CNI Group Dukung Kebijakan Hilirisasi Nikel Presiden Jokowi

Jum'at, 10 Maret 2023 - 21:49 WIB
Derian memaparkan, smelter CNI Group yang sedang dibangun akan menggunakan dua teknologi utama, yaitu teknologi Rectangular Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dengan kapasitas 4×72 MVA, terdiri dari 4 lajur produksi untuk mengolah bijih nikel saprolite. Sementara itu teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk mengolah bijih nikel limonite (bijih nikel kadar lebih rendah) untuk menghasil baterai kendaraan listrik.

“Smelter RKEF untuk lajur pertama kami targetkan selesai 2024, sedangkan HPAL kami targetkan selesai dan mulai produksi pada 2026,” jelas Derian.

(Baca juga:Pemerintah Apresiasi Kontribusi Pajak Perusahaan Tambang Nikel CNI Group)

Derian merincikan, total kapasitas produksi dari smelter nikel RKEF ini nantinya dapat menghasilkan sekitar 252.000 ton ferronickel (FeNi) dengan kandungan 22% nickel atau sejita 55.600 ton nickel di dalamnya. Sedangkan dari pengolahan HPAL akan memiliki kapasitas produksi sebesar 308.000 ton dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) yang di dalamnya terkandung 120.000 ton logam nikel dan lebih dari 12.500 ton cobalt.

Produk FeNi ini dapat diolah lebih Ianjut untuk memproduksi stainless steel dan produk turunannya (consuming needs). Sementara MHP merupakan produk antara untuk diolah lebih lanjut menjadi nickel sulphate yang merupakan bahan baku utama prekursor baterai (material katoda).

CNI saat ini sedang melakukan studi kelayakan untuk mengolah lebih lanjut FeNi menjadi nickel matte dan nickel sulphate, serta mengolah lebih kanjut MHP menjadi nickel sulphate. “Selanjutnya nickel sulphate dari 2 jalur produksi tersebut akan diolah menjadi prekursor yang merupakan bahan baku utama baterai (material katoda dan anoda baterai),” urainya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!