI
2 jam yang lalu
Infografis
Profil Letjen TNI Robi...
Profil Letjen TNI Robi Herbawan, Ajudan Prabowo yang Jadi Kabais TNI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved