Dampak Pandemi Corona, Waspadai Neraca Dagang Semester II
Kamis, 16 Juli 2020 - 09:06 WIB
Namun, apakah catatan positif tersebut akan terus berlanjut di bulan-bulan selanjutnya? Harapannya memang begitu. Tapi kondisi itu bisa saja berbalik pada semester II/2020.
Alasannya, pada bulan Juni ada indikasi kenaikan impor bahan baku dan barang modal 24% dan 27,3% secara bulanan (mtm). Kondisi ini menandakan adanya harapan industri mulai berproduksi untuk persiapan tiga bulan ke depan. “Setidaknya ini untuk mengantisipasi pemulihan yang bertahap di dalam negeri,” ungkap Ekonom Indef Bhima Yudhistira saat dihubungi di Jakarta kemarin.
Kenaikan impor bahan baku tersebut memang menggembirakan karena ini menandakan industri pengolahan mulai menggeliat. Sayangnya, kenaikan impor bahan baku tersebut tidak dibarengi impor bahan baku yang akan dijadikan produk untuk tujuan ekspor. “Antara angka kenaikan impor bahan baku, barang modal dengan kinerja ekspor nonmigas masih terdapat gap. Ekspor nonmigas tercatat naik 15,7% lebih rendah dari kenaikan impor bahan baku,” bebernya. (Baca juga: Neraca Dagang Surplus, Sri Mulyani Optimistis Ekonomi Bangkit di Kuartal III/2020)
Bhima memperkirakan hingga akhir tahun recovery kinerja ekspor masih berjalan lamban. Indikasinya adalah negara-negara tujuan ekspor utama melakukan pembatasan kembali aktivitas ekonominya setelah terjadi kenaikan kasus Covid-19. “Ini kembali mengganggu arus logistik dan permintaan secara agregat,” katanya.
Sementara itu, Singapura yang mengalami resesi cukup dalam juga menjadi indikasi bahwa kinerja ekspor di kawasan masih membutuhkan waktu. “Diperkirakan baru 2021 akan recovery bertahap,” papar Bhima.
Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengungkapkan, dengan dibukanya lockdown di negara-negara tujuan ekspor, diharapkan pada bulan-bulan berikutnya neraca perdagangan masih bisa surplus. “Tentu harus diimbangi pengendalian impor yang baik. Impor barang modal, bahan baku dan penolong masih baik, tetapi impor barang konsumtif dikendalikan dengan ketat,” kata Ryan.
Alasannya, pada bulan Juni ada indikasi kenaikan impor bahan baku dan barang modal 24% dan 27,3% secara bulanan (mtm). Kondisi ini menandakan adanya harapan industri mulai berproduksi untuk persiapan tiga bulan ke depan. “Setidaknya ini untuk mengantisipasi pemulihan yang bertahap di dalam negeri,” ungkap Ekonom Indef Bhima Yudhistira saat dihubungi di Jakarta kemarin.
Kenaikan impor bahan baku tersebut memang menggembirakan karena ini menandakan industri pengolahan mulai menggeliat. Sayangnya, kenaikan impor bahan baku tersebut tidak dibarengi impor bahan baku yang akan dijadikan produk untuk tujuan ekspor. “Antara angka kenaikan impor bahan baku, barang modal dengan kinerja ekspor nonmigas masih terdapat gap. Ekspor nonmigas tercatat naik 15,7% lebih rendah dari kenaikan impor bahan baku,” bebernya. (Baca juga: Neraca Dagang Surplus, Sri Mulyani Optimistis Ekonomi Bangkit di Kuartal III/2020)
Bhima memperkirakan hingga akhir tahun recovery kinerja ekspor masih berjalan lamban. Indikasinya adalah negara-negara tujuan ekspor utama melakukan pembatasan kembali aktivitas ekonominya setelah terjadi kenaikan kasus Covid-19. “Ini kembali mengganggu arus logistik dan permintaan secara agregat,” katanya.
Sementara itu, Singapura yang mengalami resesi cukup dalam juga menjadi indikasi bahwa kinerja ekspor di kawasan masih membutuhkan waktu. “Diperkirakan baru 2021 akan recovery bertahap,” papar Bhima.
Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengungkapkan, dengan dibukanya lockdown di negara-negara tujuan ekspor, diharapkan pada bulan-bulan berikutnya neraca perdagangan masih bisa surplus. “Tentu harus diimbangi pengendalian impor yang baik. Impor barang modal, bahan baku dan penolong masih baik, tetapi impor barang konsumtif dikendalikan dengan ketat,” kata Ryan.
Lihat Juga :