Butuh Masa Transisi, Pengusaha Mengingatkan Kebijakan Zero Odol Bisa Menggerus Daya Saing

Kamis, 23 Februari 2023 - 14:39 WIB
Jadi, kata Kepala Pusat Kajian Kebijakan dan Sistem Transportasi dan Logistik Institut Transportasi dan Logistik Trisakti ini, kebijakan Zero ODOL ini lebih baik dihentikan dulu.

"Berhenti dulu, ditata dulu programnya. Setelah tertata terkoordinasikan dengan baik. Jadi, pemerintah harus bisa mengusahakan bagaimana agar kebijakan ini dapat dikondisikan supaya orang melanggar itu tidak usah harus ditindak dulu baru sadar, tapi dia sendiri merasa bahwa ODOL itu merugikan dari sisi hitung-hitungan bisnis," tukasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Edy Suyanto mengatakan, kebijakan zero ODOL akan mempengaruhi daya saing industri dalam negeri, termasuk keramik. Dia menjelaskan, keramik merupakan industri yang menghasilkan produk dengan bobot sangat berat.

Baca Juga: Pengusaha: Ekonomi Bisa Terjun Bebas Kalau Zero ODOL Berlaku di 2023

Diterangkan juga bahwa, daya saing industri keramik sangat dipengaruhi dua hal yakni energi seperti gas dan listrik yang telah mengonsumsi 30% dari total produksi. Dia bersyukur pemerintah telah memberikan insentif biaya gas pada April 2020 lalu yang memberikan bukti multiplier effect bahwa industri keramik mampu pulih kembali dengan cepat di tengah pandemi.

Sayangnya hal tersebut tidak didapati dalam hal biaya logistik. Edy menjelaskan, semua industri yang tergabung dalam ASAKI menghasilkan produk dengan bobot yang sangat berat. Namun kebijakan Zero ODOL bakal membebani industri menyusul meningkatnya ongkos kirim barang produksi yang berpengaruh terhadap harga jual di konsumen.

"Bagaimana kemampuan daya beli masyarakat terhadap rencana kenaikan harga jual produk keramik tersebut, kenaikan harga jual keramik 20 sampai 25 persen jelas juga akan mempengaruhi terhadap harga produk properti yang pada ujungnya ini yang mempengaruhi namanya inflasi," katanya.

Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI), Widodo Santoso memprediksi bahwa 2023-2024 akan menjadi tahun yang sulit karena ekonomi dunia sedang tidak baik sehingga berdampak pada utilisasi pabrik yang akan menurun. Dia mengatakan, kondisi itu nantinya akan bertambah tragis dengan beban akibat zero ODOL.

"Utilisasi turun berarti harga produksi naik. Harga produksi naik ditambah lagi harga distribusi naik maka timbullah kenaikan harga dan akhirnya yang terkena masyarakat," katanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!